POJOKSATU.id - Perdebatan antara Guru Penggerak dan Guru Pejuang Digital kian menguat di ruang publik.

Dua program yang sama-sama digagas untuk memperkuat kualitas pendidikan ini dinilai memiliki tujuan mulia yang serupa, namun menempuh jalan yang berbeda.

Di kalangan guru, perbandingan keduanya bukan lagi sekadar wacana kebijakan.

Baca Juga: Guru Pejuang Digital vs Guru Penggerak Ramai Dibahas! Pro Kontra Tugas Tambahan Menguat, Hak Siswa Diingatkan

Ia telah menjadi refleksi kebutuhan nyata sekolah hari ini.

Pertanyaannya sederhana namun krusial.
Mana yang sebenarnya lebih dibutuhkan sekolah saat ini.

Tujuan Sama, Meningkatkan Mutu Pendidikan

Baik Guru Penggerak maupun Guru Pejuang Digital sama-sama dirancang untuk memperkuat peran guru sebagai agen perubahan.

Baca Juga: BNPB Luruskan Temuan Jasad Berkafan di Lokasi Banjir Sumatra, Korban Meninggal Tembus 1.016 Jiwa

Keduanya bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran, mendorong inovasi, dan menciptakan dampak positif bagi siswa.

Guru Penggerak menitikberatkan pada kepemimpinan pembelajaran, perubahan budaya sekolah, serta penguatan ekosistem pendidikan.

Sementara Guru Pejuang Digital difokuskan pada penguasaan teknologi dan transformasi pembelajaran berbasis digital.

Baca Juga: DPR RI Desak Pemerintah Kaji Pengangkatan PPPK Jadi PNS untuk Guru dan Nakes, Simak Lengkapnya

Secara konsep, keduanya dinilai saling melengkapi.

Namun di lapangan, guru justru merasakan dilema.

Jalan Berbeda, Beban yang Sama

Guru Penggerak dikenal dengan proses seleksi ketat dan pelatihan intensif.

Pesertanya dituntut menjalani refleksi, proyek perubahan, hingga peran sebagai penggerak di sekolah.

Banyak guru mengakui manfaat jangka panjangnya, tetapi juga tak menampik beban waktu dan energi yang besar.

Baca Juga: GPD Angkatan Pertama Resmi Dimulai! 1.450 Guru Terpilih Jalani Pendampingan Intensif, Tapi Mengapa Banyak Guru Justru Mengkritik Program Ini?

Di sisi lain, Guru Pejuang Digital hadir dengan misi percepatan transformasi teknologi.

Pendampingan intensif, target implementasi, serta tuntutan adaptasi digital menjadi bagian dari program ini.

Masalah muncul ketika guru melihat kesamaan pola.

Program baru hadir, tetapi tugas lama tetap menumpuk.

Baca Juga: Pasar Induk Kramat Jati Terbakar Pagi Ini! Api Mengamuk, Bakar Belasan Kios Puluhan Damkar Dikerahkan

“Tujuannya sama-sama baik, tapi bebannya sering kali bertambah,” ujar seorang guru SMA.

Ia menilai perbedaan nama program tidak selalu berarti perbedaan beban di lapangan.

Kebutuhan Sekolah Tidak Seragam

Sekolah di Indonesia memiliki kondisi yang sangat beragam.

Ada sekolah yang masih berjuang dengan dasar literasi dan pembentukan karakter siswa.

Ada pula sekolah yang sudah siap melompat ke pembelajaran digital.

Guru Penggerak dinilai lebih relevan bagi sekolah yang membutuhkan penguatan budaya belajar dan kepemimpinan.

Sementara Guru Pejuang Digital dianggap cocok untuk sekolah yang telah siap secara infrastruktur dan sumber daya.

Persoalannya, kebijakan sering kali bersifat nasional dan seragam.

Guru khawatir pendekatan satu program untuk semua justru tidak menjawab kebutuhan spesifik sekolah.

Hak Siswa Jadi Tolok Ukur Utama

Di tengah perbandingan dua program ini, guru sepakat pada satu hal.

Baca Juga: Kabar Gaji PNS Januari 2026, Golongan III Tetap Sesuai PP 5 Tahun 2024, Ini Rincian Lengkapnya

Hak siswa harus menjadi tolok ukur utama.

Program apa pun yang dijalankan, dampaknya terhadap proses belajar siswa tidak boleh diabaikan.

Beban guru yang berlebihan dikhawatirkan mengurangi kualitas interaksi di kelas.

Waktu untuk mendampingi siswa, memahami karakter mereka, dan membangun kedekatan emosional bisa tergerus oleh tuntutan program.

Baca Juga: Spin-off InfraNexia Resmi Disetujui, TelkomGroup Perkuat Arah Bisnis Infrastruktur Digital

“Sekolah butuh guru yang hadir penuh untuk murid, bukan sekadar memenuhi target kebijakan,” tulis seorang warganet dalam diskusi media sosial.

Guru Tidak Menolak Inovasi

Penting dicatat, kritik guru bukanlah penolakan terhadap perubahan.

Guru menyadari dunia pendidikan harus bergerak mengikuti zaman.

Namun mereka berharap inovasi dijalankan secara realistis dan berkelanjutan.

Guru ingin dilibatkan sejak perencanaan, bukan hanya menjadi pelaksana.

Mereka juga berharap ada penyederhanaan beban kerja ketika program baru diperkenalkan.

Perlu Sinkronisasi Kebijakan

Sejumlah pengamat pendidikan menilai perdebatan ini sebagai sinyal perlunya sinkronisasi kebijakan.

Alih-alih menghadirkan program yang berjalan paralel, pemerintah didorong memastikan integrasi antarprogram.

Baca Juga: Masuk ITB 2026? Siap-Siap, Semua Prodi Wajib Kuliah Artificial Intelligence

Jika Guru Penggerak dan Guru Pejuang Digital dapat saling menguatkan tanpa menambah beban, manfaatnya diyakini akan lebih terasa di sekolah.

Sekolah Butuh Apa Saat Ini

Jawaban atas pertanyaan “mana yang lebih dibutuhkan” tidak bisa digeneralisasi.

Sekolah dengan tantangan karakter dan kepemimpinan mungkin lebih membutuhkan Guru Penggerak.

Sekolah yang tertinggal secara teknologi mungkin lebih membutuhkan Guru Pejuang Digital.

Yang terpenting, kebijakan pendidikan harus fleksibel, kontekstual, dan berpihak pada kebutuhan nyata sekolah.

Pendidikan Lebih dari Sekadar Program

Pada akhirnya, Guru Penggerak dan Guru Pejuang Digital hanyalah alat.

Esensi pendidikan tetap terletak pada hubungan guru dan siswa, proses belajar yang bermakna, serta lingkungan sekolah yang mendukung.

Selama program mampu memperkuat esensi itu, ia akan relevan.

Namun jika justru menjauhkan guru dari murid, kritik akan terus bermunculan.

Perdebatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan soal memilih program mana yang lebih populer.

Melainkan mana yang paling dibutuhkan sekolah dan siswa hari ini.***