POJOKSATU.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat masih ada 16 penyelenggara pinjaman daring (Pindar) yang memiliki tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 di atas 5 persen hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut sebenarnya sudah menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, terdapat 18 penyelenggara Pindar yang tercatat memiliki TWP90 di atas 5 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, sebagian besar penyelenggara dengan tingkat TWP90 tinggi memiliki karakteristik pendanaan produktif.
Baca Juga: Tiga Inklusif
Berdasarkan hasil pengawasan, sejumlah penyelenggara juga mulai menunjukkan perbaikan kualitas pendanaan.
Kondisi itu terlihat dari penurunan tingkat TWP90 yang dicatat oleh beberapa perusahaan.
Meski jumlahnya berkurang, OJK tetap meminta penyelenggara yang memiliki TWP90 di atas 5 persen untuk segera mengambil langkah perbaikan.
"OJK telah meminta Penyelenggara dengan TWP90 di atas 5% untuk melaksanakan langkah-langkah perbaikan dan terus melakukan pengawasan secara ketat terhadap implementasinya," ujar Agusman dalam keterangan resmi, dikutip Selasa 18 Agustus 2026.
Baca Juga: Kepala Inspektorat Banda Aceh Penyuka Sesama Jenis, Kini Diberhentikan Sementara dari Jabatan
OJK bahkan memiliki kewenangan untuk menetapkan penyelenggara tertentu ke dalam Status Pengawasan Intensif maupun Pengawasan Khusus.
Langkah tersebut dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menurut Agusman, tingginya TWP90 tidak muncul karena satu faktor saja.
Kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya serta kualitas penerapan manajemen risiko oleh penyelenggara turut memengaruhi tingkat pembiayaan bermasalah.
Baca Juga: Bolehkah Medaftar Dua Sekolah Kedinasan Sekaligus? Ini Aturan SSCASN 2026
Karena itu, penyelenggara Pindar terus didorong untuk memperkuat sistem credit scoring dan pengelolaan risiko.
Penguatan tersebut penting dilakukan sejak proses penilaian hingga penyaluran pendanaan kepada debitur.
Di tengah perhatian terhadap kredit macet, industri Pindar justru masih mencatat pertumbuhan pembiayaan yang cukup tinggi.
Outstanding pembiayaan Pindar mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026.
Baca Juga: Bolehkah Medaftar Dua Sekolah Kedinasan Sekaligus? Ini Aturan SSCASN 2026
Angka tersebut tumbuh 25,88 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang berada di level 25,60 persen yoy.
Menariknya, pertumbuhan pembiayaan itu dibarengi dengan perbaikan risiko kredit secara agregat.
Tingkat TWP90 industri Pindar pada Juni 2026 tercatat 4,26 persen.
Angka tersebut turun dari 4,42 persen pada Mei 2026.
Baca Juga: Pakta Integritas Sekolah Kedinasan 2026, Link Unduh IPDN dan Kemenhub
Artinya, secara keseluruhan kualitas pembiayaan industri menunjukkan perbaikan.
Namun, kondisi masing-masing penyelenggara tetap perlu dicermati karena masih ada perusahaan dengan tingkat pembiayaan bermasalah di atas batas 5 persen.
Tingginya pembiayaan bermasalah tentu bukan perkara sepele.
Jika tidak segera dikendalikan, kondisi tersebut bisa memberikan tekanan terhadap profitabilitas perusahaan.
Baca Juga: Buku Panduan SSCASN Sekolah Kedinasan 2026, Link Unduh dan Cara Daftar Lengkap
Kualitas pembiayaan menjadi salah satu faktor penting bagi kinerja penyelenggara.
Ketika kredit bermasalah meningkat, beban perusahaan berpotensi ikut bertambah dan pada akhirnya dapat menekan laba.
Meski begitu, hingga Juni 2026 industri Pindar masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba.
Laba industri Pindar mencapai Rp1,15 triliun atau tumbuh 10,14 persen yoy pada Juni 2026.
Pertumbuhan tersebut tetap terjadi di tengah adanya risiko pembiayaan bermasalah pada sebagian penyelenggara.
Baca Juga: Uang Muka Ibadah Haji 2027 Rp 66,6 Miliar Milik Pemerintah RI Diblokir Arab Saudi
"Tingkat pembiayaan bermasalah dapat memberikan tekanan terhadap profitabilitas Penyelenggara. Namun, hingga Juni 2026 industri Pindar tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba seiring dengan pertumbuhan penyaluran pendanaan," kata dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan industri Pindar masih cukup kuat.
Namun, di balik angka pembiayaan dan laba yang terus meningkat, kualitas pendanaan tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan.
Baca Juga: Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M di Rumah Sentul Bogor Dikembalikan
Sebab, pertumbuhan yang sehat bukan hanya soal seberapa besar dana tersalurkan, tetapi juga seberapa baik risiko dikelola agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Nah, angka kredit macet yang membaik memang menjadi kabar positif.
Tetapi bagi industri Pindar, menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat akan menjadi kunci agar pertumbuhan tidak hanya terlihat besar di atas kertas, melainkan juga benar-benar berkelanjutan.***




