POJOKSATU.id - Pernah menemukan benjolan kecil yang terasa lunak di bawah kulit? Jangan langsung panik.
Bisa jadi benjolan tersebut merupakan lipoma, yakni tumor jinak yang tumbuh pada jaringan lemak atau jaringan lunak tubuh.
Lipoma umumnya berkembang secara perlahan dan dibungkus oleh kapsul fibrosa tipis.
Benjolan ini juga biasanya berbentuk lobulated, terasa lembek ketika disentuh, serta dapat digerakkan.
Kondisi tersebut cukup umum. Sekitar 1 persen populasi diperkirakan mengalami lipoma.
Meski dapat muncul pada siapa saja, lipoma paling sering ditemukan pada orang dewasa berusia sekitar 40 hingga 60 tahun.
Pria juga diketahui lebih sering mengalami kondisi ini dibandingkan wanita.
Seperti apa ciri-ciri lipoma?
Ciri lipoma yang paling mudah dikenali adalah munculnya benjolan di antara lapisan kulit dan otot.
Baca Juga: Bukan Cuma Satu! 13 Bank Sudah Ditutup hingga September 2026, Nasabah Harus Waswas?
Ukurannya biasanya kecil, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berkembang hingga berdiameter lebih dari 6 sentimeter.
Benjolan tersebut umumnya tidak terasa sakit ketika ditekan.
Teksturnya cenderung lunak, bisa digerakkan, dan pertumbuhannya berlangsung lambat.
Lokasinya pun cukup beragam. Lipoma sering ditemukan di bahu, leher, punggung, lengan, perut, hingga paha.
Pada sebagian orang, lipoma hanya muncul satu buah.
Baca Juga: Siap-Siap Guru SD Bakal Diajarkan Koding dan AI! Skema Tunjangan Triliun Rupiah Kemendikdasmen!
Namun, ada juga yang mengalami beberapa benjolan di sejumlah bagian tubuh.
Rasa sakit biasanya baru muncul ketika benjolan semakin besar atau berada di lokasi yang memberikan tekanan terhadap saraf maupun jaringan di sekitarnya.
Apa penyebab lipoma?
Sampai sekarang, penyebab pasti lipoma belum sepenuhnya diketahui. Meski begitu, faktor genetik diduga memiliki peranan penting.
Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat lipoma dapat mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Selain faktor keturunan, usia juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya lipoma. Kondisi tertentu, seperti sindrom Cowden, sindrom Gardner, adiposis dolorosa, dan penyakit Madelung, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko.
Dalam sejumlah kasus, lipoma juga dapat muncul pada area tubuh yang sebelumnya mengalami cedera fisik.
Apakah lipoma berbahaya?
Nah, ini yang sering membuat orang khawatir. Pada umumnya, lipoma bukan kondisi berbahaya dan tidak bersifat ganas.
Karena itu, lipoma yang tidak menimbulkan keluhan biasanya tidak membutuhkan tindakan khusus. Dokter dapat menyarankan pemantauan saja, terutama jika ukuran dan bentuk benjolan tidak menunjukkan perubahan mencurigakan.
Meski begitu, bukan berarti semua benjolan bisa dianggap sebagai lipoma.
Benjolan yang mengalami perubahan ukuran secara cepat, terasa semakin sakit, menjadi keras, sulit digerakkan, atau menimbulkan gangguan fungsi sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan benjolan tersebut memang lipoma dan bukan kondisi lain yang membutuhkan penanganan berbeda.
Bagaimana dokter mendiagnosis lipoma?
Diagnosis biasanya diawali dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa ukuran, tekstur, lokasi, serta apakah benjolan dapat digerakkan.
Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Beberapa pemeriksaan yang mungkin digunakan antara lain USG, CT scan, dan MRI.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan biopsi dengan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium.
Biopsi dapat membantu membedakan lipoma dari tumor ganas, termasuk liposarkoma yang berasal dari jaringan lemak.
Kapan lipoma perlu diobati?
Sebagian besar lipoma tidak membutuhkan pengobatan.
Namun, dokter dapat mempertimbangkan tindakan jika benjolan terus membesar, terasa nyeri, mengganggu pergerakan, atau membuat pasien tidak nyaman.
Salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah operasi pengangkatan.
Prosedur ini biasanya dilakukan melalui sayatan untuk mengeluarkan benjolan dari tubuh.
Pilihan lainnya adalah liposuction atau sedot lemak untuk mengurangi ukuran benjolan.
Dalam situasi tertentu, suntikan steroid juga dapat digunakan untuk membantu mengecilkan lipoma, meskipun tidak selalu menghilangkannya secara keseluruhan.
Sementara itu, perawatan di rumah tidak dapat menghilangkan lipoma.
Kompres hangat atau pijatan lembut mungkin membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada sebagian orang, tetapi benjolan tetap perlu dipantau.
Waspadai komplikasi yang mungkin terjadi
Meski jarang menimbulkan masalah serius, lipoma yang berukuran besar atau berada di lokasi tertentu dapat menyebabkan gangguan.
Baca Juga: 94 Pinjol Resmi OJK September 2026, Cek Daftar Lengkap dan Cara Pastikan Legalitasnya
Benjolan yang menekan saraf, misalnya, dapat memicu rasa sakit, mati rasa, kesemutan, atau kelemahan otot. Jika berada dekat pembuluh darah, tekanan dari benjolan juga berpotensi mengganggu sirkulasi.
Lipoma yang mengalami cedera dan terbuka juga dapat mengalami infeksi.
Tandanya antara lain pembengkakan, kemerahan, serta rasa sakit yang cukup berat.
Ada pula kondisi bernama lipomatosis, yaitu ketika seseorang memiliki banyak lipoma.
Dalam kasus tertentu, keberadaan banyak benjolan dapat mengganggu pergerakan atau fungsi tubuh.
Baca Juga: POCO X8 5G Siap Masuk Indonesia? Baterai 8.340mAh dan Sertifikasi TKDN Jadi Sinyal Kuat
Lipoma sendiri sangat jarang berkaitan dengan keganasan.
Liposarkoma merupakan jenis kanker jaringan lemak yang berbeda dari lipoma, sehingga benjolan yang mencurigakan tetap perlu diperiksa untuk memastikan diagnosisnya.
Bisakah lipoma dicegah?
Tidak semua lipoma dapat dicegah, terutama jika faktor keturunan berperan besar.
Namun, menjaga pola hidup sehat tetap penting untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Baca Juga: Patriot Sejati
Pola makan bergizi, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, serta mencukupi waktu istirahat merupakan kebiasaan yang baik untuk dilakukan.
Konsumsi makanan bergizi, termasuk buah dan sayuran, juga dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.
Menghindari alkohol juga menjadi bagian dari pola hidup sehat karena konsumsi alkohol berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan.
Yang paling penting, jangan mengabaikan benjolan baru yang muncul di tubuh.
Memperhatikan perubahan ukuran, bentuk, tekstur, dan rasa sakit bisa membantu mendeteksi kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.***




