POJOKSATU.id — Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, fenomena mengibarkan bendera bajak laut One Piece, menyita perhatian publik.

Fenomena ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra.

Bendera itu direpresentasikan dari kisah fiksi yang melekat pada tokoh utama serial One Piece, Monkey D Luffy yang mengarungi lautan karena mencari harta karun.

Namun, cerita nyata seorang nelayan ini pernah terjadi di Laut Jawa—tepatnya di utara Cirebon.

Ia tak perlu menjadi perompak, nasib membawanya dalam kisah nyata dan penemuan harta karun di lautan yang masih menyisakan decak kagum para sejarawan dan pemburu sejarah.

Kisah Nyata Harta Karun dari Laut Jawa

Bermula pada suatu pagi tahun 2003.

Di Laut Jawa, sekitar 70 kilometer dari pesisir Cirebon dan tepat di atas kedalaman 50 meter, seorang nelayan tidak menyangka akan mengguncang dunia arkeologi maritim Indonesia.

Baca Juga: KISAH NYATA BAJAK LAUT Legendaris di Perairan Sriwijaya, si Naga Hitam Penguasa Laut yang Lebih Gahar dari Kisah Fantasi, Bahkan Penuh Intrik Politik

Ketika itu tangannya mengangkat jaring yang berat. Bukan karena ikan yang melimpah—melainkan potongan keramik kuno yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

Tak disadari, nelayan itu telah menemukan pintu masuk menuju masa lalu yang telah lama tenggelam.

Sesampainya di darat, ia penasaran dengan bentuk dan motif keramik tersebut. Rasa ingin tahunya kemudian membawa informasi ini menyebar luas hingga menjadi perhatian nasional.

Singkat cerita, pada Februari 2004 hingga Oktober 2005, PT Paradigma Putra Sejahtera dan Cosmix Underwater Research Ltd. bekerja sama untuk mengangkat benda-benda berharga dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon.

Kegiatan ini dilakukan dengan persetujuan dari Pemerintah Indonesia.

Inilah awal mula ditemukannya The Cirebon Shipwreck—penemuan harta karun laut terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Hasilnya? Mengejutkan dunia!

Baca Juga: Bukan ONE PIECE, Bukan Karakter Buatan, Ini PEJUANG LAUT Sejati Nusantara Sejak Zaman Kerajaan, Berlayar DEMI BANGSA

Konon, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon itu dikenal sebagai Cirebon Wreck.

Tidak seperti rute perdagangan maritim pada umumnya yang melewati Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Samudera Hindia, kapal ini diduga berasal dari wilayah Nusantara.

Berdasarkan riset Eka Asih, arkeolog merekonstruksi dan membandingkan keramik yang ditemukan di Cirebon dengan keramik yang ada di Sumatera Selatan, hasilnya sangat menarik.

Keramik-keramik tersebut identik dengan keramik yang ditemukan di Kesultanan Palembang.

Penemuan ini menjadi petunjuk penting. Pada masa Dinasti Tang berdagang keramik, Kerajaan Sriwijaya sedang berada di puncak kejayaan.

Aktivitas ekonominya sangat maju dan diyakini sudah menjangkau China. Hal ini menjelaskan mengapa ada temuan keramik serupa di kedua lokasi.

Dengan demikian, terungkaplah bahwa kapal tersebut kemungkinan besar mengangkut keramik-keramik dari China yang telah diperdagangkan di Sumatera Selatan.

Kapal itu sedang dalam perjalanan menuju Pantai Utara Jawa bagian timur ketika mengalami musibah dan karam di perairan Cirebon.

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional, tercatat ada 314.171 keramik yang berhasil diangkat.

Jumlah yang luar biasa besar, terdiri dari piring, mangkuk, dan porselen dari Tiongkok.

Lebih dalam lagi, peneliti Michael S. Krzemnick dkk. dalam jurnal Radiocarbon Age Dating of 1,000-Year-Old Pearls from the Cirebon Shipwreck (2017) mencatat bahwa kapal karam itu juga memuat 12.000 mutiara bernilai tinggi, ribuan permata dan emas.

Taksiran nilai harta karun di Laut Jawa itu disebutkan mencapai Rp720 miliar.

Baca Juga: Legenda Danau Toba, Bencana yang Melahirkan Kajaiban Alam

Ini sekaligus mengungkap jejak tentang Laut Jawa yang menyimpan sejarah peradaban luar biasa.

Jejak Perdagangan Kuno Era Sriwijaya

Penemuan ini bukan sekadar soal nilai ekonomis. Lebih dari itu, ia menjadi saksi bisu betapa megahnya peradaban maritim Nusantara.

Ada juga catatan dari UNESCO, kapal yang memuat harta karun tersebut berasal dari abad ke-10, berlayar antara Tiongkok dan Nusantara.

Muatannya berasal dari berbagai dunia—keramik Dinasti Liao (Tiongkok), kristal Sassania (Iran), hingga artefak spiritual berbentuk unicorn dan rusa dari Asia Timur.

Semuanya menjadi penanda bahwa Laut Jawa adalah jalur perdagangan internasional utama pada masa kejayaan Sriwijaya.

Bahkan juga ditemukan keramik Yue yao, keramik ritual dari kawasan Yue kuno di Tiongkok, menandakan adanya perdagangan barang-barang sakral yang tak sembarangan.

“Nelayan setempat menemukan keramik Cina di jaring ikan mereka. Benda-benda ini merupakan bagian dari bangkai kapal yang tenggelam di Laut Jawa pada pergantian milenium pertama,” tulis UNESCO dalam catatan resminya.

Baca Juga: Roro Jonggrang, Cinta, Kutukan, dan Legenda yang Membatu di Prambanan

Lautan Nusantara, Harta Karun Dunia

Bukan cuma di Cirebon. Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-7 hingga ke-19, ribuan kapal dari berbagai bangsa tenggelam di perairan Nusantara.

Kapal Cina dari berbagai dinasti, kapal VOC Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, Jepang—semuanya pernah menjadi bagian dari sejarah kelam perairan ini.

Sebagian karena badai, sebagian karena terbatasnya teknologi navigasi. Sisanya? Menjadi bagian dari legenda tentang harta karun bawah laut.

Semua temuan ini diklasifikasikan sebagai BMKT (Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam), atau masyarakat biasa menyebutnya Harta Karun Bawah Laut.

Data dari Asosiasi Pengusaha Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Indonesia mencatat setidaknya ada 487 titik kapal karam di dasar laut Indonesia.

Sementara itu, Tony Wells dalam bukunya Shipwrecks & Sunken Treasure in Southeast Asia (1995) mencatat bahwa ada setidaknya 185 kapal karam di wilayah Indonesia—sekitar 41% dari total kapal karam di Asia Tenggara.

Bayangkan, lebih dari sepertiga bangkai kapal tua dunia ada di perairan kita!

Baca Juga: Cerita Rakyat Abad Pertengahan, Kisah Lisan yang Tak Pernah Mati

Salah satunya adalah kapal Prins Willem Hendrick, kapal Belanda yang karam di Selat Bangka pada 1686.

Kapal ini mengangkut 400 ribu koin emas dan 400 penumpang. Yang selamat? Hanya enam orang. Termasuk sang kapten, yang belakangan dalam catatan diketahui ia dihukum gantung di Batavia.

Ada juga kapal legendaris Flor de la Mar, yang tenggelam di Selat Malaka pada 1511.

Kapal Portugis ini membawa 60 ton emas dan permata hasil jarahan dari Kerajaan Malaka, termasuk perabot rumah Sultan yang berlapis emas.

Kapal itu tenggelam bersama hampir seluruh awaknya. Hingga hari ini, bangkainya masih belum ditemukan—dan terus membangkitkan rasa penasaran para pemburu harta. 

Ia menjadi semacam Holy Grail bagi para pemburu harta dunia.

Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur, Dari Dinasti Syailendra hingga Warisan Dunia

Di balik penemuan harta karun yang berharga itu, kita disadarkan satu hal penting yang menegaskan laut nusantara  adalah bagian dari catatan sejarah yang belum banyak terjamah.

Ia bukan sekadarlautan, tapi museum raksasa yang menyimpan memori ribuan tahun.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: