POJOKSATU.id - Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI resmi meluncurkan platform anyar bernama Prism.

Aplikasi riset ilmiah gratis ini dirancang untuk memangkas pekerjaan teknis dan repetitif dalam penulisan karya ilmiah, mulai dari drafting, kolaborasi, hingga pengelolaan sitasi.

Prism diklaim mampu bekerja layaknya coding agents di dunia pemrograman, yakni mengotomatiskan tugas-tugas rumit agar peneliti, dosen, maupun mahasiswa bisa lebih fokus pada ide dan riset inti.

Baca Juga: UMKM Asal Medan Ini Kenalkan Cita Rasa Kopi Tubruk Tapsel ke Forum Dunia WEF 2026 di Swiss

Berbasis LaTeX dan Terintegrasi AI
Prism dibangun di atas Crixet, platform LaTeX berbasis cloud yang baru saja diakuisisi OpenAI.

LaTeX sendiri dikenal sebagai sistem typesetting standar yang digunakan komunitas ilmiah global untuk menulis jurnal, makalah, dan publikasi akademik.

Meski powerful, LaTeX kerap dianggap memakan waktu, terutama untuk tugas seperti menggambar diagram dengan TikZ, mengelola sitasi, hingga merapikan format dokumen. Di sinilah Prism hadir sebagai solusi.

Baca Juga: Beasiswa Patriot 2026 Resmi Dibuka, Kementerian Transmigrasi Siapkan 1.100 Kuota S2 di Tiga Kampus Patriot

OpenAI menyebut Prism sebagai LaTeX-native workspace. Artinya, seluruh alur kerja, menulis, mengompilasi, hingga berkolaborasi, bisa dilakukan langsung di lingkungan LaTeX tanpa instalasi lokal atau pengaturan rumit.

Ditopang GPT-5.2 Thinking
Jika sebelumnya Crixet menggunakan agen AI internal bernama Chirp, kini Prism ditenagai GPT-5.2 Thinking, model AI terbaru OpenAI yang terintegrasi langsung dalam proses penulisan ilmiah.

Baca Juga: Fenomena Awan Kontainer Viral, Pakar IPB Tegaskan Tak Ada dalam Ilmu Meteorologi

GPT-5.2 Thinking tidak hanya membantu pemformatan dokumen, tetapi juga mampu:

- Mencari dan merekomendasikan literatur ilmiah yang relevan

- Mengotomatiskan penulisan daftar pustaka atau bibliography

- Memeriksa alur logika dan struktur tulisan

- Memperbarui persamaan, tabel, dan referensi saat naskah direvisi

Baca Juga: Perhatian ASN Papua Tengah! TPP Bisa Tak Cair Jika Lalai Disiplin dan Lapor LHKPN

AI di Prism bersifat project-aware, yakni memahami konteks penuh sebuah manuskrip, termasuk draf lama dan riwayat revisi.

Dirancang untuk Kolaborasi Tanpa Batas
Prism juga dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi ilmuwan, dosen, hingga mahasiswa.

Platform ini memungkinkan banyak pengguna bekerja dalam satu dokumen secara real-time dengan pratinjau instan.

Baca Juga: Diakui Internasional, Prabowo Klaim MBG Indonesia Dipelajari White House dan Dipuji Rockefeller Institute

OpenAI mengklaim Prism mampu menghilangkan konflik versi, proses merge manual, serta siklus compile–debug yang kerap memperlambat penulisan.

Selain itu, tersedia fitur komentar dan inline feedback untuk memudahkan proses peer review internal sebelum publikasi.

Tak hanya untuk jurnal, Prism juga bisa dimanfaatkan dosen dalam menyusun materi perkuliahan atau menghasilkan set soal latihan bagi mahasiswa.

Baca Juga: Menuju World Class University, UNIDA Matangkan Persiapan Akreditasi Internasional QS WUR 2026

Fitur Pendukung Prism
Sejumlah fitur lain yang ditanamkan di Prism antara lain:

- AI-assisted proofreading untuk pengecekan dan pemformatan tulisan

- Manajemen sitasi terintegrasi

- Sinkronisasi dengan pengelola referensi Zotero

- Konversi gambar ke kode (image to code)

- Fitur voice to code

- Beragam alat pendukung riset lainnya

Baca Juga: Benarkah Ini Solusi Swasembada Pangan, Bulog Lepas dari Status BUMN?

Sebagaimana dirangkum dari OpenAI, Prism kini sudah bisa dijajal secara gratis melalui situs openai.com/prism dengan masuk menggunakan akun ChatGPT.

Kehadiran Prism menandai langkah serius OpenAI dalam mendukung ekosistem riset dan akademik.

Baca Juga: Ibadah Stres

Di tengah tuntutan publikasi ilmiah yang kian kompleks, teknologi semacam ini bisa menjadi penolong, sekaligus membuka cara baru menulis ilmu pengetahuan dengan lebih efisien dan manusiawi. ***