POJOKSATU.ID - Situasi dramatis terjadi di Kabupaten Langkat saat banjir melanda sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir.
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga memprotes petugas Basarnas karena diduga tidak segera membantu salah satu korban yang sedang sakit.
Momen tersebut hampir berujung kericuhan setelah seorang ibu-ibu menyuarakan protes keras kepada tim penyelamat di lokasi banjir.
Dalam rekaman yang viral itu, terdengar suara seorang perempuan yang memarahi petugas.
Ia menilai tim Basarnas lambat merespons kondisi warga yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Menurut warga, ada korban yang sakit dan harus segera dievakuasi, namun penanganannya dianggap terhalang oleh prosedur yang memakan waktu.
Situasi tersebut memicu emosi warga yang telah berhari-hari bertahan di tengah genangan banjir.
Sejumlah saksi menyampaikan bahwa kejadian itu berlangsung di salah satu titik banjir terparah di Langkat.
Air yang terus meninggi membuat akses menuju permukiman terputus. Banyak warga yang kesulitan mendapatkan bantuan kesehatan, makanan, dan evakuasi.
Dalam kondisi terhimpit itu, warga berharap petugas bergerak cepat, terutama untuk menyelamatkan korban yang kondisinya memburuk.
Baca Juga: Yayasan AHM Gandeng Warga Pekalongan Perkuat Konservasi Owa Jawa
Namun, petugas Basarnas di lapangan menyebut bahwa evakuasi dilakukan berdasarkan tingkat risiko dan ketersediaan alat.
Mereka harus memastikan keselamatan personel dan warga lain sebelum melakukan penanganan lebih lanjut.
Meski demikian, protes warga tetap tak terbendung karena situasi darurat yang semakin menekan.
Baca Juga: Mau Kontrak PPPK Lanjut? Siapkan 6 Dokumen Ini atau Anda Terancam Gugur!
Ketegangan mereda setelah beberapa petugas berdialog langsung dengan warga dan memastikan bahwa korban sakit akan dievakuasi.
Tim penyelamat kemudian menambah armada perahu karet untuk mempercepat proses penanganan.
Warga pun diarahkan untuk berkumpul di titik aman sementara proses evakuasi berjalan.
Banjir di Langkat dalam beberapa hari terakhir memaksa ratusan keluarga mengungsi.
Baca Juga: Heboh Rupiah Digital, Uang Modern yang Lagi Dites BI, Tapi Apakah Beneran Bisa Ganti Uang Fisik?
Selain banyak rumah terendam, sejumlah akses jalan utama lumpuh total.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan bahwa beberapa wilayah mengalami kenaikan debit air menyusul hujan lebat yang terjadi terus-menerus.
Kondisi ini mempersulit petugas untuk menjangkau area terdampak secara merata.
Selain itu, kebutuhan logistik seperti obat-obatan, makanan siap saji, dan perlengkapan bayi mulai menipis.
Baca Juga: Sudah Diangkat, Bolehkah PPPK Paruh Waktu Pindah Instansi? Ini Aturan dan Jawabannya!
Banyak warga mengaku belum menerima bantuan secara maksimal. Beberapa posko pengungsian bahkan harus menampung lebih banyak warga dari kapasitas seharusnya.
Situasi inilah yang membuat emosi warga mudah tersulut, terutama ketika menyangkut nyawa keluarga mereka.
Pemerintah daerah meminta warga tetap tenang dan mengikuti arahan petugas penyelamat.
Mereka juga memastikan bahwa tambahan personel serta bantuan logistik sedang disalurkan ke wilayah terdampak.
Meski demikian, masyarakat berharap upaya penyelamatan bisa berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Kejadian protes ini menjadi pengingat bahwa koordinasi penanganan bencana harus lebih responsif, terutama ketika menyangkut kondisi kesehatan warga.
Harapannya, kejadian serupa tidak terulang dan bantuan dapat tersalurkan dengan lebih baik di seluruh wilayah terdampak banjir.***




