POJOKSATU.id — Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian masyarakat setelah mengalami erupsi menerus pada awal September 2026.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan, termasuk mengenai kemungkinan hubungan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan potensi gempa megathrust di kawasan Selat Sunda.
Kekhawatiran itu tidak terlepas dari posisi Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, kawasan yang juga dikenal memiliki zona subduksi aktif.
Namun, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak dapat secara langsung diartikan sebagai tanda bahwa gempa megathrust Selat Sunda akan segera terjadi.
Baca Juga: PJJ di Banten Diperpanjang hingga 11 September, Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami aktivitas erupsi sejak 2 Juli 2026.
Status aktivitas gunung api tersebut kemudian berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas vulkanik selanjutnya terus berlangsung dalam bentuk erupsi Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam hingga berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Badan Geologi menyebut aktivitas tersebut kemudian kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian.
Hingga evaluasi 7 September 2026, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih terus dipantau dan tingkat aktivitasnya tetap berada pada Level III atau Siaga.
Baca Juga: Bansos Beras 30 Kg September 2026 Cair, Begini Cara Cek Penerimanya
Lantas, apakah erupsi tersebut berkaitan dengan megathrust Selat Sunda?
Secara ilmiah, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa erupsi Anak Krakatau pada September 2026 merupakan pertanda akan terjadinya gempa megathrust Selat Sunda.
Keduanya memang berada dalam lingkungan tektonik yang sama-sama aktif, tetapi mekanisme erupsi gunung api dan gempa megathrust berbeda.
Megathrust merupakan zona kontak antarlempeng yang dapat menjadi sumber gempa bumi besar.
Baca Juga: Lima Jurnalis Hilang Kontak di Sekitar Anak Krakatau, SAR Kerahkan Drone Termal
Sementara itu, erupsi Anak Krakatau berkaitan dengan aktivitas sistem vulkanik gunung api.
Karena itu, kemunculan erupsi Anak Krakatau tidak bisa digunakan sebagai indikator bahwa gempa megathrust Selat Sunda akan segera terjadi.
Masyarakat juga perlu membedakan potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik Anak Krakatau dengan ancaman gempa dan tsunami yang berasal dari zona megathrust.
Kekhawatiran mengenai tsunami juga sempat muncul karena sejarah Anak Krakatau yang berkaitan dengan tsunami Selat Sunda pada 2018.
Namun, tsunami pada 22 Desember 2018 memiliki mekanisme berbeda.
Baca Juga: Cara Cek Nomor NPWP Online dengan Mudah, Bisa Lewat Coretax dan M-Pajak
Peristiwa tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi yang disertai longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut.
Untuk aktivitas September 2026, BMKG menyampaikan hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami di perairan Selat Sunda terkait rangkaian erupsi tersebut.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang serta tidak mempercayai isu mengenai erupsi Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Baca Juga: Nonton Rail Futsal di Tuparev Cirebon, Tiket Kereta Api Bisa Dapat Diskon 20 Persen
Masyarakat di sekitar Anak Krakatau dan pengunjung tidak diperbolehkan memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Dengan demikian, erupsi Anak Krakatau pada September 2026 sebaiknya tidak dianggap sebagai pertanda pasti terjadinya gempa megathrust Selat Sunda.
Baca Juga: Jalan Sapan–Majalaya Dikebut, DPRD Jabar Ingin Rampung Oktober
Masyarakat disarankan memperoleh informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Badan Geologi dan informasi gempa maupun tsunami dari BMKG.
Pemantauan resmi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang menghubungkan setiap aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan kemungkinan terjadinya gempa megathrust tanpa dasar ilmiah yang jelas.***




