POJOKSATU.id — Pemprov DKI Jakarta mulai memetakan sejumlah lokasi serta bangunan yang diperkirakan terkena dampak pembangunan MRT Tahap 1 Segmen 1 Koridor Thamrin-Kwitang.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses awal sebelum pengadaan tanah untuk pembangunan jalur MRT di wilayah Jakarta Pusat.

Ketua Subkelompok Penanganan Pengaduan Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Biro Pemerintahan Setda DKI Jakarta, Ebron Leonard Sirait menjelaskan, pendataan dilakukan oleh Tim Persiapan Pengadaan Tanah Pembangunan MRT Koridor Thamrin-Kwitang.

Petugas turun langsung ke sejumlah titik untuk mengidentifikasi pihak serta bangunan yang kemungkinan berada di area terdampak proyek.

Beberapa lokasi yang menjadi sasaran pendataan berada di sepanjang Jalan Kramat Kwitang dan Jalan Kebon Sirih.

Baca Juga: KLG Gratis TransJakarta, MRT, dan LRT Dibuka di CFD 20 September 2026, Ini Lokasi dan Syaratnya

Ebron menyebut kegiatan tersebut merupakan pendataan awal terhadap pihak-pihak yang telah diidentifikasi berpotensi terkena dampak pembangunan MRT.

Sebelum petugas melakukan pendataan di lapangan, pihak yang berpotensi terdampak terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai rencana proyek.

Tahap sosialisasi dilakukan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat terkait pembangunan jalur MRT yang nantinya melintasi kawasan Kramat Kwitang dan Kebon Sirih.

Setelah sosialisasi diberikan, petugas kemudian melakukan pendataan secara langsung terhadap lokasi dan bangunan yang berada di kawasan tersebut.

Baca Juga: Bromo Ditutup Total Akibat Kebakaran, Wisatawan Masih Harus Menunggu hingga Kondisi Aman

“Pendataan dilakukan dengan mendatangi sejumlah lokasi dan bangunan di Jalan Kramat Kwitang serta Jalan Kebon Sirih,” kata Ebron.

Koridor Thamrin-Kwitang yang masuk dalam MRT Tahap 1 diperkirakan membentang sepanjang kurang lebih 1,76 kilometer.

Pelaksanaan proyek tersebut tidak akan dikerjakan dalam satu tahap sekaligus karena pembangunan direncanakan berlangsung secara bertahap.

Ebron mengatakan tahapan pembangunan akan disesuaikan dengan proses persiapan proyek yang sedang berjalan.

“Pembangunan MRT direncanakan dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Jalur Thamrin-Kwitang merupakan salah satu bagian dari proyek MRT Lintas Timur-Barat yang dirancang menghubungkan wilayah Medan Satria di Bekasi dengan Tomang di Jakarta Barat.

Baca Juga: HP Bisa Terbakar Meski Tidak Dicas, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Untuk mendukung pembangunan proyek tersebut, PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini tengah memproses lelang sejumlah paket pekerjaan konstruksi.

Secara keseluruhan, MRT Lintas Timur-Barat akan memiliki jalur bawah tanah yang melewati sejumlah kawasan penting di pusat Jakarta.

Lintasan tersebut direncanakan berawal dari kawasan Bank Indonesia, kemudian menuju Thamrin, Kebon Sirih, Kwitang, dan berakhir di kawasan Senen.

Pembangunan proyek juga mencakup fasilitas depo yang direncanakan berada di wilayah Jakarta Timur.

MRT Lintas Timur-Barat ditargetkan dapat mulai beroperasi pada 2031 dengan perkiraan kapasitas pelayanan mencapai sekitar 284.000 penumpang per hari.

Baca Juga: Selain HGB Summarecon, KPK Bidik Pelicin Mutasi Pejabat Kementerian ATR BPN, Ada Uang Tunai Rp 106 M

Di sisi lain, proyek MRT Lintas Utara-Selatan yang diperpanjang hingga kawasan Jakarta Kota juga masih dalam tahap pengerjaan.

Perkembangan pembangunan perpanjangan jalur tersebut telah mencapai sekitar 63 persen dan ditargetkan dapat digunakan masyarakat mulai 2029.

Pendataan di kawasan Kramat Kwitang dan Kebon Sirih menjadi bagian dari rangkaian persiapan yang dilakukan sebelum pembangunan MRT Thamrin-Kwitang memasuki tahapan selanjutnya.***