POJOKSATU.id - Mencari pasangan hidup tentu bukan perkara memilih seseorang yang terlihat sempurna.

Dalam kehidupan rumah tangga, justru ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan, mulai dari ketakwaan, akhlak, kematangan emosi hingga kemampuannya bertanggung jawab terhadap keluarga.

Sebab, perjalanan pernikahan tidak selamanya diisi dengan tawa dan suasana romantis.

Baca Juga: Lima Miliar

Ada masa ketika pasangan harus menghadapi masalah, perbedaan pendapat, persoalan ekonomi, hingga berbagai ujian kehidupan.

Pada kondisi seperti itu, sosok suami yang bisa menjadi tempat bersandar tentu sangat berarti.

Dalam Islam, gambaran suami idaman juga tidak hanya dilihat dari kemampuan mencari nafkah.

Seorang suami memiliki tanggung jawab untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sekaligus memperlakukan istri dan anak dengan penuh kasih sayang.

Baca Juga: Freeport Buka Lowongan Magang dan Fresh Graduate 2026, Ini Jurusan yang Dibutuhkan, Deadline 4 September

Lantas, seperti apa ciri suami yang baik untuk dijadikan pendamping hidup?

1. Ketakwaannya Menjadi Dasar dalam Kehidupan
Hal pertama yang penting adalah agama.

Suami yang baik menjadikan ajaran Islam sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan.

Ia menjaga ibadah wajib, menjauhi larangan agama, memiliki keyakinan yang teguh, serta berusaha memahami tauhid dengan baik.

Baca Juga: Baru 43,9 Persen SMA Daftar TKA 2026, Kemendikdasmen Ingatkan Sekolah Jangan Menunda

Ketakwaan tersebut juga terlihat dari cara mencari nafkah.

Ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga melalui penghasilan yang halal dan tidak menafkahi keluarganya dari sesuatu yang dilarang agama.

Namun, kesalehan seorang suami tidak berhenti pada hubungan dengan Allah.

Islam juga mengatur bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

Karena itu, suami yang baik semestinya memiliki kepedulian terhadap keluarga sekaligus lingkungan di sekitarnya.

Baca Juga: Bantuan Pesantren Kemenag 2026 Dibuka, Ada Dana Rp100 Juta, Cek Cara Pengajuan dan Link Resmi

Ia menghormati istri, menyayangi anak, menjaga hubungan dengan orang tua dan mertua, serta menghindari perilaku kasar.

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

Artinya, “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut.” (QS An-Nisa’, [4]: 19].

2. Tidak Hanya Bisa Menafkahi, tetapi Juga Bisa Mendidik Anak
Menjadi ayah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan materi.

Seorang suami ideal juga perlu memiliki wawasan parenting agar memahami cara merawat, mendidik, membimbing, dan berkomunikasi dengan anak.

Baca Juga: Ketentuan OMI Kabupaten dan Kota Kemenag 2026, Jumlah Soal, Sistem Penilaian, serta Jadwal Lengkap

Pemahaman tersebut mencakup perkembangan fisik, emosional, intelektual, hingga spiritual anak.

Dengan wawasan parenting yang baik, seorang ayah dapat menjadi pendidik sekaligus teman bagi anak-anaknya.

Ia tidak sekadar menyuruh atau melarang, tetapi memahami bagaimana memberikan nasihat secara tepat.

Salah satu teladan yang dapat diperhatikan adalah cara Luqman memberikan nasihat kepada anaknya dengan kelembutan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Baca Juga: Pendaftaran Magang Nasional 2026 di Kemendikdasmen Buka 1.200 Posisi, Cek Syarat dan Jadwalnya

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ۝١٣

Artinya: (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Dari sini terlihat bahwa pendidikan dalam keluarga juga membutuhkan komunikasi yang penuh kasih, bukan hanya perintah dan tuntutan.

3. Agamanya Baik, Akhlaknya Juga Baik
Seseorang bisa saja terlihat religius, tetapi kehidupan rumah tangga membutuhkan lebih dari sekadar penampilan keagamaan.

Akhlak menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga: Persaingan Sekolah Kedinasan 2026 Ketat, Formasi dan Submit Terpaut Jauh, Cek Link Hasil Seleksi Administrasi

Suami yang baik mampu berbicara dengan lembut, bersikap sabar, menghargai pasangan, serta tidak mudah merendahkan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأنْكِحُوْهُ إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

Artinya, “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas calon pasangan tidak cukup dinilai dari satu sisi saja. Agama dan akhlak perlu berjalan beriringan.

Baca Juga: Ketum FWJI: Ayoo Kita Bangun Media Center ATR/BPN Jakarta Utara yang Profesional

4. Bisa Mengendalikan Emosi Saat Rumah Tangga Diuji

Nah, ini juga menjadi bagian yang sangat penting.

Kehidupan rumah tangga pasti memiliki perbedaan.

Karena itu, calon suami perlu dilihat dari bagaimana ia menghadapi masalah dan mengendalikan emosinya.

Suami yang matang tidak menjadikan amarah sebagai alasan untuk menyakiti pasangan.

Baca Juga: Jember Diterjang 5 Kali Gempa Sejak Awal 2026, Kepala BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Ketika terjadi konflik, ia berusaha berpikir jernih, mendengarkan, berdiskusi, dan mencari jalan keluar.

Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali mengisahkan nasihat Imam Hasan al-Bashri mengenai seorang laki-laki yang meminta pertimbangan tentang calon suami bagi putrinya.

قَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ قَدْ خَطَبَ ابْنَتِيْ جَمَاعَةٌ فَمِمَّنْ أُزَوِّجُهَا؟ قَالَ مِمَّنْ يَتَّقِي اللهَ فَإِنْ أَحَبَّهَا أَكْرَمَهَا وَإِنْ أَبْغَضَهَا لَمْ يَظْلِمْهَا

Artinya, “Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan al-Bashri, ‘Banyak orang telah melamar putriku, maka kepada siapa aku harus menikahinya?’ Ia menjawab: Nikahkanlah dengan seseorang yang bertakwa kepada Allah. Jika ia mencintainya, ia akan memuliakannya. Jika ia membencinya, ia tidak akan menzaliminya.” (Ihya Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma’rifah, t.t], jilid II, halaman 41).

Baca Juga: Digitalisasi Bansos Segera Berlaku, Dispendukcapil Jember Kebut Aktivasi IKD Ratusan Ribu Warga

Ketakwaan dalam nasihat tersebut terlihat nyata ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Ketika sedang marah atau bahkan tidak menyukai sesuatu dari pasangan, ia tetap mampu menjaga diri agar tidak melakukan kezaliman.

Itulah bentuk kematangan emosi yang sangat dibutuhkan dalam rumah tangga.

5. Memikirkan Masa Depan Keluarga
Suami idaman juga memiliki pandangan keluarga maslahat.

Artinya, ia tidak hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tetapi juga mempertimbangkan masa depan istri dan anak-anaknya.

Baca Juga: Kelola Cash Flow Perusahaan dengan Rapi dan Efisien Lewat myBCA Bisnis dari Ocean by BCA

Pendidikan, ekonomi, kesehatan, keamanan, hingga perkembangan karakter anak menjadi bagian yang perlu dipikirkan bersama.

Allah berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً

Artinya, “Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).” (QS An-Nisa’ [4]: 9).

Penjelasan Imam al-Qurthubi mengenai ayat tersebut juga menunjukkan pentingnya memperhatikan hak keluarga dan ahli waris.

Baca Juga: Polres Purwakarta Bongkar Kasus Pembegalan di Cikumpay, Empat Pelaku Diamankan

Karena itu, kesalehan tidak semestinya membuat seseorang melupakan tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan.

Suami yang berpikir jauh ke depan akan berusaha menciptakan kehidupan keluarga yang lebih aman, baik dari sisi pendidikan maupun finansial.

6. Menganggap Istri sebagai Mitra, Bukan Bawahan
Rumah tangga yang sehat membutuhkan hubungan saling menghargai.

Suami idaman tidak menjadikan status sebagai kepala keluarga sebagai alasan untuk merendahkan istri.

Baca Juga: Lewat Prakarsa Bagja Juara, Pertamina Patra Niaga Bangun Ekonomi Sirkular di Karawang

Ia tetap menempatkan istrinya sebagai pasangan dan mitra dalam menjalani kehidupan.

Sikap tersebut membuat suami tidak membatasi potensi istrinya atau menuntut kepatuhan secara membabi buta.

Sebaliknya, ia memberikan ruang kepada istri untuk berkembang dan mengejar hal-hal baik yang menjadi cita-citanya.

Al-Ghazali juga menyebut sejumlah adab suami terhadap istri, di antaranya berinteraksi dengan baik, bertutur kata lembut, menunjukkan kasih sayang, tidak terlalu sering mempermasalahkan kesalahan, memaafkan ketika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak berdebat, memberikan kebutuhan secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, memberikan janji yang baik, serta tetap menunjukkan semangat terhadap istri. (al-Adabu fid Din, halaman 18).

Baca Juga: Lewat Prakarsa Bagja Juara, Pertamina Patra Niaga Bangun Ekonomi Sirkular di Karawang

Dengan begitu, menjadi pemimpin keluarga bukan berarti memiliki kekuasaan tanpa batas.

Justru ada tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga martabat dan kenyamanan orang-orang yang dipimpinnya.

7. Paham Mengelola Keuangan Rumah Tangga
Kemampuan mengelola uang juga menjadi salah satu bekal penting dalam membangun keluarga.

Suami tentu perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Tetapi, bekerja keras saja belum cukup jika tidak dibarengi kemampuan mengatur keuangan.

Baca Juga: Sigit Muharam Resmi Jabat Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Bekasi, CEO Alexa Group Beri Apresiasi

Ia perlu memahami prioritas pengeluaran, menyusun anggaran, menyiapkan tabungan, serta merencanakan kebutuhan keluarga dalam jangka panjang.

Yang tidak kalah penting, urusan finansial sebaiknya dibicarakan bersama pasangan.

Anggaran rumah tangga, tabungan, investasi, hingga pembelian barang bernilai besar idealnya menjadi bahan komunikasi antara suami dan istri.

Dengan keterbukaan tersebut, keputusan keuangan tidak dibuat secara sepihak.

Pengelolaan finansial yang baik dapat membantu keluarga mencapai kehidupan yang lebih stabil dan maslahat.

Baca Juga: Ketakutan Tinggal di Dalam Rumah! Wamen yang Turun Langsung Bongkar Kondisi Psikologis Warga NTT

Suami Idaman Tidak Harus Sempurna
Dari berbagai kriteria tersebut, terlihat bahwa suami idaman dalam Islam bukanlah laki-laki yang tidak pernah salah.

Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.

Laki-laki yang memiliki kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, menjaga ketakwaan, memperbaiki akhlak, mengendalikan emosi, serta menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga.

Sebab, pernikahan bukan perjalanan mencari manusia tanpa kekurangan.

Baca Juga: Polres Purwakarta Bongkar Kasus Pembegalan di Cikumpay, Empat Pelaku Diamankan

Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama belajar menjadi lebih baik.

Ketika agama menjadi fondasi, akhlak menjadi pegangan, komunikasi dibangun dengan sehat, dan tanggung jawab dijalankan bersama, harapan membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah pun memiliki landasan yang lebih kuat.***