POJOKSATU.id - Dunia kembali dipenuhi ketegangan. Perang Rusia-Ukraina belum berakhir, konflik di Gaza terus memakan korban, sementara ketegangan antara Israel dan Iran beberapa waktu terakhir memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas di Timur Tengah.
Di sisi lain, rivalitas Amerika Serikat, China, dan Rusia semakin meluas, tidak hanya dalam bidang militer, tetapi juga perdagangan, teknologi, hingga perebutan pengaruh politik di berbagai kawasan.
Banyak pengamat menilai dunia perlahan kembali bergerak menuju pola yang mengingatkan pada era Perang Dingin.
Negara-negara besar membangun aliansi baru, memperkuat kerja sama pertahanan, dan berusaha memperluas pengaruhnya.
Di tengah situasi itu, negara-negara berkembang kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama seperti puluhan tahun lalu: apakah harus berpihak kepada salah satu kekuatan besar, atau tetap berdiri di atas kepentingannya sendiri?
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal baru bagi Indonesia. Tujuh dekade silam, ketika republik ini masih sangat muda, para pendiri bangsa pernah menghadapi situasi yang nyaris serupa.
Baca Juga: Keluhan Bunga Mahal Buat Warga Kapok, DPRD Desak Pemkot Bandung 'Selamatkan' BPR Bank Bandung
Saat itu dunia juga sedang terbelah menjadi dua kutub besar, sementara banyak negara di Asia dan Afrika baru saja merdeka atau masih berjuang melepaskan diri dari penjajahan.
Di tengah situasi itulah, Presiden Soekarno memilih jalan yang berbeda. Ia tidak ingin Indonesia maupun bangsa-bangsa yang baru lahir menjadi sekadar pion dalam perebutan pengaruh negara-negara adidaya.
Dari pemikiran itulah kemudian lahir sebuah gagasan besar yang kelak dikenal dunia sebagai Gerakan Non-Blok.
Perjalanan menuju lahirnya gerakan tersebut dimulai dari Bandung.
Dunia yang Terbelah Setelah Perang Dunia
Berakhirnya Perang Dunia II pada 1945 ternyata tidak langsung membawa dunia menuju kedamaian.
Sebaliknya, lahir persaingan baru antara dua negara adidaya yang memiliki ideologi berbeda.
Amerika Serikat memimpin Blok Barat dengan sistem liberal-kapitalis, sementara Uni Soviet memimpin Blok Timur yang berhaluan komunis.
Persaingan keduanya meluas ke berbagai belahan dunia. Hampir setiap konflik regional tidak pernah benar-benar berdiri sendiri karena selalu berkaitan dengan kepentingan salah satu blok besar.
Pada saat yang sama, banyak negara di Asia dan Afrika mulai memperoleh kemerdekaan setelah puluhan bahkan ratusan tahun berada di bawah penjajahan.
Indonesia termasuk salah satunya. Bagi Soekarno, pengalaman mempertahankan kemerdekaan mengajarkan satu pelajaran penting.
Kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan dengan senjata, tetapi juga melalui diplomasi.
Baca Juga: Sempat Menuai Sorotan, Pagar Tinggi di Depan Mal Kota Kasablanka Resmi Dibongkar
Indonesia pernah merasakan betapa sulitnya memperoleh pengakuan internasional setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Dukungan dari negara-negara lain menjadi faktor yang sangat menentukan keberlangsungan republik yang baru berdiri.
Pengalaman itu membentuk cara pandang Soekarno terhadap hubungan internasional.
Ia tidak ingin bangsa-bangsa yang baru merdeka kembali kehilangan kebebasannya karena terjebak dalam persaingan negara-negara besar.
Bandung Menjadi Harapan Dunia Berkembang
Gagasan tersebut mulai diwujudkan ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955.
Sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika hadir dalam pertemuan bersejarah itu.
Mereka datang membawa pengalaman yang hampir sama, yakni pernah hidup di bawah kolonialisme dan sama-sama ingin menentukan masa depannya sendiri.
Dalam pidato pembukaan, Soekarno menyerukan agar bangsa-bangsa Asia dan Afrika bersatu melawan segala bentuk penjajahan serta tidak lagi menjadi objek politik internasional.
Baca Juga: Peluang Lolos Lebih Besar, Ini 3 Kementerian dan Lembaga Sepi Peminat untuk CPNS 2026
Konferensi itu kemudian melahirkan Dasasila Bandung, seperangkat prinsip yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan negara, penyelesaian sengketa secara damai, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan penolakan terhadap kolonialisme dalam segala bentuknya.
Bagi dunia berkembang, Bandung menjadi simbol lahirnya kepercayaan diri baru.
Untuk pertama kalinya, negara-negara yang selama ini dipandang sebagai "pinggiran dunia" menunjukkan bahwa mereka mampu berbicara dengan suara sendiri.
Dari Bandung Menuju Gerakan Non-Blok
Semangat yang lahir di Bandung ternyata tidak berhenti setelah konferensi berakhir.
Baca Juga: Deretan Peringatan Penting Bulan Agustus 2026: Dari Hari Pramuka Hingga Kemerdekaan RI
Soekarno bersama Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah kemudian melanjutkan gagasan tersebut dalam bentuk yang lebih konkret.
Mereka memiliki keyakinan yang sama bahwa negara-negara berkembang membutuhkan ruang untuk menentukan kebijakan luar negerinya sendiri tanpa harus tunduk kepada salah satu blok besar.
Gagasan itu akhirnya terwujud melalui Konferensi Tingkat Tinggi pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1 September 1961. Pertemuan tersebut menandai lahirnya Gerakan Non-Blok.
Pada awal pembentukannya, gerakan ini diikuti sekitar dua puluh lima negara. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggotanya terus bertambah hingga kini mencapai lebih dari 120 negara.
Bukan Sekadar Bersikap Netral
Banyak orang mengira Gerakan Non-Blok hanya berarti tidak berpihak kepada siapa pun. Padahal, maknanya jauh lebih luas.
Gerakan ini bukan mengajarkan sikap pasif atau tidak peduli terhadap persoalan dunia.
Sebaliknya, negara-negara anggotanya tetap aktif memperjuangkan perdamaian, menolak kolonialisme, mendukung hak setiap bangsa untuk merdeka, dan mendorong penyelesaian konflik melalui dialog.
Indonesia sendiri kemudian menjadikan semangat tersebut sebagai dasar politik luar negeri bebas dan aktif.
Bebas berarti tidak mengikatkan diri kepada blok mana pun, sedangkan aktif berarti tetap berperan dalam menciptakan perdamaian dunia.
Warisan yang Masih Relevan
Lebih dari enam puluh tahun telah berlalu sejak Gerakan Non-Blok lahir.
Uni Soviet telah runtuh, Perang Dingin berakhir, dan peta politik dunia berubah.
Namun, rivalitas antarkekuatan besar ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kini bentuknya mungkin berbeda.
Baca Juga: SAR Belum Tahu Posisi 41 Korban Hilang KMP Mutiara Sentosa 2, di Laut atau di Dalam Kapal
Persaingan tidak lagi hanya soal ideologi, tetapi juga teknologi, energi, perdagangan, kecerdasan buatan, jalur pelayaran, hingga pengaruh geopolitik di berbagai kawasan.
Di tengah perubahan tersebut, semangat yang pernah lahir di Bandung justru terasa kembali menemukan relevansinya.
Indonesia memiliki warisan sejarah sebagai salah satu penggagas Gerakan Non-Blok sekaligus pelopor diplomasi bebas aktif.
Warisan itu memberi posisi yang unik, bukan untuk memusuhi salah satu pihak, melainkan menghadirkan ruang dialog ketika dunia semakin dipenuhi polarisasi.
Baca Juga: Klaim Tunjangan Guru Kemenag Naik 700% Menag Tuai Perdebatan dan Klarifikasi dari Netizen.
Sejarah memang tidak pernah berulang dengan cara yang sama. Namun, sering kali ia menghadirkan situasi yang mengingatkan manusia pada pelajaran lama.
Ketika dunia kembali terbelah oleh rivalitas kekuatan besar, kisah lahirnya Gerakan Non-Blok menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah menunjukkan kepada dunia bahwa perdamaian dapat diperjuangkan bukan dengan memilih salah satu kubu, melainkan dengan menjaga kemerdekaan sikap dan keberanian berdiri di atas kepentingan bersama umat manusia. ***

