POJOKSATU.id - Tidak sedikit aktor Tionghoa yang mewarnai seni dan budaya di Tanah Air, salah satunya aktor tiga zaman Tan Tjeng Bok alias Pak Item.

Aktor Tionghoa tahun 70-an ini bukan hanya ternama karena membintangi puluhan film. Tan Tjeng Bok yang kerap dipanggil Pak Item, juga seorang komedian.

Tan Tjeng Bok juga awalnya dikenal sebagai pemain tonil, bermain sandiwara dan teater. Aktor Tionghoa ini seorang penyanyi.

Kejayaan hidup Pak Item sempat bergelimang harta. Namun melarat di akhir hayat. Seperti sebuah drama, aktor Tionghoa Tan Tjeng Bok meninggal dalam kemiskinan.

Tan Tjeng Bok lahir di Jakarta pada tanggal 30 April 1899. Lahir dari pasangan seorang Tionghoa bernama Tan Soen Tjiang dan Dasih, perempuan asli Betawi.

 Baca Juga: Ramai Saat Imlek, Kelenteng Timbul atau Pekong Laut Ini Satu-satunya Vihara di Dunia yang Ada di Tengah Laut, Ini Alasannya

Tan Soen Tjiang adalah seorang guru silat di perguruan Siauw Lim Shi. Pernikahan Tan Soen Tjiang tidak disetujui oleh pihak keluarga. Ayahnya lalu menikah lagi dengan gadis Tionghoa.

Karena itu, dibanding dengan delapan orang saudaranya dari Tan Soen Tjiang, kulit Tan terbilang hitam. Dari situlah Tan Tjeng Bok kemudian dipanggil Si Item atau Pak Item.

Bakat seni Tan Tjeng Bok sudah terlihat saat berusia 12 tahun, saat ia masih menjadi murid Hollandsch Chineesche School di Bandung.

Ia sering bolos dan tidak betah di rumah. Dia pun belajar silat pada ayahnya, tapi nyatanya Tan Tjeng Bok lebih tertarik menjadi seorang penyanyi keroncong.

Tan Tjeng Bok lalu bergabung dengan Orkes Keroncong Hoetfischer pimpinan Tan Beng Goan atau Gobang dan mulai terlihat bakatnya sebagai penyanyi.

Namanya melambung saat membawakan lagu keroncong Moristko dan diajak berkeliling Jawa oleh group musik keroncong itu.

Tan Tjeng Bok lalu bergabung dengan group tonil Melayu Dardanella pada 21 Juni 1926 di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dardanella merupakan grup sandiwara yang sangat ternama dan pernah pentas di empat benua.

Bersama opera Dardanella pimpinan Piedro atau Pyotr Litmonov dan Miss Dja ini, Tan Tjeng Bok dibawa berkeliling dari Sabang sampai Merauke. Tan Tjeng Bok adalah bintangnya.

Baca Juga: Yap Thiam Hien, Jejak Tionghoa Pembela Kaum Tertindas, Penegak HAM yang Diabadikan Jadi Nama Penghargaan

Miss Dja atau Misria Dja alias Devi Dja atau Misri dan kemudian jadi Soetidjah, adalah seorang seniman tari, pemain sandiwara dan pemain film Indonesia yang terkenal di era 1940-an.

Di atas panggung, Tan Tjeng Bok memiliki teriak suara yang merdu, diselingi berbagai dialog, dan mampu memancing gelak tawa para pengunjung.

Sayangnya, Dardanella tutup layar di awal tahun 1940-an.

Tan Tjeng Bok kemudian bergabung dalam pertunjukan keliling Orpheus yang dipimpin oleh Manoch. Selanjutnya, ia juga bermain dalam kelompok Star yang dipimpin oleh Afiat.

Meskipun begitu, tidak ada satu pun dari kelompok opera tersebut yang dapat menyamai kesuksesan Dardanella.

Tan Tjeng Bok pertama kali menikah pada tahun 1917. Sepanjang hidupnya, ia mengalami lebih dari 100 kali pernikahan dan perceraian. Istri terakhirnya adalah Sarmini.

Sebelum Jepang menduduki Indonesia, di Jakarta, The Theng Tjoen mendirikan perusahaan perfilman bernama Java Industri Film (JIF). Melalui JIF, Si Item memasuki tahap baru dalam dunia perfilman.

Baca Juga: Sengaja Mirip Candi Borobudur, Ini Keunikan Vihara Banjar yang Warnai Keragaman Imlek dan Akulturasi

Film-filmnya yang diarahkan sutradara Tan Tjoei Hock, di antaranya "Melarat Tapi Sehat" dan "Si Bongkok dari Borobudur" yang menampilkan aktris Sofia WD, berhasil membuat Tan Tjeng Bok semakin tenar.

Pak Item juga bermain dalam produksi lainnya seperti "SiGomar", "Singa Laoet", "Srigala Item", dan "Tengkorak Hidoep".

Dalam banyak filmnya, Tan Tjeng Bok sering kali berpasangan dengan aktris Hadidjah.

Ketika itu sekitar tahun 1950-an, produksi film di Indonesia memang sedang pesat.

Para seniman film, penyanyi, dan pemain sandiwara, yang hidup di Kampung Tangki turut merasakan dampaknya, termasuk Pak Item dan seniman lainnya yang biasa pentas di Taman Hiburan Rakyat Lokasari.

Beberapa di antaranya selain Tan Tjeng Bok ada Lailasari, Eddy Sud, Ateng dan Iskak, Wolly Sutinah, Misbach Jusa Biran hingga Idris Sardi pernah tinggal di kampung padat dan rumah-rumah petak ini.

 Baca Juga: Saksikan Patung Seribu Wajah Menakjubkan Tak Perlu ke Hongkong, Jelang Liburan Imlek Cukup Kunjungi Vihara Ini

Kampung ini kemudian disebut dengan nama 'Tangkiwood' yang secara spontan muncul dari mulut penyanyi dan pelawak Bing Slamet. "Kalau Amerika punya Hollywood, kita punya 'Tangkiwood'," ujarnya.

Berangkat dari Tangkiwood dan film-film yang dimainkannya, nama Tan Tjeng Bok lama-lama makin sejajar dengan aktris papan atas pada masa itu seperti Fifi Young, Aminah Cendrakasih, Marlia Hadi, dan Moh Mochtar.

Hingga suatu ketika Tan Tjeng Bok dijuluki sebagai Douglas Farbank van Java - Douglas, artis Holywood yang terkenal. Di mana pun kehadiran Pak Item, selalu ditunggu.

Tan Tjeng Bok benar-benar aktor anak wayang, seniman panggung yang tak henti-hentinya bergumul dengan dunia seni panggung. Sangat tenar di era itu.

Mulai dari penyanyi keroncong, opera, ludruk, film layar lebar, wayang orang, bahkan lenong dan sandiwara Sunda hingga komedian telah dijelajahi oleh Tan Tjeng Bok.

Film terakhir yang diperankan Pak Item dari puluhan film lainnya adalah "Mandi Dalam Lumpur" pada 1984.

Baca Juga: Imlek Mulai Hits, Kepoin Vihara Mak Kupoh Karawang yang Indah Bernilai Sejarah

Namun, pemeran film 'Melarat Tapi Sehat' itu ternyata tak selalu beruntung, karena ia harus melarat di akhir hayat.

Tan Tjeng Bok tenggelam dalam gaya hidup boros. Hingga akhirnya hidup melarat saat memasuki usia senja dan terpaksa bekerja sebagai seorang kernet oplet dan tukang obat.

Saat dirawat di rumah sakit, surat kabar Sinar Harapan membuka donasi Dompet Tan Tjeng Bok, dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari dua puluh juta rupiah untuk membantu biaya perawatannya.

Pada tanggal 15 Februari 1985, Tan Tjeng Bok alias Pak Item meninggal dunia akibat serangan jantung.

Delapan belas tahun setelah kematiannya, pemerintah mengakui jasanya dalam dunia seni dengan memberikan penghargaan berupa tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma. ***