POJOKSATU.id - Setiap 12 April, keluarga besar Gerakan Pramuka mengenang sosok yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah kepanduan Indonesia.

Tanggal tersebut bertepatan dengan hari kelahiran Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun.

Baca Juga: BNPB Sebut Korban Meninggal Dunia Akibat Gempa NTT Sudah Mencapai 14 Orang

Ia merupakan putra Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah.

Sejak muda, Dorodjatun telah mengenal dunia kepanduan. Ketertarikannya terhadap kegiatan tersebut kelak menjadi salah satu bekal penting ketika Indonesia membangun gerakan kepanduan yang lebih terorganisasi.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di sejumlah tempat hingga akhirnya bersekolah di Belanda dan menempuh pendidikan di Universitas Leiden.

Baca Juga: Polemik Lahan Koperasi Desa Merah Putih Jatimulyo, Komisi A DPRD Jember Kawal Nasib 9 KK Terdampak

Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti sebagai seorang bangsawan yang memperoleh pendidikan tinggi.

Ketika Indonesia memasuki masa penting setelah kemerdekaan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX justru tampil dalam berbagai bidang pengabdian kepada negara.

Ketika Berbagai Kepanduan Disatukan
Memasuki awal 1960-an, pemerintah Indonesia berupaya menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang sebelumnya berkembang secara terpisah.

Baca Juga: Danantara Temukan Potensi Tambahan Devisa Ekspor US$5 Miliar dalam 2 Bulan Nama penulis: Ai Nurmayanti

Dalam proses tersebut, Presiden Soekarno melibatkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tahun 1961 kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah kepanduan Indonesia.

Berbagai organisasi kepanduan diarahkan ke dalam satu wadah yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Pramuka.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi salah satu tokoh penting dalam proses tersebut.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mencetuskan nama Pramuka, kependekan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya.

Baca Juga: Anggaran Pendidikan 2027 Capai Rp820,9 Triliun, Ini Rincian Program dan Alokasinya, Ada MBG Rp240 Triliun

Pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat. Pada momentum yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilantik sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka.

Ia kemudian memimpin Kwarnas selama empat periode, dari 1961 hingga 1974.

Membangun Pramuka sebagai Pendidikan Karakter
Di bawah kepemimpinannya, Pramuka tidak hanya diarahkan menjadi organisasi kepanduan, tetapi juga menjadi wadah pendidikan karakter bagi generasi muda.

Berbagai kegiatan kepramukaan dikembangkan untuk menanamkan disiplin, kemandirian, keberanian, kerja sama, dan semangat pengabdian.

Baca Juga: Beasiswa Kedokteran IUHW Jepang dan Kemenkes 2026 Dibuka, Fully Funded hingga 6 Tahun

Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga dikenal sebagai pelopor berbagai kegiatan kepramukaan, termasuk Wirakarya dan Perkemahan Satya Dharma.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Dharma menjadi bagian penting dalam pendidikan anggota Pramuka.

Prinsip tersebut menempatkan pengabdian kepada Tuhan, masyarakat, bangsa, serta sesama sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.

Dengan pendekatan tersebut, Pramuka tidak sekadar mengajarkan keterampilan di alam terbuka. Ada cita-cita yang lebih besar, yakni membentuk generasi yang memiliki tanggung jawab dan kesediaan untuk mengabdi.

Baca Juga: Program Aksara Mahasiswa 2026 Dibuka, Proposal Bisa Diajukan hingga 27 Agustus

Pengakuan dari Dunia Kepanduan
Pengabdian Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak hanya mendapat penghargaan di dalam negeri.

Pada 1973, ia menerima Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM).

Penghargaan tersebut merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan WOSM kepada individu yang dinilai memberikan jasa luar biasa bagi gerakan kepanduan dunia.

Penghargaan itu memperlihatkan bahwa kiprah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam dunia kepanduan tidak hanya dipandang penting bagi Indonesia, tetapi juga mendapat pengakuan internasional.

Baca Juga: Puan Maharani Soroti 8 Masalah yang Jadi Perhatian Rakyat, dari PHK hingga BPJS Kesehatan

Ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia
Penghormatan tertinggi terhadap kiprahnya datang setelah ia wafat.

Dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka 1988, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikukuhkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 10/MUNAS/88.

Penetapan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdiannya dalam membangun Gerakan Pramuka serta menjadikannya bagian penting dari pendidikan karakter generasi muda Indonesia.***