POJOKSATU.id — Dalam arus sejarah panjang Indonesia, laut justru kerap dikesampingkan. Terutama setelah lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Kita lebih sering membaca tentang kekuasaan dari daratan, tentang istana dan sawah, tentang tahta dan keraton.

Tapi bagaimana dengan geladak, samudera dan gelombang? Dengan pelaut-pelaut tangguh yang mengukir jejaknya di laut?

Yuk, kita tengok satu sisi sejarah yang sering luput dari sorotan: ada kisah pelaut Indonesia yang membangkang dan melawan.

Ini bukan kisah fiksi Monkey D Luffy, tokoh utama dalam serial anime dan manga One Piece. 

Ini fakta sejarah tentang mereka yang melawan dan memberontak penjajah di lautan. Ini nyata di Indonesia.

Baca Juga: PEMBERANI di Lautan Bukan Fiksi Si Topi Jerami, INI FAKTA Nenek Moyangku Seorang Pelaut, Lahir dari Kejayaan Bahari, Bukan Sekadar Lirik Lagu!

Ketika Laut Tak Lagi Jadi Prioritas

Setelah era Sriwijaya dan Majapahit—dua kerajaan besar yang menjadikan laut sebagai sumber kekuatan—kemaritiman Indonesia perlahan-lahan mulai surut.

Di era Kerajaan Demak, sempat ada cahaya kecil munculnya sosok Adipati Unus, yang mengirim armada ke Malaka dan menggertak Portugis.

Tapi, itu hanya kilatan. Setelah itu, Kerajaan Mataram yang begitu besar justru tidak pernah mampu mengimbangi kekuatan armada VOC.

Pelan-pelan, sejak 1602, VOC mulai mencengkeram Nusantara. Kita yang dulu pelaut ulung, perlahan hanya jadi penumpang di kapal sendiri.

Geladak yang Terlupakan

“Geladak kapal pribumi tak boleh diabaikan,” tegas sejarawan A.B. Lapian dalam bukunya Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut.

Ia menyoroti betapa sejarah Indonesia terlalu berat sebelah, lebih banyak bicara daratan tapi lupa lautan.

Baca Juga: One Piece Kalah Sama NELAYAN, Ini Kisah Penemuan Harta Karun di LAUT JAWA Hingga Menguak JEJAK SEJARAH dan Mengguncang UNESCO Hingga Dunia

Padahal, bukti maritim kita jelas.

Paling nyata adalah relief perahu bercadik di Candi Borobudur, misalnya.

Bukti bahwa sejak abad ke-7, kapal buatan anak negeri sudah berlayar jauh. Beberapa bahkan diyakini telah mencapai Madagaskar di Afrika Timur!

Lalu, kenapa sejarah laut malah terlupakan?

Jejak Pelaut dalam Sastra

Sebenarnya, budaya laut kita terekam juga dalam karya sastra.

Di tanah Melayu, ada Hikayat Hang Tuah. Seorang pelaut tangguh, punya sahabat seperti Hang Lekir dan Hang Lekiu.

Di Bugis, ada Sureq La Galigo, kisah epik tentang Sawerigading—nahkoda pemberani, menjelajah samudra tanpa tanding.

Tokoh-tokoh ini ibarat Sinbad-nya Nusantara.

Sayangnya, di budaya Jawa, tokoh maritim seperti itu tak begitu menonjol. Meski bukan berarti Jawa asing dengan laut.

Di masa lalu, kawasan Juana, Rembang, Lasem, Tuban hingga Gresik adalah pusat pembuatan kapal—berkat melimpahnya kayu jati dari Blora.

Jadi, pelaut Jawa tetap ada, hanya tak setenar saudara-saudara di Bugis.

Ketika Pribumi Jadi Pelaut Belanda

Masuk abad ke-20, justru banyak orang Indonesia jadi pelaut, tapi bukan di kapal sendiri.

Mereka bekerja di kapal milik penjajah, baik kapal dagang KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) atau kapal perang Koninklijk Marine milik Belanda.

Apalagi saat Belanda diduduki Jerman tahun 1940. Mereka butuh pelaut. Maka muncul iklan-iklan perekrutan di Hindia: "Saja orang Marine, ikoetlah saja!"

Baca Juga: KISAH NYATA BAJAK LAUT Legendaris di Perairan Sriwijaya, si Naga Hitam Penguasa Laut yang Lebih Gahar dari Kisah Fantasi, Bahkan Penuh Intrik Politik

Dan lahirlah generasi pelaut Indonesia dalam seragam penjajah. Untungnya, jiwa bebas mereka tak bisa diredam begitu saja.

Pemberontakan di Tengah Laut

Pada 4 Februari 1933, kapal perang Belanda bernama Zeven Provincien menjadi saksi sejarah yang cukup hebat.

Kapal ini dirancang secara khusus dan dilengkapi dengan alat perang yang lengkap.

Menurut situs military-history.fandom.com, kapal De Zeven Provinciën adalah kapal andalan Laksamana Michiel de Ruyter. Kapal ini memiliki panjang sekitar 151 kaki dan lebar 40 kaki (sekitar 12 meter).

Kapal ini dipersenjatai dengan sangat lengkap:

  • Dek bawah: 12 meriam berkaliber 36-pdrs dan 16 meriam 24-pdrs.
  • Dek atas: 14 meriam 18-pdrs dan 12 meriam 12-pdrs.

Selain itu, kapal ini juga membawa 76 senjata rakitan sebagai cadangan amunisi.

Selain itu, di atas kapal terdapat sebuah bahtera besar yang berfungsi sebagai tempat karantina untuk para marinir, baik dari Eropa, Belanda, maupun pribumi.

Berdasarkan tulisan J.C. Mollema dalam Random de Rondom de Muiterij op De Zeven Provinciën (1934), kapal perang tersebut juga berfungsi sebagai lokasi pelatihan bagi para marinir.

Marinir yang berlatih di sana adalah para prajurit laut Indonesia yang telah menyelesaikan Pendidikan Dasar Pelaut Bumiputera di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

Adalah Martin Paradja, Kawilarang, Sagino, Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, dan pelaut pribumi lainnya memberontak.

Mereka mengambil alih kapal. Kaptennya ditinggal di darat. Misi mereka jelas, melawan kesewenangan penjajah di tengah laut.

Bayangkan! Di tengah penjajahan, ada anak bangsa yang nekat merebut kapal perang, dan mengarungi laut demi menunjukkan Indonesia bukan bangsa budak!

Baca Juga: Bukan ONE PIECE, Bukan Karakter Buatan, Ini PEJUANG LAUT Sejati Nusantara Sejak Zaman Kerajaan, Berlayar DEMI BANGSA

Pada 10 Februari 1933, kapal yang dikuasai oleh pemberontak bergerak maju setelah melewati Selat Sunda.

Kapal tersebut dikawal ketat oleh dua kapal torpedo milik Angkatan Laut Belanda dan diintai dari udara oleh pesawat amfibi Dornier.

Meskipun terus ditekan untuk menyerah, para pemberontak menolak dan bersikeras melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.

Sampai akhirnya bom 50 kg dijatuhkan.

Beberapa pemberontak terluka.

Kapal dikuasai kembali oleh Belanda. Mereka pun ditangkap dan dipenjara di Pulau Onrust. Beberapa pelaut pemberani itu gugur. Tapi semangat mereka tak pernah mati.

Sejarah yang Tak Memihak

Pemberontakan Zeven Provincien nyatanya tak banyak disebut dalam buku sejarah resmi.

Pemberontakan ini dipicu oleh kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memotong gaji para pegawainya sebesar 17%.

Merasa tidak puas, para pelaut Indonesia yang berada di kapal tersebut mengambil alih kendali dan berlayar menuju Surabaya.

Aksi para pelaut ini adalah bukti bahwa semangat maritim bangsa Indonesia tidak pernah benar-benar padam.

Bahkan ketika pribumi dijajah, laut pun ikut dibakar perlawanan.

Banyak dari kita lebih tahu kisah perang di darat daripada di laut. Kita lebih ingat pertempuran Surabaya daripada pertempuran di Selat Sunda.

Padahal, laut adalah urat nadi negeri ini.

Dan selama kita melupakan pelaut kita, berarti kita melupakan setengah dari sejarah kita.

Bahwa kita adalah bangsa laut. Dan pelaut-pelaut kita, pernah membangkang dan melawan, demi kehormatan Nusantara.

Baca Juga: Jejak Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa Laksamana Muda John Lie, Kisah Hantu Selat Malaka yang Sering Menyantuni Anak Jalanan dan Gelandangan

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: