POJOKSATU.ID - Pernyataan Pangdam I/BB, Mayor Jenderal Rio Firdianto, menuai perhatian setelah ia menegaskan bahwa tidak ada penggundulan hutan di Sumatera Utara.

Kesimpulan tersebut ia sampaikan usai meninjau langsung sejumlah titik bencana menggunakan helikopter.

Menyebut bahwa banjir dan longsor yang melanda puluhan wilayah terjadi terutama akibat curah hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari.

Menurutnya, hujan deras membuat tanah jenuh air dan akhirnya memicu longsor di daerah perbukitan.

Baca Juga: Kemensos Perkuat Penanganan Banjir Tapanuli Tengah Melalui Distribusi Bantuan

Ia menekankan bahwa faktor cuaca menjadi penyebab utama kerusakan yang kini melanda berbagai titik di Sumut. Dilansir dari Tempo.co

Namun berbagai analisis lapangan dan data ilmiah menunjukkan situasi yang jauh lebih kompleks.

Citra satelit beberapa dekade terakhir memperlihatkan hilangnya jutaan hektare tutupan hutan di Sumatera Utara, terutama akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, pertanian lahan kering, pertambangan, hingga hutan tanaman industri.

Baca Juga: Instruksi Mensos Soal Donasi Dinilai Menghambat Bantuan, Influencer Gercep Bantu Korban, Tapi Malah Diminta Izin Dulu

Data monitoring hutan nasional juga mencatat penurunan signifikan tutupan vegetasi yang sebelumnya menjadi benteng alami penyerap air.

Kerusakan hutan ini berdampak langsung pada kemampuan wilayah dalam menahan limpasan permukaan.

Tanah yang kehilangan tutupan pepohonan tidak lagi mampu menyerap air hujan dengan optimal.

Baca Juga: Kementerian Sosial Mendirikan Hunian Sementara untuk Korban Bencana di Tapanuli Tengah

Akibatnya, air melaju cepat ke hilir, meningkatkan risiko banjir bandang yang melanda pemukiman dan infrastruktur di bawahnya.

Selain itu, para ahli hidrologi menyebut bahwa bencana kali ini terjadi akibat kombinasi dua faktor besar cuaca ekstrem dan penurunan daya dukung daerah aliran sungai (DAS).

Siklon tropis Senyar yang terbentuk di perairan selatan Sumatera memicu curah hujan sangat tinggi.

Baca Juga: Herman Khaeron Cup 2025: Ratusan Pecatur Non Master Padati Cirebon, Kang Hero Dorong Lahirnya Generasi Baru Catur

Namun tanpa kerusakan hutan yang meluas, dampaknya tidak akan sebesar apa yang terjadi saat ini.

Banyak peneliti juga menilai bahwa hutan alami yang terus berkurang membuat lereng-lereng perbukitan di Sumut semakin rapuh.

Pohon besar dengan akar dalam yang menjaga stabilitas tanah tergantikan oleh lahan terbuka atau tanaman industri yang akarnya tidak memiliki kemampuan menahan tanah sekuat hutan primer.

Baca Juga: SE Mendikdasmen Nomor 14/2025 Bikin Murid Senang, Tapi Guru Gigit Jari? Libur Natal dan Tahun Baru!

Itulah sebabnya longsor dapat terjadi lebih mudah meski hujan tidak terlalu ekstrem.

Pengamat lingkungan menyatakan bahwa pernyataan yang hanya menyalahkan cuaca justru dapat mengaburkan persoalan utama.

Tanpa pemulihan kawasan resapan air, reboisasi skala besar, dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan ilegal, banjir dan longsor akan terus berulang dari tahun ke tahun.

Menurut mereka, solusi jangka panjang tidak cukup dengan penanganan darurat atau normalisasi sungai saja.

Baca Juga: Program Pelatihan Vokasi di Cilacap Bekali Keterampilan Caregiver untuk Penempatan di Jepang!

Restorasi hutan, rehabilitasi DAS, dan pembatasan ketat izin alih fungsi lahan adalah langkah yang harus menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah.

Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya memotret permukaan dari udara, tetapi benar-benar melihat akar persoalan yang terjadi di lapangan.

Kerusakan ekologis yang telah berlangsung puluhan tahun kini menuntut tanggung jawab besar untuk dipulihkan demi mencegah bencana serupa di masa depan.***