POJOKSATU.id — Ramainya fenomena pengibaran bendera bajak laut One Piece di bawah Sang Saka Merah Putih bagi sebagian orang, dianggap kreatif dan bentuk eskpresi.
Namun bagi banyak pihak, fenomena ini sudah tak bisa ditoleransi. Simbol negara bukan untuk disandingkan dengan fiksi, apalagi di saat kita tengah menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia.
Alih-alih menghebohkan simbol bajak laut dari anime, jangan sampai lupa Indonesia punya deretan pejuang laut sejati.
Mereka bukan karakter buatan. Mereka nyata. Dan mereka berlayar, bukan demi harta, tapi demi bangsa.
Sejak Dahulu, Kita Adalah Bangsa Pelaut
Sebelum dunia mengenal bajak laut fiksi seperti Luffy dan kru Topi Jerami, nenek moyang Nusantara sudah lebih dulu mengarungi samudra luas.
Baca Juga: Legenda Danau Toba, Bencana yang Melahirkan Kajaiban Alam
Sejarah mencatat, para pelaut Indonesia telah menjelajah ke India, Arab, bahkan Afrika Timur sejak berabad-abad lalu.
Kapal-kapal besar seperti jong dan kun-lun po mengangkut ratusan orang dan logistik.
Keberanian mereka menembus badai dan menantang ombak adalah bukti nyata bahwa laut seolah halaman depan kehidupan kita.
Dan dari rahim sejarah itu, lahirlah para pejuang lautan. Mereka berani, tegas, dan cinta tanah air.
Mereka menjadikan laut bukan hanya jalur dagang, tapi medan tempur demi kedaulatan. Berikut fakta sejarah pejuang laut sejati yang dimiliki Nusantara kita.
Para Pejuang Laut
1. Laksamana Nala
Pada abad ke-14, saat Kerajaan Majapahit berjaya di bawah Mahapatih Gajah Mada, hadir sosok Laksamana Nala.
Laksamana Mpu Nala adalah seorang pemimpin armada laut yang berani dan disegani pada masa Kerajaan Majapahit.
Baca Juga: Roro Jonggrang, Cinta, Kutukan, dan Legenda yang Membatu di Prambanan
Ia dikenal sebagai panglima angkatan laut yang sangat berjasa dalam memperluas dan memperkuat pengaruh Majapahit di Nusantara.
Laksamana Nala adalah tangan kanan Gajah Mada dalam menaklukkan wilayah-wilayah seberang.
Dengan armada lautnya, Nala memimpin ekspedisi hingga ke Sumatra dan Kalimantan, memastikan bahwa kekuasaan Majapahit tak hanya di darat, tapi juga di lautan.
Laut baginya bukan batas, melainkan jembatan Nusantara.
2. Laksamana Malahayati
Berabad kemudian, di ujung barat negeri, berdiri gagah seorang perempuan pemberani bernama Keumalahayati atau lebih dikenal dengan panggilan Laksamana Malahayati.
Laksamana Malahayati adalah seorang laksamana perempuan pertama di dunia yang berasal dari Kesultanan Aceh.
Ia dikenal karena kepemimpinannya dalam angkatan laut Aceh dan perannya dalam pertempuran melawan penjajah Portugis dan Belanda.
Bahkan, ia memimpin ribuan pasukan perempuan, para janda pejuang yang tergabung dalam armada Inong Balee.
Bukan hanya bertahan, ia juga menyerang. Bahkan, di bawah komandonya, Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda pertama ke Nusantara, tewas di tangan pasukannya.
Ia adalah simbol kekuatan perempuan di medan laut.
3. Sultan Baabullah
Di timur Nusantara, muncul nama besar Sultan Baabullah dari Ternate, yang pada abad ke-16 dikenal sebagai “Penguasa 72 Pulau”.
Dialah yang berhasil mengusir Portugis dari benteng São Paulo, benteng kebanggaan kolonial di Maluku.
Baca Juga: PAHAMI! Perbedaan Mendasar Antara PPPK dan PNS yang Menjadi Sorotan Saat Ini!
Ia tak hanya membela Ternate, tapi juga mempertahankan jalur rempah-rempah—sumber utama kekayaan negeri ini yang diperebutkan dunia.
4. Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin memimpin armada laut Kerajaan Gowa untuk melawan kapal-kapal VOC yang mencoba menguasai jalur perdagangan di Selat Makassar.
Dikenal sebagai “Ayam Jantan dari Timur”, Hasanuddin menjadi duri dalam daging bagi VOC.
Ia berperang mati-matian menjaga tanah dan lautnya, melawan perjanjian yang timpang, menolak dijajah dengan harga diri.
5. La Maddukelleng
La Maddukelleng adalah seorang tokoh pejuang Bugis dari Wajo, Sulawesi Selatan yang dikenal karena kepemimpinannya dalam perlawanan terhadap Belanda dan perannya dalam memerdekakan Kerajaan Wajo.
Ia juga dikenal sebagai seorang pelaut ulung dan ahli strategi perang, terutama dalam pertempuran laut.
Ia menyerang Belanda dari laut, memanfaatkan armada perahu Bugis yang cepat dan lincah.
Ia tak punya kapal baja, tapi semangatnya lebih keras dari logam. Dalam gerak diam, ia melumpuhkan musuh di sepanjang pesisir Kalimantan dan Sulawesi.
6. Raja Haji Fisabilillah
Raja Haji Fisabilillah adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1997.
Dikenal karena perjuangannya melawan penjajahan Belanda di Kepulauan Riau dan Semenanjung Malaya pada abad ke-18.
Ia berperang langsung melawan VOC di Selat Malaka. Gugur di medan tempur laut tahun 1784, ia dikenang bukan hanya sebagai pahlawan nasional, tapi juga sebagai syuhada maritim.
Baca Juga: Cerita Rakyat Abad Pertengahan, Kisah Lisan yang Tak Pernah Mati
7. John Lie
Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, perjuangan belum selesai. Di lautan, muncul nama John Lie, seorang penyelundup senjata andal.
Ia berlayar dari Singapura, Thailand, hingga Australia, membawa logistik dan peluru untuk Republik yang baru lahir.
Ia berlayar bukan demi uang, tapi demi cinta pada negeri. Ia menantang blokade Belanda dan menang.
8. Yos Sudarso
Di Laut Aru, tahun 1962, Yos Sudarso gugur dalam tugas saat menjalankan misi pembebasan Irian Barat.
Kapalnya, KRI Macan Tutul, diserang kapal Belanda. Ia tak mundur. Ia tak lari. Ia bertahan hingga akhir. Dan darahnya menjadi semangat baru bagi bangsa ini.
Yos Sudarso adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Laut.
9. RE Martadinata
Nama lain yang tak bisa dilupakan adalah RE Martadinata, laksamana yang membangun kekuatan laut modern Indonesia.
Ia memperkuat armada, mencetak kadet, dan membentuk fondasi kekuatan maritim nasional. Ia bukan pejuang dengan pedang, tapi dengan strategi dan visi.
10. Laksamana Muda Mas Pardi
Laksamana Muda Mas Pardi adalah pendiri dan pimpinan Badan Keamanan Rakyat Pusat (BKR) Marinir, cikal bakal Angkatan Laut Indonesia.
Mas Pardi dikenal sebagai "Bapak Pelayaran Indonesia" karena mendirikan sekolah-sekolah maritim.
Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur, Dari Dinasti Syailendra hingga Warisan Dunia
Mas Pardi merancang pendidikan pelaut dan membangun armada dari nol. Tanpa dirinya, laut kita hanya akan jadi latar belakang, bukan kekuatan bangsa.
Jangan Salah Mengidolakan
Jadi, boleh saja kita menyukai anime. Boleh saja tertawa melihat petualangan Luffy dan kawan-kawan. Tapi jangan sampai itu mengaburkan sejarah kita sendiri.
Mereka yang berlayar demi kemerdekaan ini bukan karakter fiksi.
Mereka adalah nama-nama yang hidup dalam darah sejarah bangsa. Mereka adalah pelaut sejati Indonesia.
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Reizka Kemala Nazar

