POJOKSATU.id - Setelah 14 menteri yang diangkat olehnya menyatakan pengunduran diri mereka, Soeharto pun siap mundur dari jabatannya sebagai presiden.
Rasa kecewa tidak dapat disembunyikan ketika Soeharto menerima surat pengunduran diri dari para pembantunya.
Namun terdapat satu hal yang membuatnya ragu, yaitu siapa calon penggantinya. Secara konstitusi, Wakil Presiden BJ Habibie secara otomatis akan menggantikan Soeharto jika ia turun dari jabatannya. Sayangnya hal tersebut justru membuat Soeharto merasa khawatir.
Menurut Soeharto, Habibie adalah seorang teman dekat yang cerdas dan tangkas, tetapi ia belum dianggap "kuat" untuk menjadi pemimpin di Indonesia.
Baca Juga: 4 Kisah Soeharto Saat Blusukan, dari Bawa Bekal Hingga Menginap di Rumah Warga
Probosutedjo sebagai adik Soeharto yang berada di kediaman Jalan Cendana malam itu mengungkapkan bahwa pada saat itu Soeharto terlihat cemas dan ragu-ragu.
Ia mengungkapkan bahwa dalam keadaan yang gugup dan bimbang, Soeharto merasa khawatir apakah Habibie bersedia dan mampu menerima penyerahan kekuasaan.
Marzuki Usman seorang mantan Menteri Pariwisata pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie dalam bukunya yang berjudul 'Kekacauan Negara di Tengah Presiden Ketiga dan Keempat,' mengungkapkan bahwa Habibie pernah mengumpat kepada Soeharto karena kemampuannya diragukan.
Dalam bagian kedua buku tersebut, Marzuki Usman mengungkap sisi lain dari suksesi tahun 1998, yaitu tentang Presiden Soeharto yang secara nekat ingin melanjutkan pemerintahannya dan meragukan kemampuan wakilnya yakni BJ Habibie dalam mengatasi krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia saat itu.
Baca Juga: Parpol Caleg Muda Terbanyak Ternyata Partai Garda Republik Indonesia, Nomor Dua PSI
Pandangan negatif Soeharto tersebut akhirnya sampai ke telinga Habibie. Setelah diberitahu oleh Tanri Abeng, Habibie merasa marah dan langsung mendatangi Soeharto di kediaman Cendana hingga mengucapkan kata "kurang ajar" dalam kemarahannya.
Malik Fadjar sebagai Menteri Agama pada saat itu mengaku bahwa rumahnya pernah digunakan sebagai tempat rapat oleh 14 menteri yang mengundurkan diri dari Kabinet Pembangunan VII di bawah kepemimpinan Soeharto.
Ia mengungkapkan bahwa pengunduran diri Soeharto tidak hanya disebabkan oleh mundurnya 14 menteri tersebut, tetapi juga karena adanya berbagai aspek terutama tekanan politik dan ekonomi yang semakin memperburuk kondisi negara.
Ternyata meskipun Soeharto sudah tidak berkuasa lagi, ia masih merasa kesal terhadap Habibie. Bahkan ketika Soeharto sakit dan dirawat di RS Pusat Pertamina pada pertengahan Januari 2008, Habibie tidak diizinkan untuk menjenguknya.
Padahal saat itu, Habibie dan istrinya Ainun sengaja datang dari Jerman dengan tujuan menjenguk Soeharto.
Setelah turun dari pesawat, Habibie bahkan tidak mampir ke rumah tetapi langsung menuju RS Pertamina untuk menjenguk Soeharto.
Setelah niat baiknya ditolak, Habibie langsung kembali ke Bandara untuk kembali terbang ke Jerman. Pada saat itu, satu-satunya alasan Habibie pulang ke Tanah Air adalah untuk menjenguk Soeharto.
Ketika BJ Habibie mengangkat sumpah sebagai Presiden ke-3, saat itu juga menjadi pertemuan terakhir antara ia dan Soeharto hingga akhir hayat mereka masing-masing.
Setelah itu, keduanya tidak pernah lagi bertemu secara langsung dan hanya berkomunikasi melalui telepon.
Pada tanggal 9 Juni 1998, Habibie sempat berbicara dengan Soeharto melalui telepon sehari setelah ulang tahun Soeharto yang ke-77.
Selain mengucapkan selamat hari jadi, Habibie juga meminta untuk bertemu, namun sayangnya permintaannya tersebut ditolak oleh Soeharto.***



.webp)
