POJOKSATU.id - Kekerasan seksual bukan hanya meninggalkan luka sesaat, tetapi juga dapat memicu dampak fisik dan mental yang berlangsung lama.

Banyak korban harus menghadapi trauma mendalam yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, hubungan sosial, hingga kondisi kesehatan tubuh.

Setiap korban memiliki pengalaman dan reaksi yang berbeda.

Baca Juga: Pascatragedi Bekasi Timur, Menteri PPA ‘Dirujak’ Usai Usul Gerbong Khusus Wanita Dipindah ke Tengah

Namun, para ahli menyebut trauma dapat muncul karena tubuh dan pikiran mengalami kondisi ancaman serius, sehingga sistem pertahanan diri bekerja sangat keras saat kejadian berlangsung.

Akibatnya, setelah peristiwa berakhir, rasa takut, syok, dan tekanan emosional bisa tetap tertinggal dalam waktu lama.

Berikut sejumlah trauma fisik dan mental yang sering dialami korban kekerasan seksual.

Baca Juga: Bisa Kok Bikin Teh Tarik Creamy di Rumah, Ini Resep Mudah dan Anti Ribet

1. Depresi
Korban kerap mengalami kesedihan mendalam, kehilangan semangat, rasa putus asa, hingga menarik diri dari lingkungan sekitar.

Banyak korban juga menyalahkan diri sendiri, padahal tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku.

Jika berlangsung lama, kondisi ini membutuhkan bantuan profesional.

Baca Juga: 10 Cara Agar Tidur Tidak Mendengkur, Biar Istirahat Lebih Nyenyak dan Tenang

2. Sindrom Trauma Perkosaan
Ini merupakan bentuk trauma pascakejadian yang mirip gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Gejalanya bisa berupa mimpi buruk, mudah terkejut, sulit tidur, kecemasan berat, kilas balik kejadian, hingga rasa takut berlebihan.

3. Disosiasi
Sebagian korban merasa seperti terlepas dari kenyataan, mati rasa, atau seolah melihat dirinya dari luar tubuh.

Kondisi ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan otak saat menghadapi trauma berat.

Baca Juga: Cara Mengaktifkan Hotspot di Laptop Windows 10 dan 11, Mudah Tanpa Ribet

4. Gangguan Makan
Trauma juga dapat memengaruhi pola makan seseorang. Ada korban yang makan berlebihan, ada pula yang kehilangan nafsu makan secara drastis.

Hal ini sering terjadi karena korban berusaha mengendalikan emosi melalui makanan.

5. Penurunan Hasrat Seksual
Sebagian korban kehilangan minat terhadap hubungan intim setelah mengalami kekerasan seksual.

Hubungan fisik dapat memicu ingatan traumatis sehingga korban memilih menghindar demi melindungi diri.

Baca Juga: TPG dan TKG 2026 Cair Bulanan, Guru Wajib Input Data Sebelum Tanggal 10

6. Nyeri Saat Berhubungan Intim
Pada beberapa korban, hubungan intim bisa menimbulkan rasa sakit secara fisik, baik selama maupun setelah aktivitas berlangsung.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan trauma psikologis yang belum pulih.

7. Vaginismus
Pada perempuan, trauma dapat menyebabkan otot vagina menegang secara otomatis saat penetrasi terjadi.

Akibatnya, hubungan intim menjadi sangat tidak nyaman atau menyakitkan.

Baca Juga: KRL Relasi Cikarang Kembali Beroperasi, Frekuensi Perjalanan Sama Seperti Sebelumnya

8. Risiko Penyakit Fisik Jangka Panjang
Penelitian menunjukkan trauma berat masa lalu bisa berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi, hingga diabetes tipe 2.

Stres berkepanjangan dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Korban Butuh Dukungan, Bukan Penghakiman

Pemulihan trauma membutuhkan waktu dan proses yang berbeda pada tiap orang. Dukungan keluarga, teman, tenaga medis, psikolog, serta lingkungan yang aman sangat penting dalam perjalanan penyembuhan.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami kekerasan seksual, mencari bantuan profesional adalah langkah penting.

Baca Juga: 10 Ide Usaha Rumahan untuk Ibu Rumah Tangga, Modal Kecil dan Banyak Cuan

Korban berhak mendapat perlindungan, penanganan medis, dan pendampingan psikologis.

Luka akibat kekerasan seksual sering tak terlihat oleh mata, namun terasa begitu dalam di hati dan pikiran.

Karena itu, empati, keberanian mendengar, dan dukungan tulus bisa menjadi awal pulihnya harapan seseorang.***