POJOKSATU.ID - Pagar tinggi yang sempat menjadi perbincangan hangat di depan Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, kini dilaporkan telah dibongkar.

Pembongkaran fasilitas pembatas tersebut dilakukan setelah pemasangannya menuai perhatian luas dari masyarakat umum.

Selain itu, penataan pagar tersebut juga mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja, memberikan penjelasannya terkait keberadaan pembatas yang sempat berdiri di kawasan pusat perbelanjaan tersebut.

Baca Juga: Dukung Pembangunan Nasional, Gapensi Apresiasi Komitmen Kebijakan Infrastruktur Presiden Prabowo

Beliau menegaskan bahwa keputusan pemasangan pagar merupakan inisiatif dari manajemen lokal di lapangan semata.

Pihaknya memastikan bahwa langkah tersebut bukanlah bagian dari kebijakan resmi pemegang saham ataupun kantor pusat.

Atas dasar pertimbangan tersebut, pihak pimpinan memberikan kepastian bahwa seluruh konstruksi pembatas tersebut segera dicopot dari lokasi.

Berdasarkan hasil pantauan langsung di lokasi pada Minggu, 2 Agustus, pagar setinggi sekitar 2,5 meter tersebut sudah tidak terlihat lagi membentang.

Baca Juga: Deretan Peringatan Penting Bulan Agustus 2026: Dari Hari Pramuka Hingga Kemerdekaan RI

Pagar yang sebelumnya terpasang sepanjang kurang lebih 100 meter di area depan mal kini telah bersih dari kawasan pedestrian.

Saat ini, area depan Kokas dan akses bagi pejalan kaki telah kembali terbuka secara bebas seperti kondisi semula.

Meskipun demikian, di sepanjang lokasi pembongkaran masih terlihat sisa-sisa peninggalan berupa bekas fondasi dari pemasangan pagar.

Sebelum langkah pencopotan ini dilakukan, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sempat memberikan penilaian kritis terhadap keberadaan pagar tersebut.

Beliau menilai bahwa pemasangan pembatas tinggi di kawasan perkantoran maupun pusat perbelanjaan dapat memicu stigma negatif publik.

Keberadaan batas fisik yang berlebihan dinilai dapat menimbulkan persepsi seolah kondisi keamanan Jakarta sedang berada dalam status tidak baik.

Oleh karena itu, beliau terus mendorong agar ruang-ruang publik di seluruh wilayah Jakarta dapat dibuat lebih inklusif, terbuka, dan ramah bagi para pejalan kaki.***