POJOKSATU.id - Andai Soeharto menuruti kata hatinya, Presiden ke-2 RI itu tidak akan dilengserkan melalui Reformasi 1998 silam.

Jika bukan karena adanya desakan dan paksaan dari sejumlah pihak, Soeharto akan mengakhiri masa kepemimpinannya pada 1993.

Akan tetapi takdir berkata lain. Soeharto kembali 'dipasang' sebagai presiden.

Sampai akhirnya terjadi gonjang-ganjing yang menjadi catatan kelam sejarah Indonesia pada 1998.

Baca Juga: Jadi Mantan Istri Prabowo Subianto, Ternyata Segini Harta Kekayaan Titik Soeharto Selama Ini

Dimana rakyat dari seluruh penjuru Tanah Air secara serempak menyuarakan pelengseran Soeharto.

 

Pertanda Pertama

Soeharto sejatinya sudah melontarkan sinyal ingin menyudahi jabatan sebagai presiden sejak awal 1990.

Sinyal itu diutarakan Soeharto setelah melantik Try Sutrisno sebagai Panglima ABRI. Saat ini disebut sebagai Panglima TNI.

Try Soetrisno mengungkap, saat melantik dirinya itu, Soeharto sempat mengutarakan kalimat yang mengsinyalkan keengganannya kembali  jadi presiden untuk periode 1993-1998.

Baca Juga: Melihat Kebijakan Soeharto untuk Perkembangan Ekonomi di Masa Orde Baru

Kepada sosok yang kemudian jadi Wakil Presiden itu, Soeharto mengatakan, pelantikan Try sebagai Panglima ABRI untuk masa bakti 1988- 1993 adalah pelantikannya yang terakhir sebagai presiden.

Saat itu Soeharto sudah berusia 67 tahun dan ingin mengakhiri masa jabatannya di usia 72 tahun.

Menurut Soharto, pada umur itulah menjadi momen yang paling tepat untuk berhenti sebagai presiden.

Alasannya, tidak lain karena usianya yang sudah lanjut, kesehatan dan tidak memungkinkan lagi menjalani tugas presiden yang sangat  berat.

Pertanda kedua juga pernah dilontarkan Soeharto saat menerima kunjungan pengurus sebuah organisasi kepemudaan pada tahun 1991.

Di kesempatan itu Soeharto menekankan pentingnya kaderisasi dan regenerasi.

Saat itu, Soeharto membuat candaan yang tidak lain merujuk kepada dirinya sendiri.

Baca Juga: Alasan Soeharto Selalu Menolak Bertemu BJ Habibie Setelah Mengundurkan Diri

"Saya ini sudah TOPP. Artinya sudah tua, ompong, peot, dan pikun,” seloroh Soeharto dituturkan Try Soetrisno dalam Bunga Rampai Pak  Harto: Sisi-Sisi yang Terlupakan suntingan O.C. Kaligis.

Tapi faktanya, Soeharto malah bersedia dicalonkan kembali sebagai presiden untuk periode 1993-1998.

Demikian juga dengan periode selanjutnya, 1998-2003.

Akan tetapi hal itulah yang menjadi cikal bakal ia kemudian dilengserkan melalui Reformasi 1998.

 

Rayuan Orang-orang Terdekat

Keinginan Soeharto 'pensiun' itu ternyata juga menjadi keinginan sejumlah orang-orang terdekatnya, sahabat dan koleganya.

Baca Juga: 4 Kisah Soeharto Saat Blusukan, dari Bawa Bekal Hingga Menginap di Rumah Warga

Bahkan hal itu juga datang dari istrinya, Tien Soeharto.

Hal itu terungkap dalam pertemuannya dengan Emil Salim di kediaman Soeharto, di Jalan Cendana 8, Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan itu, Emil Salim mengungkap kelegaannya karena namanya tidak lagi masuk dalam jajaran menteri Kebinet Pembangunan VI.

Emil Salim berujar, ia dan istrinya kini sudah bisa merasakan kehidupan normal sebagai masyarakat biasa.

Bisa makan di pinggir jalan tanpa terganggun keberadaan wartawan atau orang lain yang memperhatikan.

Tanpa dinyana, Soeharto membalas cerita Emil Salim itu dengan setengah curhat.

"Saya juga sudah sudah capek. Ibu Tien sudah berkali-kali meminta agar saya lengser keprabon."

Baca Juga: Kisah Perseteruan Gus Dur dan Soeharto, dari Tulisan, Ucapan Hingga Percobaan Memecah Belah NU

"Saya sendiri juga merasa sudah waktunya  untuk mengundurkan diri,” kata Soeharto kepada Emil Salim.

Selain Ibu Tien, saran yang sama juga pernah dilontarkan Prabowo Subianto, yang saat itu merupakan menantu Soeharto.

Hal itu diungkap Jenderal Hartono, mantan KASAD yang dekat dengan Keluarga Cendana, dalam wawancara majalah Forum, 18 Mei 2003.

Dalam ceritanya, Hartono mengaku pernah diminta Prabowo membujuk mertuanya untuk mengundurkan diri.

Ketika Hartono bertanya siapa penggantinya, Prabowo mantap menyebut nama BJ Habibie.

Sederet nama lain juga pernah memberikan saran dan bujukan yang sama.

Baca Juga: Kisah Soeharto Undang 4 Pengamen Jalanan untuk Nyanyi di Ulang Tahun Ibu Tien

Di antaranya mantan Kepala Bakin Jenderal Yoga Soegomo sampai Gubernur Lemhanas Letjen Sayidiman Suryohadiprodjo.

 

Baca halaman selanjutnya...

Terus Didorong

Pihak-pihak yang terus mendesak dan mendorong Soeharto kembali jadi presiden disebut merupakan orang-orang yang tidak jauh dari  Soeharto.

Tujuannya, tidak lain agar kepentingan 'linkaran dalam', 'orang-orang dekat', 'sekutu' dan orang sekelilingnya itu bisa tetap terjaga.

Diawali di penghujung 1997 dimana Dewan Pembina Partai Golkar saat itu menyelenggarakan 'penjaringan aspirasi rakyat'.

Baca Juga: Kisah Menteri Paling Setia Dampingi Soeharto Usai Ditinggal Orang Kepercayaannya

Dalam proses itu, disebutkan bahwa 92 persen responden menginginkan Soeharto tetap menjadi presiden.

Salah satu tokoh yang sangat getol mendorong-dorong Soeharto maju kembali adalah Harmoko, Ketua Umum Partai Golkar saat itu.

Walau sudah diketahui bersama bahwa saat itu Soeharto sudah berusia 76 tahun.

Pengumuman Soeharto kembali maju sebagai presiden bahkan diumumkan Harmoko pada Rapimnas Partai Golkar pada 16 Oktober 1997.

Baca Juga: Kisah Omar Dhani, Panglima Kesayangan Soekarno yang Jadi Pesakitan di Masa Soeharto

3 hari berselang, Partai Golkar mengeluarkan maklumat Soeharto sebagai calon presiden tepat perayaan HUT Golkar ke-33 di Balai Sidang  Senayan.

Namun di tengah perjalanan, pada Mei 1998, seluruh rakyat Indonesia malah menghendaki Soeharto ditendang dari Istana.

Soeharto yang awalnya dikenal sebagai Bapak Pembangunan langsung berubah menjadi pemimpin diktator yang berkuasa selama 32 tahun.***