POJOKSATU.id - Publikasi pada jurnal bereputasi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier akademik dosen.

Selain menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian, publikasi ilmiah juga dapat berkaitan dengan proses rekognisi akademik dan pengembangan karier dosen.

Namun, dosen yang ingin mempublikasikan hasil penelitian pada jurnal terindeks Scopus tidak cukup hanya melihat peringkat kuartil jurnal, mulai dari Q1 hingga Q4.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Prawitra Thalib, mengatakan terdapat sejumlah indikator lain yang perlu diperhatikan ketika memilih jurnal tujuan publikasi, salah satunya impact factor.

“Nggak hanya masalah kuartil 1 sampai 4 yang dipentingkan, tapi juga impact factor daripada jurnal tersebut,” kata Prawitra dalam Coaching Clinic Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung dan Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana bertajuk ‘Strategi Menembus Jurnal Internasional di Bidang Hukum’, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: USU Peringkat Kelima Indonesia di International Research Network QS WUR 2027, Kalahkan ITB

Jangan Hanya Melihat Q1 sampai Q4
Prawitra menjelaskan, publikasi ilmiah dapat menjadi salah satu bagian dari persyaratan pengembangan karier akademik dosen, termasuk dalam proses kenaikan jabatan fungsional dan pangkat.

Karena itu, dosen perlu mempertimbangkan rekognisi publikasi secara lebih menyeluruh ketika menentukan jurnal yang menjadi tujuan.

Menurutnya, impact factor dapat menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan dampak dan visibilitas jurnal dalam komunitas ilmiah.

“Indikator dampak ini mengukur dampak yang dimiliki jurnal terhadap komunitas ilmiah dunia. Artikel yang dipublikasikan di jurnal tersebut tentu dalam hal ini semakin banyak sitasinya, maka semakin baik,” katanya.

Dengan demikian, peneliti tidak disarankan menentukan jurnal hanya berdasarkan label Q1, Q2, Q3, atau Q4.

Baca Juga: BRIN Luncurkan Indonesia Innovation Summit & Expo 2026, Dorong Riset Bergerak dari Laboratorium ke Masyarakat

Status indeksasi dan rekam jejak jurnal juga perlu diperiksa sebelum naskah dikirimkan.

Cek JCR dan SJR
Ada sejumlah instrumen yang dapat digunakan peneliti untuk melihat informasi mengenai jurnal ilmiah.

Prawitra menyebut Journal Citation Reports (JCR) melalui Web of Science sebagai salah satu rujukan untuk melihat metrik jurnal.

Selain itu, terdapat SCImago Journal Rank (SJR) yang banyak digunakan untuk melihat peringkat jurnal yang terindeks Scopus.

Namun, peneliti juga perlu memahami keterbatasan informasi yang tersedia. Prawitra mencontohkan adanya kemungkinan informasi pada SJR belum sepenuhnya mencerminkan perubahan terbaru pada status jurnal di Scopus.

Baca Juga: TPG dan TKG September 2026 Mulai Cair, Guru Diminta Cek Rekening

Sebuah jurnal dapat saja masih tercatat sebagai Q1 dalam informasi SCImago, sementara status indeksasinya di Scopus telah berubah atau bahkan tidak lagi tercakup.

Karena itu, peneliti perlu melakukan pengecekan silang dan tidak menjadikan satu indikator sebagai satu-satunya dasar ketika memilih jurnal.

“Karena sekarang jurnal yang diakui tidak hanya Q1-Q4, dia melihat dari Scopus coverage-nya. Kalau Scopus coverage-nya itu bisa di dalam database sudah masuk, maka rekognisinya boleh diakui,” ujarnya.

Waspadai Jurnal Predator
Selain mengecek peringkat dan status indeksasi, dosen juga perlu mewaspadai kemungkinan jurnal yang dipilih masuk kategori jurnal predator.

Jurnal predator pada dasarnya merujuk pada penerbitan yang mengutamakan keuntungan dari biaya publikasi tanpa menjalankan proses editorial dan penelaahan ilmiah secara memadai.

Baca Juga: Guru Sertifikasi dan Nonsertifikasi, Ini yang Harud Dilakukan Sebelum 10 September

Karena itu, reputasi penerbit dan jurnal perlu diperiksa sebelum penulis mengirimkan manuskrip.

Prawitra juga membandingkan pengalaman publikasi pada jurnal Scopus yang diterbitkan perguruan tinggi di Indonesia dengan jurnal yang diterbitkan oleh pihak lain di luar negeri.

“Kalau mau jujur, jurnal Scopus di Indonesia ini lebih safety dibandingkan jurnal Scopus yang ada di luar negeri.

Baca Juga: Beasiswa Umm Al-Qura University Arab Saudi, Kuliah di Mekah Gratis untuk Mahasiswa Internasional

Karena penerbit jurnal di Indonesia yang terindeks Scopus mayoritas adalah diterbitkan perguruan tinggi,” terangnya.

Meski demikian, peneliti tetap perlu melakukan verifikasi terhadap status jurnal dan penerbit secara mandiri sebelum melakukan submission.

Strategi Memilih Jurnal Dimulai Sejak Awal
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Prof. Mailinda Eka Yuniza, menilai strategi publikasi sebaiknya sudah dipikirkan sejak awal penelitian dan penulisan artikel.

Menurutnya, peneliti perlu menentukan tema dan ruang lingkup tulisan dengan mempertimbangkan karakteristik artikel jurnal yang memiliki keterbatasan jumlah kata maupun halaman.

Penelitian yang cakupannya terlalu luas dapat dipertimbangkan untuk dipecah menjadi beberapa artikel dengan pembahasan yang lebih spesifik.

Baca Juga: Pemkab Jember Siapkan Skema 8.190 PPPK Paruh Waktu Naik Status Jadi Penuh Waktu

“Jadi harus kita batasi juga. Kenapa? Karena kalau tulisan artikel jurnal itu biasanya sangat terbatas jumlah katanya, jumlah halamannya,” ujarnya.

Pembatasan tersebut juga membantu peneliti membuat artikel yang lebih fokus dan sesuai dengan ruang lingkup jurnal tujuan.

Tentukan Jurnal Tujuan Sejak Awal
Prof. Mailinda menyarankan peneliti menentukan jurnal tujuan sejak awal proses penulisan.

Jurnal dapat dipertimbangkan berdasarkan beberapa aspek, seperti relevansi isu, peringkat jurnal, frekuensi penerbitan, biaya publikasi, serta karakteristik artikel yang diterima.

Dengan menentukan jurnal sejak awal, penulis dapat menyesuaikan struktur, gaya penulisan, ruang lingkup, hingga pembahasan artikel dengan ketentuan jurnal tersebut.

Menurutnya, peneliti juga perlu mempertimbangkan bagaimana mengembangkan tema penelitian agar memiliki relevansi yang lebih luas.

Baca Juga: Kemnaker Buka Pelatihan Vokasi Nasional Batch 5, Daftar hingga 16 September 2026

“Yang ingin saya highlight dari sini sebenarnya yang pertama ketika kita membuat tulisan menentukan tema atau mengangkat tulisan kita dari mungkin temanya sebelumnya sangat nasional menjadi tema yang lebih global,” ujarnya.

Publikasi Internasional Bisa Jadi Alternatif
Prof. Mailinda juga menyoroti tantangan waktu tunggu pada publikasi jurnal nasional bereputasi.

Tingginya jumlah naskah yang masuk dapat membuat penulis harus menunggu cukup lama, termasuk ketika artikel sudah melalui proses review.

Dalam kondisi tersebut, jurnal internasional dapat menjadi salah satu alternatif bagi peneliti yang ingin memperluas target publikasinya.

Namun, waktu publikasi sangat bergantung pada kebijakan dan proses editorial masing-masing jurnal. Tidak semua jurnal internasional dapat menyelesaikan proses publikasi dalam waktu yang sama.

Penulis juga perlu aktif memantau perkembangan manuskrip setelah melakukan submission.

Baca Juga: PT Freeport Indonesia Buka 91 Posisi Lowongan Kerja, Ada untuk Fresh Graduate

“Nah, lamanya kadang tidak terbatas tapi biasanya kalau nggak gerak-gerak sekitar 6 bulan gitu cuma submit-submit saja tapi tidak berlanjut, mungkin itu juga bisa ditanyakan gitu dengan email ke jurnal yang terkait,” pungkasnya.

Tips Memilih Jurnal Scopus
Dari paparan kedua akademisi tersebut, dosen dapat memperhatikan sejumlah hal sebelum mengirimkan artikel penelitian, antara lain:

1. Jangan hanya melihat kuartil Q1–Q4. Periksa pula indikator dan rekam jejak jurnal lainnya.

2. Cek status indeksasi Scopus. Pastikan jurnal masih tercakup dalam basis data Scopus ketika artikel akan dikirimkan.

3. Perhatikan impact factor dan metrik jurnal lainnya. Indikator tersebut dapat membantu melihat visibilitas dan pengaruh jurnal dalam komunitas ilmiah.

4. Gunakan sumber informasi yang kredibel. JCR dan SJR dapat menjadi salah satu rujukan, tetapi informasi tersebut tetap perlu dicocokkan dengan status terbaru jurnal.

5. Waspadai jurnal predator. Periksa penerbit, proses review, dewan editor, biaya publikasi, dan rekam jejak jurnal sebelum melakukan submission.

6. Tentukan jurnal tujuan sejak awal. Dengan demikian, penulis dapat menyesuaikan tema dan naskah dengan scope jurnal.

Baca Juga: Hadiah Juara OSN 2026 Disorot, Kemendikdasmen Cari Skema Tambahan Anggaran

7. Buat artikel lebih fokus. Penelitian yang sangat luas dapat dikembangkan menjadi beberapa artikel dengan topik yang lebih spesifik.

8. Kembangkan isu yang lebih global. Tema penelitian yang awalnya sangat spesifik secara nasional dapat dikembangkan dengan perspektif yang memiliki relevansi internasional.

Pada akhirnya, strategi menembus jurnal internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas penelitian.

Penulis juga perlu memahami karakter jurnal, memastikan status indeksasinya, menyesuaikan naskah dengan scope, serta melakukan pemeriksaan terhadap reputasi penerbit sebelum melakukan submission. ***