POJOKSATU.id - Dunia digital kini sudah menjadi bagian dari keseharian anak.
Gawai bisa membantu belajar, mencari informasi, hingga berkomunikasi. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, ruang digital juga bisa membawa berbagai risiko.
Nah, peran Ayah dan Bunda menjadi penting untuk memastikan anak tetap aman sekaligus nyaman ketika menggunakan teknologi.
Pendampingan pun tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku.
Justru, komunikasi yang hangat dan penuh empati bisa membuat anak lebih terbuka ketika mengalami sesuatu di dunia maya.
Bangun komunikasi penuh empati
Rumah sebaiknya menjadi ruang aman bagi anak untuk bercerita, termasuk mengenai pengalaman mereka saat berselancar di internet.
Orang tua perlu membiasakan diri mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Ketika anak merasa pendapatnya dihargai, mereka akan lebih nyaman menceritakan apa yang dilihat, dilakukan, atau dialaminya saat online.
Komunikasi seperti ini penting agar orang tua tidak hanya mengetahui aktivitas digital anak, tetapi juga memahami bagaimana perasaan mereka terhadap pengalaman tersebut.
Buat perjanjian digital keluarga
Aturan penggunaan gawai akan lebih mudah diterapkan jika disepakati bersama.
Orang tua dan anak dapat membuat perjanjian digital keluarga yang mengatur Screen Time atau durasi penggunaan perangkat, Screen Zone atau area yang bebas gawai, serta Screen Break atau waktu jeda dari layar.
Kesepakatan tersebut sebaiknya dibuat secara jelas dan diterapkan secara konsisten.
Baca Juga: 16 Pindar Punya Kredit Macet di Atas 5 Persen, OJK Minta Perbaikan
Anak juga perlu mendapat perlindungan lebih dalam penggunaan media sosial.
Dalam panduan tersebut disebutkan bahwa anak di bawah 16 tahun tidak memiliki akun pada layanan jejaring dan media sosial.
Manfaatkan fitur parental control
Teknologi juga menyediakan berbagai fitur yang bisa membantu orang tua mengawasi penggunaan perangkat anak.
Fitur parental control dapat digunakan untuk mengatur durasi penggunaan, membatasi akses terhadap konten tertentu, hingga memantau aktivitas dan interaksi anak di ruang digital.
Baca Juga: Tiga Inklusif
Ayah dan Bunda juga dapat memanfaatkan fitur bawaan pada perangkat untuk mengatur waktu layar serta melihat laporan aktivitas anak secara berkala.
Dengan begitu, pengawasan tidak harus dilakukan dengan terus-menerus memegang atau memeriksa gawai anak.
Seimbangkan aktivitas online dan offline
Anak juga membutuhkan waktu untuk menikmati aktivitas di luar layar.
Karena itu, orang tua bisa menerapkan detoks digital agar anak kembali menyadari bahwa banyak momen berharga justru hadir di dunia nyata.
Kegiatan sederhana bersama keluarga dapat menjadi pilihan.
Baca Juga: Kepala Inspektorat Banda Aceh Penyuka Sesama Jenis, Kini Diberhentikan Sementara dari Jabatan
Anak bisa diajak menjalankan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari rutin bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat tanpa gangguan gawai.
Kebiasaan tersebut bukan hanya membantu mengurangi waktu di depan layar, tetapi juga mendukung keseimbangan aktivitas anak sehari-hari.
Peka terhadap perubahan emosi anak
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memperhatikan perubahan perilaku dan emosi anak setelah mereka beraktivitas secara daring.
Baca Juga: Pakta Integritas Sekolah Kedinasan 2026, Link Unduh IPDN dan Kemenhub
Orang tua perlu waspada jika muncul tanda-tanda seperti kecemasan, trauma, atau mati rasa emosional, termasuk ketika anak menjadi kurang peka terhadap kekerasan.
Perubahan tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele, apalagi jika berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu kehidupan anak.
Jika muncul gejala yang serius, orang tua dapat berkonsultasi dengan guru atau tenaga profesional untuk mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Menjadi orang tua di era digital memang punya tantangan tersendiri.
Baca Juga: Buku Panduan SSCASN Sekolah Kedinasan 2026, Link Unduh dan Cara Daftar Lengkap
Anak tidak cukup hanya dilarang menggunakan gawai, tetapi juga perlu dibekali kemampuan dan kebiasaan agar mampu berada di ruang digital secara aman.
Teknologi hanyalah alat, kehadiran Ayah dan Bunda, komunikasi yang hangat, serta kebiasaan baik di rumah tetap menjadi perlindungan paling berarti agar anak tumbuh aman, sehat, dan bijak di tengah derasnya dunia digital.***




