POJOKSATU.id, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan pertanian di Papua harus dilakukan dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, yang menghormati budaya, kebiasaan, serta karakteristik masyarakat setempat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan pemerintah terhadap pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan sebagai komoditas pangan utama yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama turun-temurun.

Komitmen tersebut disampaikan Mentan Amran saat menerima Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, di kediamannya, Kamis (2/7/2026).

Baca Juga: Hadir Kembali, Mandiri Donor Darah Gerakkan 280 Pendonor di 12 Region: Satu Langkah Darimu, Sejuta Harapan Untuknya

Pertemuan tersebut membahas strategi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas unggulan Papua Pegunungan yang disesuaikan dengan kondisi geografis, budaya, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menjelaskan bahwa sekitar 99 persen masyarakat Papua Pegunungan hingga saat ini masih mempertahankan ubi jalar sebagai pangan pokok.

Karena itu, menurutnya, pembangunan pertanian di Papua Pegunungan harus menghormati nilai historis dan budaya masyarakat.

Baca Juga: Diduga Ada Honorer Siluman, Aliansi R2 R3 Minta Uji Kompetensi Guru di Jatim Diaudit

"Papua Pegunungan adalah tanah rakyat Papua. Sebanyak 99 persen masyarakat kami masih mempertahankan budaya makan ubi jalar dan tidak akan beralih menjadi daerah persawahan. Kami berharap pemerintah dapat mengangkat dan menghormati nilai historis serta budaya masyarakat Papua Pegunungan," ujar Ones.

Ia menambahkan bahwa pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan berpotensi menjadi model pembangunan pertanian berbasis kearifan lokal yang dapat diterapkan di wilayah Papua lainnya, terutama Papua Tengah.

Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung pengembangan ubi jalar sebagai komoditas strategis Papua Pegunungan melalui pendekatan berbasis kawasan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Baca Juga: Mengenal Pulau Penebang, Kawasan Industri Baru yang Tumbuh di Pesisir Kayong Utara

"Ini adalah kearifan lokal berdasarkan kebiasaan dan budaya masyarakat. Jadi program di Papua Pegunungan bukan program cetak sawah, tetapi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas pangan utama masyarakat," kata Mentan Amran.

Sebagai langkah awal, pemerintah akan mengembangkan kawasan budidaya ubi jalar seluas sekitar 100 hingga 200 hektare di masing-masing kabupaten di Papua Pegunungan.

Program tersebut akan dievaluasi dan diperluas secara bertahap apabila menunjukkan hasil yang baik.

"Kita mulai dulu sekitar 100 sampai 200 hektare per kabupaten. Kalau berhasil, tahun depan kita tingkatkan lagi sesuai kemampuan anggaran. Ini akan kita bangun menjadi kawasan lumbung pangan berbasis ubi," ujar Mentan Amran.

Mentan Amran juga menegaskan bahwa pemerintah akan mengutamakan penggunaan benih lokal yang dibeli langsung dari masyarakat Papua sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh petani setempat.

Baca Juga: Lulus SMMPTN-Barat USK 2026? Simak Jadwal Daftar Ulang, Pengisian UKT hingga Registrasi Lengkap

"Bagaimana kalau benihnya kita beli langsung dari masyarakat? Jadi tidak perlu didatangkan dari luar. Pembibitan kita bangun di lokasi supaya ekonomi bisa berputar di daerah sendiri," katanya.

Selain itu, Kementerian Pertanian akan memberikan bantuan sarana produksi yang disesuaikan dengan pola budidaya masyarakat Papua Pegunungan, antara lain linggis, parang, sekop, kapak, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.

"Kita akan berikan bantuan linggis, parang, sekop, dan kapak sesuai kebutuhan masyarakat. Karena ini bukan pertanian sawah, pendekatannya juga harus sesuai dengan kondisi wilayah dan budaya setempat," ujar Mentan Amran.

Baca Juga: Ma'had Al-Jami'ah UIN Jakarta Buka Penerimaan Mahasantri Baru 2026-2027, Ini Jadwal, Biaya, dan Tata Tertibnya

Menurut Mentan Amran, pengembangan ubi jalar tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Papua Pegunungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengolahan pascapanen dan hilirisasi produk.

"Kita dorong pengembangan ubi dalam skala besar agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Papua Pegunungan, baik untuk konsumsi maupun untuk dijual. Ke depan juga bisa diolah agar memiliki nilai tambah dan masa simpan yang lebih panjang. Untuk itu kita akan melihat kebutuhan teknologi pengeringan atau dryer," jelasnya.

Mentan Amran menilai ubi jalar Papua memiliki potensi ekonomi yang besar karena sesuai dengan kondisi iklim setempat dan memiliki peluang pasar yang luas.

Baca Juga: Kemenag Resmi Ganti Matsama jadi Matamuda Tahun Ini, Perpeloncoan Dilarang, Berikut Juknis Terbaru Masa Taaruf Siswa Madrasah

"Ini komoditas yang potensial. Kalau dikelola dengan baik, bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga memiliki peluang pasar yang besar dan nilai ekonomi yang tinggi," kata Mentan Amran.

Wakil Gubernur Ones Pahabol menyambut baik dukungan pemerintah tersebut dan berharap pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan dapat menjadi model pembangunan pertanian berbasis kearifan lokal bagi wilayah Papua lainnya, salah satunya Papua Tengah.

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun pertanian Papua berdasarkan potensi, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Melalui pengembangan ubi jalar sebagai komoditas unggulan Papua Pegunungan, pemerintah berharap ketahanan pangan daerah semakin kuat, kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kearifan lokal Papua tetap terjaga.***