POJOKSATU.id — Bayangkan sebuah Nusantara kuno, naskah-naskah lontar berserak di warung, prasasti terpahat di yupa, catatan kejayaan raja-raja Kutai.
Belum ada rak atau ruang baca, tetapi gagasan menyimpan pengetahuan sudah bersemi sejak abad ke-5 Masehi.
Sebagai catatan monumental, prasasti-prasasti itu memang terancang di ruang terbuka, tentu bukan perpustakaan dalam makna modern, tapi itulah benih kesadaran kolektif terhadap sejarah dan pengetahuan.
Seiring berjalannya waktu, kerajaan besar seperti Sriwijaya di abad ke-7 diperkirakan memiliki pusat karya tulis dan naskah keagamaan yang tersimpan rapi di keraton.
Naskah-naskah seperti Arjuna Wiwaha atau karya Mpu Kanwa menjadi cermin peradaban yang menyimpan warisan budaya dalam daun lontar.
Baca Juga: Begini Skema Pensiun PPPK dan PNS dalam Kerangka Undang Undang tentang ASN!
Zaman Kolonial: Rumah Ibadah menjadi Pintu Pengetahuan
Lompatan nyata muncul ketika VOC menetapkan hadirnya perpustakaan di Batavia. Dirintis sejak 1624, barulah pada 27 April 1643 perpustakaan gereja itu resmi dibuka, dipimpin oleh Ds. Abraham Fierenius, dan sebenarnya dibuka tidak semata untuk kalangan rohani tetapi juga untuk perawat rumah sakit, bahkan masyarakat Semarang dan Jawa.
Setelah itu, pada 25 April 1778, lahir lembaga ilmiah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen–BGKW–di Batavia.
Didirikan atas inisiatif Raad van Indie, yang kemudian mengumpulkan buku, manuskrip, hingga merilis katalog buku pertama di Indonesia.
Nama lembaga ini kemudian menguat ketika memperoleh gelar ‘Koninklijk’ pada 1924, menunjukkan peran pentingnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan kolonial.
Berkembang Meski Terengah-engah: Jepang dan Era Pasca-Kemerdekaan
Era pendudukan Jepang adalah periode kelam bagi literasi dan perpustakaan, periode tersebut hampir tidak mencatat perkembangan sama sekali.
Baca Juga: Kabar Baik 3.115 Pegawai Non ASN di Mataram Menuju Status PPPK Paruh Waktu!
Namun setelah kemerdekaan, semangat baru muncul. Pada 1957, gerakan pemberantasan buta huruf melahirkan perpustakaan rakyat di berbagai pelosok, dan berdiri pula perpustakaan negara serta biro pengembangan perpustakaan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tak lama kemudian, menapak ke era Orde Baru, perpustakaan makin didorong sebagai pilar pendidikan.
Lewat Pelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), pemerintah mendirikan proyek perintis perpustakaan sekolah, memperkuat jaringan perpustakaan perguruan tinggi, serta mengembangkan perpustakaan umum dan khusus secara sistematis.
Baca Juga: Resmi! Formasi PPPK Mendatang Terbuka Lebar untuk Pelamar Umum
Modern: Perpustakaan Nasional dan Jalinan Pengetahuan Modern
Tonggak baru dicapai saat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) didirikan pada 17 Mei 1980, melalui penggabungan empat perpustakaan berbeda.
Ia menjadi lembaga legal deposit dan pusat literasi nasional. Koleksinya tumbuh dari warisan Perpustakaan Museum Nasional (arsip sejak 1868), hingga kini menampung sekitar 4 juta koleksi (data 2017).
Gebrakan berikutnya adalah bangunan baru Perpusnas, bertempat di dekat Monas, yang dengan ketinggian 127 m dinobatkan sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia, diresmikan Presiden Joko Widodo pada 14 September 2017.
Baca Juga: Bulan Pengusulan Kenaikan Pangkat PNS Kapan Saja? Catat Semua Jadwalnya Disini!
Institusi akademis pun punya sejarah panjang. Perpustakaan Technische Hogeschool di Bandung (cikal bakal ITB) lahir sejak 1920, menyimpan karya ilmiah bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Inggris, dari Bertrand Russell hingga Kinsey Report, sebagai penjaga ilmu teknik dan sains kontemporer.
Tokoh seperti Winarti Partaningrat (1922–1978) juga penting, ia memperkenalkan jejaring perpustakaan khusus antar instansi pemerintah, melahirkan praktik perpustakaan ilmiah dan dokumentasi nasional.
Dan Hary Gunarto, yang di era 1991–1994 membangun sistem otomatisasi Pusyandi-Net yang menghubungkan perpustakaan universitas seluruh negeri.
Baca Juga: Batas Akhir 20 Agustus, Instansi Hanya Bisa Ajukan 3 Kategori Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu
Perjalanan perpustakaan di Indonesia adalah cerita panjang dari prasasti dan naskah lontar, melalui gedung gereja kolonial, lembaga ilmiah BGKW, hingga institusi-modern seperti Perpusnas.
Ia bukan sekadar bangunan, tetapi denyut budaya dan ingatan kolektif bangsa, melampaui batas waktu dan kolonialisme.***
