POJOKSATU.ID - Nasib pilu menimpa Suderajat (50), seorang tukang es gabus yang sehari-hari mencari nafkah di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Pria asal Bojonggede, Kabupaten Bogor itu mengaku mendapat perlakuan kasar dari oknum aparat saat berjualan, peristiwa yang kemudian viral di media sosial dan menuai kecaman publik.
Kejadian tersebut berlangsung pada Sabtu (24/1). Saat itu, Suderajat didatangi anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa di lokasi tempat ia biasa berjualan.
Ia dituduh menjual es gabus berbahan dasar spons, tudingan yang langsung membuat suasana memanas.
Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat es gabus milik Suderajat diremas hingga hancur oleh salah satu anggota Babinsa.
Cairan es tumpah ke lantai, sementara sisa es yang dituding sebagai spons justru dijejalkan ke mulut Suderajat.
Baca Juga: Kesaksian Warga Sekitar Pabrik Sandal Swallow Medan, Api Membesar dari Belakang Disertai Ledakan
Adegan tersebut memicu kemarahan warganet karena dinilai merendahkan martabat seorang pedagang kecil.
Ditemui di rumahnya yang berada di gang sempit di Bojonggede, Suderajat menceritakan ulang detik-detik kejadian yang membuatnya trauma.
Dengan suara bergetar, ia mengaku ditendang, dipukul, dan dipaksa berdiri dengan satu kaki.
Baca Juga: Kabar Baik! Guru Honorer Berpeluang Dapat Insentif Rp400 Ribu per Bulan, Ini Syarat Lengkapnya
“Kaki saya ditendang keras, disuruh jinjit satu kaki. Bahu saya juga sakit sampai sekarang,” ujar Suderajat sambil menunjukkan bekas kemerahan di wajah dan nyeri di pundak kanan, dikutip pojoksatu.id dari kumparan.com (28/1/2026).
Tak hanya itu, Suderajat juga mengaku dagangannya diinjak-injak dan dilempar ke arah wajahnya. Ia bahkan dipaksa meminum air comberan oleh oknum aparat tersebut.
“Es saya dibejek-bejek, dilempar ke muka saya. Terus saya disuruh minum air comberan,” tuturnya lirih.
Suderajat menegaskan bahwa es gabus yang ia jual bukan terbuat dari spons, melainkan es asli berbahan tepung dan gula seperti yang sudah ia jual bertahun-tahun.
Tuduhan tersebut membuatnya merasa dipermalukan di depan umum dan kehilangan rasa aman.
Akibat kejadian itu, Suderajat mengaku kini takut kembali berjualan di Kemayoran.
Ia khawatir akan kembali mendapatkan perlakuan serupa, meski berjualan adalah satu-satunya sumber penghidupannya.
Kasus ini langsung memicu reaksi keras dari masyarakat setelah videonya viral.
Baca Juga: Multitasking Dianggap Efisien, Ini Dampaknya bagi Pikiran dan Kesehatan Mental
Banyak warganet mengecam tindakan aparat yang dinilai berlebihan dan tidak manusiawi terhadap pedagang kecil.
Hingga kini, publik menanti klarifikasi resmi dari pihak terkait atas insiden tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pendekatan humanis dalam penegakan aturan, terutama terhadap masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari usaha sederhana.***




