POJOKSATU.id - Program Guru Pejuang Digital dan Program Guru Penggerak kini sama-sama menjadi sorotan.
Keduanya dilabeli sebagai program unggulan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Namun di kalangan guru, muncul pertanyaan yang semakin sering dibahas.
Apa sebenarnya perbedaan GPD dan PGP dari sisi manfaat, beban, serta dampaknya terhadap karier guru.
Perdebatan ini tidak muncul tanpa alasan.
Baca Juga: Rekrutmen PPPK Disorot DPR RI, Pemerintah Diminta Susun Regulasi yang Jelas dan Adil
Pengalaman guru menjalani berbagai program sebelumnya membuat mereka lebih kritis.
Guru tidak lagi hanya melihat nama besar program, tetapi menimbang dampak nyatanya terhadap pekerjaan sehari-hari dan masa depan profesional mereka.
Sama-Sama Unggulan, Tujuan Besar yang Serupa
Baik GPD maupun PGP memiliki tujuan besar yang relatif sama, yakni meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat peran guru sebagai agen perubahan.
Baca Juga: Banjir Bandang Susulan Kembali Mengamuk di Padang, 8 Warga Terjebak Arus Deras
Keduanya hadir sebagai jawaban atas tantangan pendidikan yang terus berkembang.
PGP dirancang untuk melahirkan pemimpin pembelajaran.
Guru Penggerak diharapkan mampu membawa perubahan budaya belajar di sekolah, menjadi motor penggerak komunitas guru, serta berkontribusi dalam pengambilan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
Sementara itu, GPD difokuskan pada percepatan transformasi digital.
Guru Pejuang Digital diproyeksikan menjadi pionir pemanfaatan teknologi pembelajaran dan penguatan ekosistem digital sekolah.
Di atas kertas, keduanya tampak saling melengkapi.
Namun di lapangan, guru mulai menghitung untung dan ruginya.
Manfaat Program, Pengembangan Diri dan Pengakuan Profesional
Dari sisi manfaat, PGP dinilai memberi dampak jangka panjang terhadap pengembangan karier.
Lulusan Guru Penggerak sering dianggap memiliki nilai tambah dalam kepemimpinan pendidikan, bahkan menjadi pertimbangan dalam penugasan tertentu.
Bagi sebagian guru, PGP membuka ruang aktualisasi diri dan jejaring profesional yang lebih luas.
Program ini juga kerap dikaitkan dengan perubahan peran di sekolah, seperti menjadi penggerak komunitas belajar.
Baca Juga: DPR RI Desak Pemerintah Kaji Pengangkatan PPPK Jadi PNS untuk Guru dan Nakes, Simak Lengkapnya
GPD pun menawarkan manfaat yang tak kalah penting.
Di tengah tuntutan digitalisasi, kemampuan teknologi menjadi aset berharga.
Guru yang mengikuti GPD berpeluang meningkatkan kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun guru mencatat, manfaat ini baru terasa jika implementasinya benar-benar mendukung proses mengajar, bukan sekadar memenuhi target program.
Beban Program Jadi Pertimbangan Utama
Jika manfaat menjadi daya tarik, beban program justru menjadi faktor penahan.
Banyak guru yang sudah atau sedang menjalani PGP mengakui bahwa program tersebut menuntut komitmen waktu dan energi yang besar.
Pelatihan intensif, refleksi, proyek perubahan, hingga laporan berlapis sering berjalan beriringan dengan tugas mengajar reguler.
Tidak sedikit guru yang harus mengorbankan waktu pribadi.
Kekhawatiran serupa muncul terhadap GPD.
Pendampingan intensif, target implementasi digital, serta tuntutan adaptasi teknologi dinilai berpotensi menambah beban kerja.
“Nama programnya beda, tapi rasanya beban tetap di guru,” ujar seorang guru SMP.
Ia menilai perbedaan program belum tentu berarti perbedaan beban.
Dampak ke Karier Guru, Nyata atau Sekadar Harapan
Pertanyaan paling krusial bagi guru adalah dampak program terhadap karier.
Guru Penggerak relatif sudah memiliki rekam jejak.
Lulusannya sering mendapat pengakuan lebih dalam pengembangan profesional.
Baca Juga: Tegaskan Transparansi PPPK, DPR Minta Guru Honorer Lama Tidak Disingkirkan Secara Diam-diam
Namun sebagian guru juga menilai dampak tersebut belum selalu sebanding dengan beban yang ditanggung.
Tidak semua lulusan PGP merasakan perubahan signifikan dalam jenjang karier atau kesejahteraan.
Untuk GPD, dampak karier masih menjadi tanda tanya.
Sebagai program baru, guru mempertanyakan kejelasan pengakuan formal, insentif, dan keberlanjutan peran Guru Pejuang Digital.
“Kalau bebannya besar tapi dampak kariernya tidak jelas, guru pasti berpikir ulang,” kata seorang guru SMA.
Dampak ke Kelas dan Hak Siswa
Di tengah diskusi manfaat dan karier, guru mengingatkan satu hal yang sering luput.
Dampak ke siswa.
Beban guru yang berlebihan dikhawatirkan mengurangi kualitas interaksi di kelas.
Waktu untuk mendampingi siswa, membangun karakter, dan memahami kebutuhan belajar bisa tergerus oleh tuntutan program.
Baca Juga: Heboh! Jenazah Ikut ‘Bangkit’ dari Kuburan Dibawa Banjir, Data Korban Akhirnya Dikoreksi BNPB
Guru menegaskan, program apa pun seharusnya memperkuat peran guru di kelas, bukan sebaliknya.
Komentar warganet di media sosial kerap menyoroti hal ini.
“Jangan sampai program bagus membuat anak kehilangan perhatian guru.”
Guru Ingin Kejelasan dan Keseimbangan
Mayoritas guru tidak menolak GPD maupun PGP.
Baca Juga: Hati-hati! Hal Ini Bisa Membuat KIP Kuliah Dicabut Kampus
Mereka memahami pentingnya peningkatan kompetensi.
Namun guru berharap pemerintah lebih transparan soal mekanisme, beban kerja, dan dampak nyata program.
Guru juga berharap ada penyederhanaan tugas lain ketika mereka mengikuti program unggulan.
Tanpa itu, program berisiko menjadi sumber kelelahan, bukan penguatan profesional.
Perlu Sinkronisasi Program
Pengamat pendidikan menilai GPD dan PGP seharusnya tidak diposisikan sebagai pilihan yang saling bersaing.
Keduanya bisa saling melengkapi jika dirancang dengan sinkronisasi yang jelas.
Sekolah dengan tantangan kepemimpinan mungkin lebih membutuhkan Guru Penggerak.
Sekolah yang tertinggal secara teknologi bisa memanfaatkan Guru Pejuang Digital.
Pendekatan kontekstual dinilai lebih realistis daripada kebijakan seragam.
Pendidikan Bukan Sekadar Program Unggulan
Perdebatan GPD vs PGP menunjukkan satu hal penting, pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan label program semata.
Esensi pendidikan tetap terletak pada kualitas interaksi guru dan siswa.
Selama program membantu guru mengajar lebih baik, ia akan diterima.
Namun jika justru menambah beban tanpa dampak nyata, kritik akan terus menguat.
Pada akhirnya, bagi guru, pertanyaan utamanya sederhana.
Program mana yang benar-benar membantu mereka mendidik dengan lebih baik, tanpa mengorbankan siswa dan kesehatan profesional mereka sendiri.***




