POJOKSATU.id - Nama Hoegeng Iman Santoso kembali terlintas dalam ingatan setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menganugerahkan Hoegeng Awards 2026 kepada lima polisi teladan dari berbagai daerah di Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan dalam acara yang digelar di Gedung Tribrata, Jakarta Selatan, pada Jumat (31/7/2026).
Lima penerima penghargaan dipilih oleh dewan pakar yang terdiri atas Ketua Komisi III DPR Habiburokhman, mantan Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, Komisioner Kompolnas Gufron Mabruri, dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid.
Hoegeng Awards diberikan dalam lima kategori, yakni Polisi Berintegritas, Polisi Berdedikasi, Polisi Inovatif, Polisi Pelindung Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan, serta Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.
Di balik penghargaan tersebut, tersimpan kisah seorang Kapolri yang hingga kini dikenang sebagai sosok tiada duanya dalam kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian menegakkan hukum,.
Lahir di Pekalongan, Tumbuh dengan Semangat Belajar
Hoegeng Iman Santoso lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921.
Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang tekun menempuh pendidikan. Pada usia enam tahun, Hoegeng mulai bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1934 dan kemudian masuk Algemeene Middelbare School (AMS) Westers Klasiek pada 1937.
Keinginannya untuk mendalami ilmu hukum membawanya melanjutkan pendidikan di Rechts Hoge School Batavia pada 1940, salah satu sekolah tinggi hukum bergengsi pada masa Hindia Belanda.
Pengalaman itu menjadi bekal penting yang membentuk cara pandangnya terhadap hukum dan keadilan.
Meniti Karier Sejak Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia, Hoegeng mengikuti berbagai pendidikan kemiliteran dan kepolisian yang diselenggarakan pemerintah pendudukan.
Pada 1942 ia mengikuti latihan kemiliteran Nippon, kemudian melanjutkan pendidikan di Koto Keisatsu Ka I-Kai pada 1943.
Setelah Indonesia merdeka, karier Hoegeng di kepolisian berkembang cukup pesat.
Pada 1950, ia dikirim mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, Amerika Serikat.
Baca Juga: Sempat Menuai Sorotan, Pagar Tinggi di Depan Mal Kota Kasablanka Resmi Dibongkar
Pengalaman internasional tersebut memperluas wawasannya mengenai sistem kepolisian modern.
Sepulang dari Amerika Serikat, Hoegeng dipercaya memimpin berbagai jabatan strategis. Ia pernah menjadi Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya pada 1952, Kepala Bagian Reserse Kriminal Kantor Polisi Sumatera Utara di Medan pada 1956, mengikuti pendidikan Brimob pada 1959, hingga dipercaya menjadi Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara pada 1960.
Pada tahun yang sama, Hoegeng juga pernah menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi.
Baca Juga: Kisah Hasan, Marshal SPBU Pertamina yang Jadi Garda Terdepan Menjaga Kenyamanan Pelanggan
Kariernya terus berlanjut hingga dipercaya menjadi Menteri Iuran Negara pada 1965 dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada 1966.
Dipercaya Memimpin Kepolisian Republik Indonesia
Puncak karier Hoegeng datang ketika Presiden Soeharto mengangkatnya sebagai Kepala Kepolisian Negara pada 5 Mei 1968.
Saat memimpin Polri, Hoegeng tidak hanya dikenal karena ketegasannya, tetapi juga karena berbagai pembenahan yang dilakukannya di tubuh kepolisian.
Salah satu langkah penting yang diambil adalah melakukan penataan struktur organisasi Mabes Polri agar lebih dinamis dan komunikatif.
Pada masa kepemimpinannya pula terjadi perubahan penting dalam kelembagaan Polri.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian Republik Indonesia diubah menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Kapolri.
Seiring perubahan tersebut, Markas Besar Angkatan Kepolisian juga resmi berganti nama menjadi Markas Besar Kepolisian.
Perubahan itu diikuti penyesuaian berbagai struktur organisasi, termasuk perubahan sebutan Panglima Daerah Kepolisian menjadi Kepala Daerah Kepolisian serta perubahan nama Seskoak menjadi Seskopol.
Baca Juga: Menyambut Bulan Kemerdekaan, Inilah Rincian Tanggal Merah dan Hari Besar di Bulan Agustus 2026
Pada masa kepemimpinan Hoegeng pula, peran Polri di tingkat internasional semakin aktif.
Salah satu buktinya adalah dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta sebagai bagian dari International Criminal Police Organization (ICPO).
Menolak Menyalahgunakan Jabatan
Namun, yang membuat nama Hoegeng terus dikenang bukan hanya berbagai kebijakan yang diambilnya.
Ia justru lebih dikenal karena integritas yang nyaris tak terbantahkan.
Baca Juga: Sebanyak 16.595 Peserta Lolos Seleksi Program Gemini Academy Batch 2 di Berbagai Wilayah Indonesia
Hoegeng dikenal sangat berhati-hati menggunakan fasilitas negara. Ia menolak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi maupun keluarga.
Kesederhanaannya juga menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.
Bahkan, ketika melihat kemacetan lalu lintas di jalan raya, Hoegeng tak segan turun langsung membantu mengatur arus kendaraan tanpa memedulikan statusnya sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara.
Baginya, menjadi polisi berarti melayani masyarakat, bukan dilayani.
Prinsip hidup itulah yang membuat namanya tetap dihormati, bahkan puluhan tahun setelah ia tidak lagi menjabat sebagai Kapolri.
Mengakhiri Pengabdian dengan Penuh Kehormatan
Hoegeng mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971.
Selama mengabdi kepada negara, ia menerima berbagai tanda kehormatan, di antaranya Bintang Gerilya, Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara I, Bintang Kartika Eka Paksi I, Bintang Jalasena I, dan Bintang Swa Buana Paksa I.
Ia juga dianugerahi sejumlah Satyalancana sebagai penghargaan atas pengabdian panjangnya kepada bangsa dan negara.
Pada 13 Mei 2004, Hoegeng menjalani perawatan intensif akibat stroke, penyumbatan pembuluh darah jantung, dan pendarahan lambung.
Setelah menjalani perawatan selama dua bulan, Hoegeng Iman Santoso meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, pada 14 Juli 2004 pukul 00.30 WIB.
Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Giritama, Desa Tonjo, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Warisan yang Tetap Hidup
Meski telah berpulang lebih dari dua dekade lalu, nama Hoegeng Iman Santoso tetap hidup dalam ingatan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: APPBI Luruskan Fenomena Pagar Mal, Anggota Komcad Perkuat Kesiapsiagaan Objek Vital Sekitar Monas?
Kejujuran, kesederhanaan, dan keberaniannya dalam menegakkan hukum membuatnya dikenang sebagai salah satu Kapolri paling berintegritas dalam sejarah Polri.
Karena itulah, namanya kemudian diabadikan menjadi Hoegeng Awards, sebuah penghargaan yang diberikan kepada polisi-polisi teladan yang menunjukkan integritas, dedikasi, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Penghargaan tersebut bukan sekadar mengenang sosok Hoegeng, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian dibangun melalui keteladanan.
Seperti yang ditunjukkan Hoegeng sepanjang hidupnya, seorang polisi tidak hanya diukur dari pangkat dan jabatannya, melainkan dari kejujuran, keberanian, dan kesediaannya melayani masyarakat dengan hati nurani. ***

