POJOKSATU.id - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) resmi merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang diikuti 91 negara atau ekonomi dengan melibatkan lebih dari 760 ribu murid sebagai sampel di seluruh dunia.
Jumlah tersebut menjadi partisipasi terbesar sejak PISA pertama kali digelar pada 2000.
Hasil PISA 2025 menunjukkan Indonesia mampu memperluas akses pendidikan secara signifikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan capaian Indonesia perlu dilihat di tengah tren penurunan skor sains, membaca, dan matematika di negara-negara OECD selama 25 tahun terakhir.
Baca Juga: PJJ di Banten Diperpanjang hingga 11 September, Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” jelas Toni.
Skor Sains dan Membaca Indonesia Naik 6 Poin
Kemendikdasmen mencatat kenaikan pada dua domain utama PISA 2025. Literasi sains yang menjadi fokus utama asesmen tahun ini menjadi salah satu capaian tertinggi Indonesia.
Skor sains Indonesia meningkat dari 383 poin pada PISA 2022 menjadi 389 poin pada PISA 2025, atau naik 6 poin.
Sementara itu, skor membaca juga naik 6 poin, dari 359 poin menjadi 365 poin.
Adapun skor matematika Indonesia berada di angka 364 poin pada PISA 2025.
Baca Juga: Bansos Beras 30 Kg September 2026 Cair, Begini Cara Cek Penerimanya
Kenaikan skor sains dan membaca menjadi capaian penting di tengah tantangan peningkatan kualitas pembelajaran yang masih dihadapi Indonesia.
Coverage Index Indonesia Naik Hampir Dua Kali Lipat
Salah satu temuan yang turut menjadi perhatian dalam PISA 2025 adalah peningkatan Coverage Index Indonesia.
Coverage Index merupakan ukuran yang menggambarkan proporsi anak berusia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal.
Jadi, angka Coverage Index bukan skor PISA dan bukan pula persentase murid yang memperoleh nilai tertentu dalam ujian PISA.
Pada keikutsertaan pertama Indonesia dalam PISA 2003, Coverage Index berada di angka 0,46, yang secara sederhana menunjukkan cakupan sekitar 46 persen populasi usia 15 tahun dalam sistem pendidikan formal.
Pada PISA 2025, angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat menjadi 0,90 atau sekitar 90 persen.
Dengan demikian, semakin besar proporsi anak Indonesia yang tetap berada dalam sistem pendidikan formal hingga usia 15 tahun dan masuk dalam cakupan populasi yang menjadi sasaran PISA.
Peningkatan Coverage Index ini menjadi indikator penting karena Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan kepada lebih banyak anak tanpa diikuti penurunan skor secara keseluruhan.
Perluasan akses tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi seluruh siswa.
Indonesia telah beralih penuh dari moda paper based test (PBT) ke computer based test (CBT) sejak PISA 2018.
Baca Juga: Gus Yazid Divonis 1 Tahun Penjara, Beda Jauh dari Tuntutan Jaksa 6 Tahun
Murid Indonesia Unggul dalam Keingintahuan dan Kemampuan Digital
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengapresiasi capaian Indonesia dalam memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Data OECD juga menunjukkan murid usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan atau curiosity yang termasuk salah satu yang tertinggi.
Murid Indonesia juga dinilai telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.
Pada aspek digital, murid Indonesia menunjukkan capaian yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan pada mata pelajaran yang lebih konvensional.
Baca Juga: Cara Cek Nomor NPWP Online dengan Mudah, Bisa Lewat Coretax dan M-Pajak
Selain itu, murid Indonesia lebih sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial atau AI dibandingkan murid di banyak negara lainnya.
Temuan ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan kebutuhan kompetensi siswa pada era digital dan perkembangan kecerdasan artifisial.
4 Strategi Kemendikdasmen Setelah PISA 2025
Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menetapkan empat pilar strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Pertama, penguatan kompetensi guru.
Langkah ini mencakup pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta penguatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan koding dan kecerdasan artifisial.
Baca Juga: Nonton Rail Futsal di Tuparev Cirebon, Tiket Kereta Api Bisa Dapat Diskon 20 Persen
Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran.
Kemendikdasmen mendorong penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, serta penguatan karakter murid.
Ketiga, harmonisasi asesmen.
Kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan diselaraskan dengan kompetensi bernalar yang digunakan dalam kerangka PISA.
Keempat, penguatan peran keluarga.
Kemendikdasmen mendorong Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) serta penguatan kemitraan orang tua dalam penerapan pembelajaran mendalam.
Baca Juga: Jalan Sapan–Majalaya Dikebut, DPRD Jabar Ingin Rampung Oktober
Platform Belajar untuk Guru dan Murid
Sebagai penunjang, Kemendikdasmen menyediakan sejumlah platform pembelajaran dan asesmen yang dapat dimanfaatkan guru dan murid secara mandiri.
Platform tersebut antara lain Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.
Berbagai platform tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan bernalar, literasi digital, dan kemandirian belajar murid.
Dengan hasil PISA 2025, Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan untuk memperbaiki capaian akademik, tetapi juga perlu memastikan semakin banyak anak yang memperoleh pendidikan berkualitas. ***




