POJOKSATU.id — Laut bukan sekadar pemisah pulau.

Laut adalah medan tempur.

Laut adalah nadi kemerdekaan.

Di balik debur ombaknya, terpatri kisah-kisah heroik para prajurit TNI Angkatan Laut yang rela bertaruh nyawa demi Republik Indonesia.

Tak sekadar menjaga perairan, mereka adalah benteng hidup yang merelakan masa depan demi tegaknya merah putih.

Dalam sejarah panjang Indonesia, terdapat lima nama besar dari tubuh TNI AL yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Mereka bukan cuma pasukan perang—mereka adalah simbol keberanian yang abadi.

Baca Juga: 8 Kapal Legendaris Nusantara Bukti Bangsa Pelaut Sejati, Penjelajah Samudra Tradisi Kemaritiman Negeri Bahari 

Laksamana Anumerta Raden Eddy Martadinata

Penjaga Laut Jawa Barat, Diplomat Kemanusiaan

Martadinata bukan sekadar laksamana.

Ia adalah penggerak rakyat. Berasal dari Bandung, ia turut membentuk dan memimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Laut di wilayah Jawa Barat dan Banten pasca-kemerdekaan.

Perannya penting dalam membendung infiltrasi pasukan Sekutu lewat jalur laut.

Martadinata dikenal lewat aksi heroiknya ketika menggalang para pemuda yang merupakan mantan siswa Pelayaran Tinggi.

Bersama mereka, ia berhasil merebut sejumlah kapal milik Jepang di kawasan Pasar Ikan, Jakarta.

Baca Juga: KISAH PEMBERONTAK di Lautan Ini Bukan Monkey D Luffy, Ketika Sejarah Bicara DARATAN Tapi LUPA LAUTAN, Mereka Melawan Menguasai Kapal Perang Belanda

Tidak berhenti di situ, kelompok ini juga mengambil alih beberapa kantor strategis di Tanjung Priok dan Jalan Budi Utomo, Jakarta.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Martadinata dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Daerah Aceh (ALDA).

Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab mengatur kegiatan staf yang mencakup dua hal penting: menyelenggarakan pendidikan dan mengoordinasikan operasi “Armada Penyelundup” senjata dari luar negeri untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.

Di awal pembentukan BKR, Martadinata turut serta mendirikan BKR Laut Jawa Barat bersama Aruji Kartawinata.

Seiring waktu, BKR Laut bertransformasi menjadi ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Saat itu, Martadinata berada di bawah komando Aruji Kartawinata dalam mengamankan wilayah perairan Jawa Barat.

Saat konflik internal melanda Angkatan Laut karena dualisme komando, ia bukan memilih kekuasaan—melainkan mengajak musyawarah.

Baca Juga: PEMBERANI di Lautan Bukan Fiksi Si Topi Jerami, INI FAKTA Nenek Moyangku Seorang Pelaut, Lahir dari Kejayaan Bahari, Bukan Sekadar Lirik Lagu!

Martadinata teguh mengatakan bahwa perjuangan bukan soal ambisi pribadi, tapi tentang nasib bangsa.

Namun takdir berkata lain. Dalam sebuah penerbangan dengan helikopter ALRI, 6 Oktober 1966, pesawatnya menghantam bukit Riung Gunung dan menewaskannya.

Jenazahnya kini bersemayam tenang di TMP Kalibata, Jakarta.

Laksamana Muda Yos Soedarso

Mati-matian di Laut Arafura

Yos Soedarso dikenal sebagai patriot pemberani yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru. Saat itu, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut.

Misi yang dipimpinnya bukan sembarangan—itu adalah bagian dari Trikora, upaya besar untuk membebaskan Papua Barat dari cengkeraman Belanda.

Pada tahun 1961, ketegangan antara Indonesia dan Belanda terkait pembebasan Irian Barat mencapai puncaknya.

Baca Juga: One Piece Kalah Sama NELAYAN, Ini Kisah Penemuan Harta Karun di LAUT JAWA Hingga Menguak JEJAK SEJARAH dan Mengguncang UNESCO Hingga Dunia

Presiden Soekarno kemudian mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) sebagai langkah strategis. Setahun berselang, pada 1962, dibentuklah Komando Mandala yang bermarkas di Makassar untuk melaksanakan operasi pembebasan.

Dalam struktur ini, Yos Sudarso mendapat mandat sebagai Deputi Operasi, sebuah tugas penting yang akhirnya menuntunnya pada peristiwa heroik di Laut Aru.

Tiga kapal perang dikerahkan, salah satunya KRI Macan Tutul yang dipimpin Yos sendiri.

Namun nasib berkata lain. KRI Macan Tutul mendadak rusak, dan Yos memutuskan bertindak sebagai tameng agar dua kapal lainnya bisa lolos.

Kapal yang ia komandoi ditembak dan meledak. Yos tenggelam bersama kapal dan tugas sucinya. Ia gugur di usia 36 tahun—usia muda, tapi semangatnya tak pernah padam.

Sersan Usman

Prajurit Marinir yang Gugur di Negeri Jiran

Namanya Usman Janatin. Seorang Sersan Dua dari Korps Komando Operasi (kini Marinir) yang ikut Operasi Dwikora—konfrontasi militer antara Indonesia dan Malaysia.

Pada Maret 1965, Usman ditugaskan untuk menyusup ke Singapura bersama Harun Tohir dan Gani bin Arup.

Mereka membawa 12,5 kilogram bahan peledak untuk menyerang target strategis.

Namun bom justru meledak di gedung Hongkong and Shanghai Bank (sekarang MacDonald House), menewaskan tiga warga sipil.

Usman dan Harun ditangkap saat meloloskan diri. Pada 17 Oktober 1968, mereka dihukum gantung di Penjara Changi, Singapura.

Jenazahnya kemudian dipulangkan dan dimakamkan dengan penghormatan negara.

Kopral Harun

Dari Anak Pulau, Menjadi Martir Bangsa

Harun Thohir lahir di Pulau Bawean, Jawa Timur.

Baca Juga: Bukan ONE PIECE, Bukan Karakter Buatan, Ini PEJUANG LAUT Sejati Nusantara Sejak Zaman Kerajaan, Berlayar DEMI BANGSA

Masa kecilnya dihabiskan sebagai awak kapal dagang di Singapura, membuatnya hafal seluk-beluk pelabuhan dan perairan sekitar. Modal itu ia bawa saat bergabung dengan KKO.

Ia menjadi partner Usman dalam misi sabotase di Singapura.

Ketika tertangkap dan diadili, Harun tetap tenang. Tak ada penyesalan. Ia tahu, setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan setiap prajurit harus siap menanggungnya.

Pemerintah RI mengabadikan Harun sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden pada 17 Oktober 1968. Namanya harum hingga kini, dikenal sebagai simbol keberanian dari laut.

Laksamana Muda John Lie

"Hantu Selat Malaka" yang Menggetarkan Belanda

Namanya Jahja Daniel Dharma, lebih dikenal sebagai John Lie.

Ia adalah sosok legendaris keturunan Tionghoa yang menjadi andalan Indonesia dalam penyelundupan logistik selama Revolusi.

Ia menakhodai kapal cepat “The Outlaw” yang menembus blokade Belanda demi mengirimkan senjata ke para pejuang.

John Lie tak gentar meski terus diburu. Ia lihai, cerdas, dan pemberani—layaknya bayangan di malam hari.

Julukan "Hantu Selat Malaka" pun melekat karena kelihaiannya lolos dari pengepungan. Ia wafat pada 27 Agustus 1988, dan dikenang sebagai pahlawan tanpa pamrih.

Baca Juga: Legenda Danau Toba, Bencana yang Melahirkan Kajaiban Alam

Pemerintah baru menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2009, namun jasanya telah hidup di hati bangsa jauh sebelumnya.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: