POJOKSATU.id - Pada masa pemerintahan Soeharto, Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang kritis terhadap rezim Orde Baru.

Sebagai Ketua Umum PBNU kala itu, Gus Dur berjuang untuk membela masyarakat miskin yang tertindas dengan cara kritik yang ditulis di berbagai media.

Atas kritik itu Gus Dur itu, Soeharto mulai resah dan merasa tak senang.

Salah satu permasalahan yang memicu ketegangan antara Gus Dur dan Soeharto adalah sebuah buku yang ditulis oleh Adam Schwarz yang berjudul "A Nation In Waiting: Indonesia in The 1900".

Baca Juga: Aktivis 98 Ini Semangati Firli Bahuri, Jangan Gentar Lawan Serangan Balik Koruptor, Buka Semua Data ke Dewas K

Dalam buku tersebut, terdapat kutipan dari wawancara dengan Gus Dur di mana ia menyebut Soeharto dengan sebutan "bodoh".

Ucapan itu membuat Soeharto naik pitam dan menjadi marah terhadap Gus Dur.

Soeharto juga semakin tidak menyukai Gus Dur karena dukungannya terhadap para aktivis yang melawan pemerintahan. Sikap kritis dan pandangan Gus Dur menimbulkan tekanan yang kuat dari pemerintahan.

Akhirnya Soeharto melakukan berbagai cara dan upaya untuk mencopot Gus Dur dari posisinya di PBNU, namun semua upaya tersebut pun gagal.

Baca Juga: Situs Kemenhan Diretas, Roy Suryo Sebut Penanganan Pemerintah Kurang Gercep

Salah satu contohnya adalah upaya untuk menghalangi pencalonan Gus Dur dalam Muktamar NU pada tahun 1994 di Cipasung.

Para pendukung Soeharto memecah-belah NU dan mencoba menciptakan Muktamar NU alternatif dengan calon Abu Hasan yang sebelumnya kalah dalam Muktamar NU di Cipasung.

Namun, Gus Dur tetap terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU untuk ketiga kalinya meskipun adanya upaya tersebut.

Muktamar ke-29 NU yang diadakan di Cipasung tercatat sebagai salah satu yang paling tegang dan kontroversial dalam sejarah NU.

Arena muktamar dijaga ketat oleh sekitar 1.500 personel tentara dan ratusan intel, bahkan ada yang menyamar dengan seragam Bantuan Ansor Serbaguna (Banser).

Baca Juga: Megawati Main Lagi Sore Ini Bersama Red Sparks, Lawan Juara Bertahan Liga Voli Korea Selatan

Aparat keamanan memantau setiap kegiatan delegasi dalam sidang-sidang yang diadakan.

Upaya untuk menggagalkan Gus Dur telah terasa sejak Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Lampung pada tahun 1992. Pemerintahan Soeharto berusaha memecah belah anggota dan simpatisan NU dari dalam.

Kemudian muncul kelompok-kelompok yang anti terhadap Gus Dur dengan menggunakan slogan ABG atau asal bukan Gus Dur.

Dari situlah hubungan antara Gus Dur dan pemerintah semakin memburuk. Konflik antara Gus Dur dan Soeharto memiliki sejarah yang panjang.

Pada acara Kick Andy tanggal 15 November 2007, Gus Dur secara terbuka menyatakan perasaannya di televisi.

Ia mengatakan bahwa pemimpin di Indonesia yang pantas menjadi musuhnya hanya satu, yakni Soeharto.

Namun sebagai seorang kiai, tokoh agama, budayawan, dan politisi, Gus Dur mengakui bahwa ia masih mengunjungi Soeharto saat perayaan Idul Fitri atau saat Soeharto sakit.

Gus Dur juga merupakan satu-satunya presiden RI yang melayat ke Cendana saat Soeharto wafat. Sementara Megawati dan Habibie sedang berada di luar negeri saat itu.

Seperti yang tercatat dalam buku "Hari-hari Terakhir Jejak Soeharto Setelah Lengser, 1998-2008", Megawati sedang menjalani perawatan di Singapura, sedangkan Habibie yang sempat mencoba menjenguk Soeharto namun ditolak oleh keluarga Cendana, saat itu berada di Amerika.***