POJOKSATU.id - Masjid Pusaka Banua Lawas merupakan salah satu masjid tua yang terletak di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Masjid ini dikenal luas sebagai masjid tertua di wilayah tersebut sekaligus menjadi bukti sejarah diterimanya Islam oleh masyarakat Dayak Maanyan di daerah itu.
Masjid ini juga sering disebut sebagai Masjid Pasar Arba.
Sebutan tersebut muncul karena setiap hari Rabu atau “arba”, jumlah pengunjung dan peziarah yang datang ke masjid ini jauh lebih banyak dibanding hari-hari lainnya.
Baca Juga: Unhas dan BPOM Bangun Sinergi Hilirisasi Riset Kampus, Dorong Produk Kesehatan Berbasis Inovasi
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tujuan wisata religi bagi umat Islam dari berbagai daerah, termasuk dari Kalimantan Timur.
Hingga kini masih tersimpan beberapa benda bersejarah di dalamnya, seperti beduk asli serta pataka atau mustaka yang panjangnya sekitar 110 sentimeter.
Meski tidak ditemukan inskripsi yang menjelaskan secara pasti waktu pendiriannya, Masjid Pusaka Banua Lawas diperkirakan dibangun pada abad ke-17.
Pembangunannya diprakarsai oleh Khatib Dayan bersama saudaranya, Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Banjar yang berpusat di Kuin.
Dalam proses pembangunannya, Khatib Dayan juga dibantu sejumlah tokoh masyarakat Dayak setempat, di antaranya Datu Ranggana, Datu Kartamina, Datu Saripanji, Langlang Buana, Taruntung Manau, Timba Sagara, Layar Sampit, Pambalah Batung, dan Garuntung Waluh.
Secara arsitektural, bangunan Masjid Pusaka Banua Lawas memperlihatkan ciri khas masjid tua.
Atapnya bertumpang dengan bentuk meruncing menyerupai piramida.
Bangunan masjid juga menggunakan konstruksi panggung yang berdiri di atas tiang-tiang kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang semakin kuat ketika terendam air.
Baca Juga: Tragedi Bantargebang! Gunung Sampah Mendadak Runtuh, 4 Nyawa Melayang Tertimbun Longsor
Pada puncak atap terdapat hiasan kemuncak atau mustaka yang menjadi penanda arsitektur tradisional masjid.
Di dalam ruang utama terdapat empat tiang utama atau soko guru yang menopang bangunan induk masjid.
Selain itu terdapat dua belas tiang penyangga atap kedua serta dua belas tiang pengikat dinding yang juga terbuat dari kayu ulin.
Meski merupakan bangunan tua, ruang utama masjid ini tidak memiliki banyak ornamen hiasan.
Di teras depan masjid terdapat dua buah tajau atau guci besar yang menjadi salah satu peninggalan bersejarah.
Dahulu, guci tersebut digunakan oleh masyarakat Dayak untuk memandikan bayi yang baru lahir.
Menariknya, meski telah berusia ratusan tahun dan sering terkena panas matahari, warna kedua tajau tersebut tetap tidak berubah.
Banyak peziarah yang datang membawa pulang air dari tajau tersebut karena diyakini memiliki berkah, baik untuk diminum maupun untuk membasuh wajah.
Baca Juga: Umur TPST Bantargebang Melebihi Batas, Kini Hanya Menerima Sampah Anorganik
Sebagian besar peziarah datang pada hari Rabu yang bertepatan dengan hari pasar di Banua Lawas.
Selain berziarah, mereka juga beribadah di masjid tersebut, seperti melaksanakan Salat sunah tahiyatul masjid dan membaca Surah Yasin.
Ada pula yang datang untuk menunaikan nazar setelah harapan mereka dikabulkan.
Di samping masjid terdapat area pemakaman warga setempat yang telah ada sejak lama.
Salah satu makam yang cukup mencolok adalah kubah makam Penghulu Rasyid, seorang pejuang Banjar.
Baca Juga: Resep Bubur Candil Ubi Rambat yang Legit dan Hangat, Takjil Favorit Saat Berbuka Puasa
Menurut tradisi lisan masyarakat setempat, sebelum berdirinya masjid, lokasi tersebut dipercaya pernah menjadi tempat pemujaan kepercayaan Kaharingan milik suku Maanyan.
Tempat itu dianggap sakral dan menjadi pusat aktivitas spiritual masyarakat pada masa lampau.
Seiring berkembangnya agama dan peradaban di wilayah tersebut, tempat pemujaan itu kemudian berubah fungsi menjadi masjid.
Dari sinilah jejak awal penyebaran Islam di kalangan masyarakat Dayak Maanyan mulai tercatat dalam sejarah Banua Lawas.
Hingga kini, Masjid Pusaka Banua Lawas tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa proses penyebaran Islam di Nusantara berjalan berdampingan dengan tradisi dan kearifan lokal yang telah hidup sejak lama.***

