POJOKSATU.id - Soeharto dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden melalui gelombang Reformasi yang puncaknya terjadi pada 21 Mei 1998 silam.
Itu setelah 32 tahun Soeharto berkuasa menjadi orang nomor satu di Indonesia, tanpa ada satupun yang mengadang atau berani mengkritiknya.
Predikatnya pun berubah 180 derajat. Dari Bapak Pembangunan sampai akhirnya jadi pemimpin diktator.
Sebagai orang Jawa, Soeharto juga dikelilingi berbagai kepercayaan dan adat Jawa yang kental.
Baca Juga: Kisah Soeharto Capek jadi Presiden tapi Terus Dipaksa Orang 'Terdekat'
Terlebih istrinya, Ibu Tien, adalah anak seorang bangsawan Jawa yang memegang teguh adat istiadat serta kebudayaan Jawa.
Pelengseran Soeharto itu juga tidak lepas dari kepercayaan akan sebuah pertanda.
Pertanda itu terjadi hanya beberapa bulan sebelum ia dilengserkan melalui gelombang demonstrasi besar-besaran dari seluruh penjuru Tanah Air.
Pertanda itu adalah palu sidang yang patah.
Dilantik
Bebarapa bulan sebelum 21 Mei 1998, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden Indonesia untuk ketujuh kalinya.
Baca Juga: Jadi Mantan Istri Prabowo Subianto, Ternyata Segini Harta Kekayaan Titik Soeharto Selama Ini
Itu setelah DPR dan MPR saat itu secara kompak satu suara melalui 'pemilihan' menyetujui Soeharto sebagai presiden.
Tepatnya pada 10 Maret 1998.
Sehari setelah 'pemilihan' itu, Soeharto kembali menjalani prosesi pelantikan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Pemimpin sidang pelantikan itu tidak lain adalah Harmoko, Ketua DPR/MPR kala itu, mantan Menteri Penerangan selama 3 periode sebelumnya.
Seluruh prosesi pelantikan pun berjalan lancar tanpa ada hambatan.
Mulai dari pembukaan, bahkan sampai prosesi pengucapan sumpah dan janji presiden.
Namun pertanda itu ternyata terjadi di penghujung Sidang Umum MPR RI tersebut.
Baca Juga: Melihat Kebijakan Soeharto untuk Perkembangan Ekonomi di Masa Orde Baru
Harmoko sebagai pimpinan sidang menggunakan palu sidang untuk menutup sidang paripurna pelantikan Soeharto.
Palu sidang itu adalah palu yang sama yang digunakan Harmoko untuk membuka sidang di awal.
Saat itu, palu sidang dalam keadaan baik-baik saja. Tidak rusak. Tidak juga cacat. Tapi masih sempurna.
Tapi saat Harmoko mengetukkan palu sidang untuk menutup sidang, palu itu ternyata patah menjadi 2 bagian.
Kepala palu terpental dan jatuh ke lantai. Sementara gagang palu masih ada dalam genggaman Harmoko.
Baca Juga: Alasan Soeharto Selalu Menolak Bertemu BJ Habibie Setelah Mengundurkan Diri
Patahnya palu sidang itulah yang pasca pelengseran, dipercaya sebagai sebuah pertanda patahnya kekuasaan 32 tahun Soeharto.
Firasat Usai 70 Hari
Patahnya palu Sidang Umum MPR pelantikan Soeharto itu memang tidak membatalkan Soeharto sebagai presiden.
Tapi patahnya palu tersebut membuat Harmoko sangat kepikiran.
Dalam sebuah catatan, Harmoko, usai sidang sampai mengejar Soeharto yang saat itu hendak masuk lift untuk meninggalkan gedung Parlemen.
Dalam perjalanan menuju lift itu untuk mengantar Soeharto, Harmoko menyampaikan permintaan maaf karena palu sidang yang patah.
Insiden palu sidang patah itu juga menjadi yang pertama kali dalam sejarah sidang-sidang yang digelar di gedung Parlemen.
Apalagi sampai terjadi saat pelantikan presiden. Tidak pernah terjadi sebelumnya.
Disebutkan bahwa insiden palu patah saat itu tidak benar-benar dipermasalahkan Soeharto.
Baca Juga: 4 Kisah Soeharto Saat Blusukan, dari Bawa Bekal Hingga Menginap di Rumah Warga
Atau mungkin berusaha untuk tidak dipermasalahkan.
Kepada Harmoko, Soeharto menyatakan bahwa mungkin saja palunya longgar sehingga patah menjadi 2 bagian.
Akan tetapi bagi Harmoko, yang juga orang Jawa, peristiwa itu tidak bisa dianggap sembarangan dan angin lalu.
Bahkan Harmoko sendiri mengakui bahwa palu sidang patah itu memang merupakan sebuah firasat.
Hal itu terungkap dalam buku 'Berhentinya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Harmoko' yang ditulis Firdaus Syam.
Baca Juga: Kisah Perseteruan Gus Dur dan Soeharto, dari Tulisan, Ucapan Hingga Percobaan Memecah Belah NU
"Peristiwa itu bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Sepertinya ada firasat," katanya.
Arwan Tuti Artha dalam 'Dunia Spiritual Soeharto' (2007) mengaitkan patahnya palu sidang itu sebagai sebuah pertanda.
Yakni pertanda patahnya kekuasaan Soeharto selama 32 tahun yang akan tiba dalam waktu dekat.
"Itu bukan kejadian lucu, tetapi sebenarnya isyarat alam yang tak bisa ditangkap oleh sebagian masyarakat di tengah kegembiraan," tulisnya.
Patahnya palu sidang itu juga dianggap sebagai sebuah isyarat alam.
"Bahwa sesungguhnya masyarakat tidak menghendaki Soeharto menjadi presiden," sambung Arwan Tuti Artha.
Di sisi lain, Soharto dalam setiap tindak-tanduknya sangat kental dengan budaya dan spiritual Jawa.
Dia juga kerap menggunakan kode-kode khusus yang jadi khas Raja Jawa selama berkuasa.
Baca Juga: Kisah Soeharto Undang 4 Pengamen Jalanan untuk Nyanyi di Ulang Tahun Ibu Tien
Entah kebetulan atau tidak, tapi isyarat alam itu ternyata benar-benar terjadi.
Tepatnya 70 hari setelah palu sidang itu patah, pada 21 Mei 1998.
Setelah gelombang demonstrasi di seantero negeri, Soeharto mengumumkan lengser dari jabatannya sebagai presiden.***

