POJOKSATU.ID - Dampak destruktif gempa bumi di Nusa Tenggara Timur ternyata tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam.

Banyak warga sekolah, mulai dari murid hingga guru, dilaporkan mengalami trauma berat akibat guncangan gempa yang terus berulang.

Temuan mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat meninjau langsung kondisi pengungsi.

Banyak warga yang rumahnya secara fisik masih utuh justru memilih tetap bertahan di luar ruangan atau tenda pengungsian.

Baca Juga: Aturan Baru Diluncurkan! Sekolah Terdampak Bencana di Flores Segera Dapat Suntikan Dana Segar Bikin Bantuan Cair Lebih Cepat

Rasa takut yang berlebihan akan potensi gempa susulan membuat mereka belum berani kembali beraktivitas secara normal di dalam bangunan.

Menanggapi kondisi mental korban yang terguncang, pemerintah menetapkan pemulihan psikologis sebagai prioritas penanganan utama.

Wamen memberikan pesan penguatan secara langsung kepada para pengajar dan orang tua agar tetap tenang dan tabah menghadapi musibah.

Dukungan kesehatan mental mulai disalurkan secara intensif melalu program pendampingan psikososial di titik-titik pengungsian.

Baca Juga: Kabar Baik Buat Lansia dan Disabilitas! Program Bantuan Makanan Segera Ditempelkan ke MBG

Langkah ini dijalankan melalui kerja sama strategis antara pemerintah dengan Himpunan Psikologi dan organisasi kemanusiaan seperti MDMC.

Mitra dari perguruan tinggi juga diterjunkan untuk memberikan terapi pemulihan trauma bagi anak-anak terdampak.

Dalam kunjungan tersebut, pihak kementerian turut menyampaikan rasa duka cita yang amat mendalam bagi para korban jiwa.

Duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan setelah dilaporkan adanya siswa dan guru yang menjadi korban meninggal dunia dalam musibah ini.

Puluhan ribu orang yang kini kehilangan tempat tinggal menjadi perhatian bersama untuk segera mendapatkan pemulihan secara menyeluruh.

Penanganan trauma yang tepat diharapkan mampu mengembalikan rasa aman dan semangat belajar anak-anak di Flores.***