POJOKSATU.id — Kisah petualangan dan kejayaan di laut bahari difaktakan nenek moyang bangsa Indonesia.

Tidak usah jauh-jauh dan berkhayal di fiksi karakter si Topi Jerami, catatan ini mengungkap para pemberani yang lahir dari kejayaan bahari. Hingga tercipta lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa …

Lagu ciptaan Ibu Soed ini bukan sekadar jingle masa kecil, tapi sesungguhnyai membisikkan sejarah besar bangsa kita.

Baca Juga: One Piece Kalah Sama NELAYAN, Ini Kisah Penemuan Harta Karun di LAUT JAWA Hingga Menguak JEJAK SEJARAH dan Mengguncang UNESCO Hingga Dunia

Lagu itu diciptakan tahun 1940, saat Ibu Soed—nama lengkapnya Saridjah Niung—mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan lagu-lagu anak penuh nilai moral.

Dan salah satu nilainya? Ya itu tadi, membangkitkan semangat bahari kepada anak Indonesia.

Bagaimana fakta nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut?

Kita mulai mengarungi samudra sejarah bangsa pelaut kita berikut ini.

Gua Muna, Titik Awal Pelaut Nusantara

Kita mulai dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Di sana, ada Gua Muna yang sudah berusia lebih dari 4.000 tahun. Di dinding gua itu, ada lukisan kuno yang menggambarkan perahu.

Menurut arkeolog Bambang Budi Utomo, lukisan itu dibuat oleh leluhur bangsa Indonesia yang berasal dari Formosa (Taiwan).

Mereka dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia, bahasa yang juga jadi cikal bakal banyak bahasa di Indonesia.

Mereka menyeberangi lautan luas untuk bercocok tanam dan menetap. Karena teknik mereka—menebang dan membakar—sehingga tanah cepat rusak, dan akhirnya mereka terus mencari tanah baru. Dan untuk itulah, mereka harus jadi pelaut.

Baca Juga: KISAH NYATA BAJAK LAUT Legendaris di Perairan Sriwijaya, si Naga Hitam Penguasa Laut yang Lebih Gahar dari Kisah Fantasi, Bahkan Penuh Intrik Politik

Dari Rakitan Bambu hingga Perahu Cadik

Lautan luas dan ganas tak membuat mereka gentar. Mereka malah mengembangkan teknologi perahu.

Mulai dari rakit bambu, kano kecil, hingga yang paling luar biasa, membuat perahu bercadik.

Cadik itu semacam sayap di samping perahu, berfungsi sebagai penyeimbang. Supaya tidak gampang terbalik walau ombak menggila.

Teknologi itu jadi cikal bakal budaya pelayaran kita. Dan ketika mereka sampai di Muna, pengalaman berlayar itu diabadikan lewat lukisan dalam gua tersebut.

Rempah-Rempah dan Jalan Menuju Dunia

Waktu berjalan, mereka menyebar ke Maluku, Jawa, Sumatera.

Di sana mereka menemukan rempah-rempah seperti cengkih, kayumanis, pala, dan lada. Tanaman ini diburu bangsa-bangsa besar di Eropa, China, hingga Timur Tengah.

Dan siapa yang mengantarkan rempah-rempah itu ke pasar dunia?

Ya, pelaut Austronesia—nenek moyang bangsa Indonesia! Mereka berlayar hingga ke Timur Afrika, membawa rempah-rempah untuk dijual di pelabuhan Arab.

Kapalnya? Masih pakai perahu bercadik!

Baca Juga: Bukan ONE PIECE, Bukan Karakter Buatan, Ini PEJUANG LAUT Sejati Nusantara Sejak Zaman Kerajaan, Berlayar DEMI BANGSA

Dan ketika masuk abad Masehi, teknologi perkapalan semakin berkembang dan mereka sudah bisa membuat kapal besar atau jung. 

Bukti itu bahkan tercatat di relief Candi Borobudur dan prasasti-prasasti kuno di Jawa Timur.

Pada tahun 1982, seorang warga Inggris bernama Philip Beale mengunjungi Candi Borobudur dan terkesima melihat relief perahu bercadik di sana.

Kekaguman ini menginspirasinya untuk membuat replika perahu tersebut dan menggunakannya untuk mengikuti kembali rute pelayaran kuno dari Indonesia ke Afrika.

Kapal replika itu diberi nama Samudera Raksa. Setelah diresmikan pada bulan Juli 2003, kapal ini memulai perjalanannya dalam sebuah misi yang diberi nama Ekspedisi Borobudur.

Baca Juga: Legenda Danau Toba, Bencana yang Melahirkan Kajaiban Alam

Kapal tersebut, yang diawaki oleh kru dari Indonesia dan negara lain, diberangkatkan oleh Presiden Megawati di Ancol, Jakarta, pada 15 Agustus 2003.

Samudera Raksa menempuh rute kuno yang dikenal sebagai Jalur Kayu Manis.

Perjalanan epik ini melintasi Samudra Hindia hingga perairan Samudra Atlantik, dengan jarak tempuh total 12.210 mil.

Rute yang dilewati meliputi Indonesia, Maladewa, Madagaskar, Cape Town, hingga akhirnya mencapai Ghana.

Setelah berlayar selama delapan bulan, Ekspedisi Borobudur berhasil merampungkan misinya.

Pada 23 Februari 2004, perahu Samudera Raksa akhirnya tiba di perairan lepas pantai barat daya Afrika, menandai keberhasilan napak tilas perjalanan bahari purba dan menegaskan hebatnya teknologi perahu bercadik bikinan nenek moyang Indonesia.

Jung, Sampan, Jukung, Hingga Pinisi

Teknologi kapal kita makin canggih. Di Nusantara, lahir beragam jenis perahu seperti arumbai, jukung, lepa-lepa, padewakang, pinisi, dan banyak lagi.

Setiap daerah bahkan punya ciri khas sendiri.

Baca Juga: Jejak Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa Laksamana Muda John Lie, Kisah Hantu Selat Malaka yang Sering Menyantuni Anak Jalanan dan Gelandangan

Menurut Prof. A.B. Lapian, tiap suku di Nusantara mengembangkan kemampuan lautnya dengan cara masing-masing. Nenek moyang kita bukan sekadar naik perahu, mereka bahkan menciptakan peradaban laut!

Hal ini juga membuktikan bahwa nenek moyang kita bukan pelaut nekat. Mereka juga menguasai ilmu pelayaran dengan mengembangkan teknologi perkapalan dan navigasi pelayaran.

Bayangkan, mereka tahu arah angin, pergerakan arus laut, membaca awan, sinar matahari, bahkan bisa mencium air laut untuk tahu lokasi!

Ada juga yang memakai bintang, bulan, bahkan warna air laut.

Dan ketika orang Portugis datang abad ke-16, mereka butuh mualim lokal atau pemandu perjalanan untuk memandu pelayaran mereka.

Baca Juga: Film DJUANDA PEMERSATU LAUT INDONESIA, Perjuangan Menjaga KEDAULATAN LAUT lNDONESIA, Gunakan Teknologi UNREAL ENGINE

Fakta mengagumkan, mualim kita sudah bisa baca kompas dan peta, bahkan ada peta beraksara Jawa. Sayangnya, peta itu hilang karena kapal yang membawanya tenggelam.

Ketika Kompas Tidak Laku

Lucu sih. Ada satu cerita dari abad ke-17. Seorang Belanda bernama Steven van der Haghen yang membawa banyak kompas dari Eropa untuk dijual di Nusantara.

Tapi apa yang terjadi? Kompasnya sama sekali tidak ada yang membeli!

Penyebabnya, masyarakat lokal udah bisa berlayar tanpa kompas!

Lagi-lagi kata Prof Lapian, orang Nusantara sudah mempunya sistem navigasi sendiri.

Kadang pakai dua arah angin, empat arah, atau delapan. Bahkan bisa tahu arah dari bentuk awan, jenis air, dan warna langit. Luar biasa!

Baca Juga: Peringatan dari Pemerintah Larangan Pengibaran Bendera Bajak Laut One Piece di HUT RI Ke 80

Berbagai bukti penemuan bersejarah itu menjadi fakata bahwa nenek moyang kita adalah penjelajah, pencipta, pedagang, dan bahkan ilmuwan bahari.

Semangat itulah yang coba disampaikan Ibu Soed lewat lagu sederhana itu.

Bahwa kita ini bukan sekadar bangsa daratan, tapi juga bangsa penguasa samudra.

 

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: