POJOKSATU.ID - Indonesia kembali menjadi sorotan internasional setelah laporan terbaru World Bank tahun 2025 menempatkan Tanah Air di posisi kedua dunia sebagai negara dengan jumlah penduduk miskin terbanyak berdasarkan garis kemiskinan internasional.

Data tersebut memunculkan ironi besar di tengah status Indonesia yang kini telah masuk kategori negara berpendapatan menengah atas.

Peringkat tersebut mencerminkan tantangan serius yang masih dihadapi Indonesia dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Sensus Ekonomi BPS Berlaku 1 Mei–31 Juli 2026 di Seluruh Wilayah RI

Meski pertumbuhan ekonomi terus didorong dan berbagai program sosial digulirkan, jumlah penduduk yang masuk kategori miskin secara global masih tergolong sangat tinggi.

World Bank menggunakan metode penghitungan kemiskinan yang telah disesuaikan dengan biaya hidup dan tingkat kesejahteraan masing-masing negara.

Standar ini berbeda dengan garis kemiskinan nasional yang biasa digunakan pemerintah, sehingga menghasilkan gambaran yang lebih luas dalam konteks global.

Baca Juga: Peserta BPJS Ketenagakerjaan Lupa Akun dan Password? Ini Cara Aktifkan Kembali Tanpa Ribet

Berdasarkan pendekatan tersebut, sebagian besar penduduk Indonesia masih masuk dalam kategori miskin menurut standar internasional.

Artinya, meskipun secara statistik nasional terjadi penurunan angka kemiskinan, kondisi riil masyarakat jika dibandingkan dengan standar global menunjukkan situasi yang belum ideal.

Kondisi ini menjadi perhatian dunia karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.

Baca Juga: KPK Endus Rp600 Juta Mengalir ke Anggota DPRD Bekasi Fraksi PDIP Diperiksa! Kaitan Kasus Bupati Bekasi Ade

Dengan populasi yang sangat besar, sedikit saja perbedaan standar kemiskinan dapat berdampak signifikan terhadap jumlah absolut penduduk miskin.

Laporan World Bank tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan antara capaian makroekonomi dan kondisi kesejahteraan masyarakat di lapisan bawah.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli dan kualitas hidup masyarakat secara merata.

Baca Juga: Dapodik 2026.b Resmi Rilis! Panduan Instalasi Aman untuk Guru dan Operator agar Data Sekolah Tidak Bermasalah

Sejumlah pengamat menilai, persoalan kemiskinan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, perumahan layak, serta lapangan kerja yang berkualitas.

Faktor-faktor tersebut menjadi indikator penting dalam pengukuran kemiskinan global yang digunakan World Bank.

Selain itu, perbedaan harga kebutuhan pokok antarwilayah, ketimpangan pembangunan, serta dominasi sektor informal turut memengaruhi tingginya jumlah penduduk miskin menurut standar internasional.

Baca Juga: Uang Santunan Bisa Cair! Ini Cara Klaim JKK BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Migran Indonesia

Masyarakat yang secara nominal tidak tergolong miskin secara nasional, bisa saja masuk kategori miskin secara global karena daya belinya masih rendah.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi juga membutuhkan perbaikan struktural yang berkelanjutan, mulai dari penciptaan lapangan kerja produktif hingga pemerataan pembangunan antarwilayah.

Baca Juga: RESMI DIRILIS Dapodik 2026b, LINK DOWNLOAD File Instaler dan Panduan Lengkap Cara Instal serta Hal WAJIB DILAKUKAN Disdik dan Satuan Pendidikan

Sorotan dari World Bank ini diharapkan menjadi momentum evaluasi kebijakan sosial dan ekonomi nasional.

Dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis data, Indonesia diharapkan mampu menurunkan jumlah penduduk miskin tidak hanya menurut standar nasional, tetapi juga di mata dunia.***