POJOKSATU.id - Masjid Ash Shulaha merupakan salah satu masjid bersejarah yang berada di Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Masjid ini terletak di pinggir Sungai Barabai dan berada tepat di turunan Jembatan Shulaha.

Lokasinya juga berada di simpang empat Jalan Perintis Kemerdekaan yang menuju objek wisata Pagat Batu Benawa serta terhubung dengan Jalan Hevia dan Jalan Tri Kesuma.

Baca Juga: VIRAL LAGI! Sebelumnya di Mall Kini Emak-emak Ngamuk di TransJakarta, Singgung Narkoba hingga Etnis

Dari sisi arsitektur, Masjid Ash Shulaha memiliki perpaduan gaya Banjar dan Demak.

Hal tersebut terlihat pada bentuk atapnya yang bertumpang tiga.

Tiga lapisan atap tersebut memiliki filosofi tersendiri. Tingkat pertama melambangkan syariat, tingkat kedua melambangkan tarikat, dan tingkat paling atas melambangkan hakikat.

Baca Juga: Jerman Tegas Tolak Permintaan Trump Amankan Selat Hormuz, Sebut Konflik Iran Bukan Urusan NATO

Saat ini, bangunan masjid hanya memiliki satu kubah yang menjadi ciri khas pada bagian atasnya.

Sejarah Masjid

Masjid Ash Shulaha awalnya dikenal dengan nama Masjid Jami.

Nama tersebut kemudian berubah menjadi Masjid Ash Shulaha setelah dilakukan relokasi pada awal tahun 1900-an.

Baca Juga: Infaq dan Shodaqoh PUSKUD Jambi Dapat Apresiasi Wagub Sani sebagai Wujud Kepedulian Sosial

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1825 Masehi.

Pada awal berdirinya, masjid hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan Salat lima waktu.

Kemudian pada sekitar tahun 1820-an, seorang ulama bernama Muhammad Aqil atau yang dikenal sebagai Datu Aqil dikirim ke Barabai.

Baca Juga: Infaq dan Shodaqoh PUSKUD Jambi Dapat Apresiasi Wagub Sani sebagai Wujud Kepedulian Sosial

Kehadirannya membuat Masjid Jami mulai difungsikan untuk pelaksanaan Salat Jumat sekaligus menjadi tempat belajar agama.

Pada awal abad ke-20, seorang dermawan mewakafkan sebidang tanah yang berada di seberang lokasi masjid lama untuk pembangunan masjid baru.

Pembangunan tersebut selesai sekitar tahun 1928.

Baca Juga: Heboh Pernyataan Trump! Iran Dituding Gunakan AI untuk Ciptakan Ilusi Kemenangan Perang dan Sebar Berita Palsu

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga memiliki peran penting dalam kegiatan dakwah para ulama.

Bahkan, pada masa penjajahan masjid ini menjadi tempat menyusun strategi perjuangan melawan penjajah.

Peran pada Masa Revolusi

Pada masa revolusi fisik tahun 1946, Masjid Ash Shulaha menjadi tempat berkumpulnya sejumlah tokoh yang memprovokasi masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Baca Juga: Lebaran 2026 Semakin Dekat! THR PPPK Paruh Waktu Masih Belum Jelas, Forum Honorer 'Batas Akhir Pembayarannya Kapan?'

Peristiwa tersebut berujung pada penyerangan markas Belanda di Barabai pada 19 Maret 1946.

Dalam peristiwa tersebut, tiga tokoh yang dikenal sebagai Tri Kesuma atau Tiga Badingsanak ditangkap oleh Belanda.

Mereka adalah Muhammad Nawawi Arief, Norman Arief, dan Al Hamdie Arief.

Baca Juga: MK Tegaskan Mantan Napi Masih Bisa Ikut Pemilu dan Pilkada, Gugatan Larangan Permanen Kandas

Akibat peristiwa tersebut, Norman Arief ditembak mati oleh Belanda. Sementara dua tokoh lainnya dipenjara di Pulau Nusakambangan.

Untuk mengenang perjuangan mereka, nama Tri Kesuma kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Barabai.

Masjid Saat Banjir Barabai

Baca Juga: Kabar Gembira! THR 2026 di Kabupaten Magelang Mulai Cair, 2.440 PPPK Paruh Waktu Siap Terima

Masjid Ash Shulaha juga memiliki peran penting saat terjadi banjir besar yang melanda Kota Barabai pada tahun 2021 dan 2023.

Ketika banjir terjadi, masjid ini digunakan sebagai tempat pengungsian bagi warga sekitar. Sekitar 70 orang warga sempat mengungsi di lantai atas masjid karena lantai dasar bangunan telah terendam air.

Keberadaan masjid tersebut menjadi tempat perlindungan sekaligus pusat solidaritas masyarakat saat menghadapi bencana.

Baca Juga: Mengejutkan! THR 2026 PPPK Penuh Waktu Disebut Tak Cair, Tenaga PPPK Paruh Waktu Malah WFH Selama 2 Bulan

Arah Kiblat

Pengukuran arah kiblat di Masjid Ash Shulaha dilakukan menggunakan metode rubu’ mujayyab serta pengamatan bayang-bayang matahari.

Hasil pengukuran menggunakan kompas dengan koreksi deklinasi magnetik serta metode segitiga siku-siku menunjukkan bahwa arah kiblat masjid mengalami sedikit pergeseran sekitar satu derajat ke arah selatan dari arah yang seharusnya.

Masjid Ash Shulaha bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Barabai.

Baca Juga: Wagub Sani: Gerakan Pangan Murah Jambi Langkah Strategis Stabilkan Harga Jelang Lebaran

Masjid ini juga menyimpan sejarah panjang, mulai dari pusat dakwah para ulama, saksi perjuangan melawan penjajah, hingga menjadi tempat perlindungan masyarakat saat bencana.

Keberadaannya hingga kini menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat di Hulu Sungai Tengah.***