POJOKSATU.id - Tak bisa dipungkiri, banyak pahlawan nasional keturunan etnis Tionghoa yang ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya John Lie.

John Lie pejuang keturunan etnis Tionghoa yang kerap dipanggil Jahja Daniel Dharma diberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 2009.

Anugerah sebagai Pahlawan Nasional kepada pejuang keturunan etnis Tionghoa diberikan setelah lebih dari dua dekade John Lie wafat pada 27 Agustus 1988.

Pahlawan Nasional John Lie, lahir di Manado pada 9 Maret 1911, merupakan keturunan etnis Tionghoa yang menjadi perwira Angkatan Laut di masa penjajahan Jepang.

John Lie memang putra keturunan Tionghoa sejati. Ayahnya adalah Lie Kae Tae dan ibunya bernama Oei Tjeng Nie Nio.

Baca Juga: Jejak Aktor Tionghoa Tan Tjeng Bok Alias Pak Item, Seniman dari Tangkiwood yang Serba Bisa, Disebut 100 Kali Menikah, Melarat di Akhir Hayat

Tanah kelahirannya John Lie bernama Kanaka. Daerah tersebut merupakan Kampung Tionghoa yang letaknya berada di Kecamatan Manado Tengah.

Jauh sebelum film Jack Sparrow muncul, Laksamana Muda John Lee sudah lebih dulu menjadi tokoh sentral dalam penyelundupan senjata untuk Republik Indonesia melawan gencatan senjata Belanda.

Bahkan Laksamana Pertama (Purn) Tarmizi Taher yang di zaman Soeharto kemudian menjadi Menteri Agama, menyebutkan sejarah Indonesia akan berbeda sama sekali tanpa peran John Lie.

Ketika itu, 15 Agustus 1949 pemerintah RI dan Kerajaan Belanda memang sedang sengit-sengitnya melakukan gencatan senjata.

Wakil Presiden Mohammad Hatta dengan yakin menyatakan bahwa pasokan senjata bagi Republik Indonesia tidak akan pernah berhenti.

Hatta tahu, ini berkat si Hantu Selat Malaka John Lie, orang kepercayaan Hatta dan dikenal sebagai penyelundup ulung persenjataan untuk Indonesia.

Pada tahun 1946, John Lie ditugaskan sebagai komandan kapal The Outlaw.

Kapal ini ditugaskan untuk menembus blokade Belanda dan mengangkut peralatan perang yang dibutuhkan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

 

Baca Juga: Yap Thiam Hien, Jejak Tionghoa Pembela Kaum Tertindas, Penegak HAM yang Diabadikan Jadi Nama Penghargaan

John Lie merekrut sekitar 20 pemuda untuk menjadi awak kapal.

Pangkalan kapal ini awalnya berada di Port Swettenham (sekarang Port Kelang) di Malaysia.

Suatu waktu, John Lie tertangkap membawa 18 drum minyak kelapa sawit oleh perwira Inggris.

Namun, dalam persidangan di Singapura, ia dibebaskan karena tidak bisa terbukti melakukan pelanggaran. John Lie lalu memindahkan pangkalan ke Phuket di Thailand.

Misi pertama Laksamana Muda John Lie bersama 22 awak kapalnya selalu berhasil. Mereka membongkar muatan senjata dan amunisi dan menyerahkannya ke Bupati Usman Effendi dan komandan pejuang setempat, Abu Salam.

Sejak saat itu, The Outlaw terus menerus berhasil menyelundupkan senjata ke Indonesia dan melakukan pertukaran hasil bumi ke Singapura.

Baca Juga: Jelang Imlek, Kunjungi Indahnya Vihara Hemadhiro Mettavati di Cengkareng, Ada Mushola dan Rutin Jumatan

John Lie dan awak kapal The Outlaw melakukan penyelundupan sebanyak 15 kali antara tahun 1947 hingga 1949. 

Kapal yang dikomandoi oleh Laksamana Muda ini juga sangat gesit, selalu berhasil lolos dari serangan musuh. Itu sebabnya ia mendapat julukan Hantu Selat Malaka.

Mereka melakukan penyelundupan tanpa dibayar karena semangat patriotisme dan nasionalisme membela Tanah Air Indonesia.

Hatta kagum dan terkesan dengan keberanian John Lie dan awak kapal The Outlaw.

Hatta lalu mengirimkan hadiah dan bahkan mengirimkan sebagian uang kepada John Lie yang dikabarkan kehabisan uang di Singapura.

Lie pernah ditempatkan di KRI Rajawali sebagai Kepala Staf Komando Daerah Maritim Surabaya pasca penyerahan kedaulatan pada akhir 1949.

Pada tahun 1950, John Lie juga berperan aktif dalam menumpas gerakan pecah belah Republik Maluku Selatan (RMS) dan pemberontakan PRRI.

Baca Juga: Sengaja Mirip Candi Borobudur, Ini Keunikan Vihara Banjar yang Warnai Keragaman Imlek dan Akulturasi

Pada awalnya, ia menempuh pendidikan di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School, dan Christelijke Lagere School di Manado.

Namun, pada usia 17 tahun, ia nekat meninggalkan kampung halamannya dan menuju Batavia untuk mendapatkan pendidikan militer.

Dari KRI Rajawali, John Lie kemudian dipintahkan menjadi Komandan Komando Maritim Jakarta pada 1955.

Kemudian, pada tahun 1957, ia menjabat sebagai Komandan KRI Gajah Mada dengan pangkat Letkol.

Pada tahun 1964, ia mencapai pangkat Laksamana Muda sebelum akhirnya secara resmi pensiun pada tahun 1967.

Lie kemudian meninggal pada 27 Agustus 1988, dirinya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Seorang staf dari Mabes TNI AL menceritakan bahwa selama hidupnya, John Lie sering menyantuni dan mengajak makan anak jalanan serta para gelandangan.

Baca Juga: Ramai Saat Imlek, Kelenteng Timbul atau Pekong Laut Ini Satu-satunya Vihara di Dunia yang Ada di Tengah Laut, Ini Alasannya

Pada saat wafat, banyak anak jalanan yang jadi anak asuh, para pengemis dan gelandangan yang biasa dibantu oleh Lie datang untuk melayat.

Hingga dalam prosesi pemakaman, para anak asuh membentuk barisan panjang sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadapnya.

John Lie memiliki kontribusi yang besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, dan karenanya dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2009.

Penghargaan gelar Pahlawan Nasional diberikan kepadanya dalam peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2009.

Selain itu, ia juga menerima Bintang Mahaputera Utama dari Soeharto pada tahun 1995.

Total, ia menerima 2 Bintang Penghargaan dan 15 Satya Lencana sebagai penghormatan atas jasanya.

Nama John Lie diabadikan sebagai nama salah satu kapal korvet TNI AL, bersama dengan KRI Bung Tomo dan KRI Usman Harun. ***