POJOKSATU.id - Masjid At-Taqwa merupakan salah satu masjid bersejarah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua di wilayah tersebut dan memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Kerajaan Matan.

Pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Jami dan terletak di pinggiran Sungai Pawan, tepatnya di kawasan Kampung Kauman.

Baca Juga: Kenapa Umat Islam Dianjurkan Membayar Zakat Fitrah Sebelum Idul Fitri? Ini Penjelasannya

Keberadaan masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus tempat pelaksanaan Salat Jumat bagi umat Islam di berbagai kampung sekitar Ketapang.

Masjid Jami didirikan pada masa pemerintahan Panembahan Haji Gusti Muhammad Sabran yang memimpin Kerajaan Matan V pada periode 1876 hingga 1908.

Pada masa itu, pusat Kerajaan Matan dipindahkan dari Tanjung Pura ke Mulia Kerta pada 11 Maret 1876.

Baca Juga: THR PNS 2026 Cair 100 Persen! Ini Daftar Gaji Lengkap Golongan I–IV dan Skema Tukin Terbaru

Dalam periode tersebut, pembangunan Masjid Jami di tepi Sungai Pawan menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat syiar Islam di wilayah Ketapang.

Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat dakwah dan pengembangan pendidikan Islam.

Setiap hari Jumat, umat Islam dari berbagai kampung seperti Negeri Baru, Mulia Kerta, Arab, Tuan-Tuan, Banjar, Sungai Kinjil, Baru, Sukabaru, Mulia Baru, Kantor, Tengah, Sampit, hingga Kampung Kaum datang untuk melaksanakan Salat Jumat di masjid tersebut.

Baca Juga: Sejarah ISBI Bandung: Dari Konservatori Tari hingga Menjadi Institut Seni Budaya Indonesia

Seiring berjalannya waktu, kondisi lokasi masjid yang berada di tepi sungai mengalami ancaman abrasi.

Selain itu, daya tampung bangunan lama juga dinilai tidak lagi memadai untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Oleh karena itu, seorang tokoh agama setempat bernama Mualim Haji Muhammad Ali Usman menggagas pemindahan masjid ke lokasi yang lebih aman.

Baca Juga: THR ASN 2026 Resmi Cair! Naik 10 Persen, Total Rp55 Triliun untuk PNS, TNI, Polri hingga Pensiunan

Pada tahun 1950, Haji Muhammad Ali Usman membentuk Panitia Pembangunan Masjid At-Taqwa untuk merealisasikan rencana tersebut.

Pemindahan Masjid Jami ke lokasi baru sekaligus disertai perubahan nama menjadi Masjid At-Taqwa.

Proses pembangunan masjid baru berjalan dengan penuh perjuangan.

Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan semangat gotong royong masyarakat.

Baca Juga: Terbaru 2026! Ini Rincian Potongan Gaji PPPK, BPJS, IWP hingga JHT 3,25 Persen yang Mulai Berlaku

Warga Kampung Kaum dan Kampung Banjar bahu-membahu membantu pembangunan tanpa pamrih.

Bahkan pada malam hari saat bulan purnama, masyarakat tetap bekerja dengan penerangan lampu seadanya demi mempercepat penyelesaian pembangunan masjid yang menjadi kebanggaan mereka.

Semangat kebersamaan dan keikhlasan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Masjid At-Taqwa.

Baca Juga: Zulhas Buka Peringatan Serius, Dalam 15 Tahun Mendatang Dunia Berpotensi Perang karena Sumber Makanan

Akhirnya, pembangunan masjid berhasil diselesaikan dan secara resmi mulai digunakan pada 10 November 1952, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Peresmian penggunaan masjid tersebut ditandai dengan pemberian sebuah jam dinding dari Panitia Hari Pahlawan Kabupaten Ketapang yang diserahkan oleh Serma Soeprapto.

Baca Juga: TPG Maret 2026 Jadi Harapan Guru Sertifikasi Menjelang Lebaran, Ini Alur Data Dapodik, Validasi Info GTK, hingga Dana Cair

Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid At-Taqwa juga memiliki kaitan dengan perkembangan pendidikan Islam di Ketapang.

Pada masa Sultan Jamaluddin, syiar Islam berkembang pesat di wilayah tersebut.

Di Tanjung Pura bahkan berdiri sebuah madrasah yang diasuh oleh Aminullah Al-Maghribi yang dikenal sebagai Syech Maghribi.

Madrasah tersebut menarik santri dari berbagai daerah di Kalimantan Barat sehingga menjadikan Syech Maghribi dikenal sebagai ulama besar pada masa itu.

Baca Juga: Dari Pesisir untuk Negeri, bank bjb Hadirkan Edukasi Keuangan bagi Nelayan Kabupaten Cirebon

Memasuki era modern, Masjid At-Taqwa mengalami proses rehabilitasi besar-besaran.

Renovasi tersebut membuat sebagian besar ornamen lama tidak lagi terlihat.

Meski demikian, beberapa bagian penting dari bangunan lama masih dipertahankan sebagai simbol sejarah, seperti kubah, mimbar, serta empat tiang utama yang berada tepat di bawah kubah masjid.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Menteri ESDM Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman dan Minta Warga Tak Panic Buying

Pada era 1980 hingga 1990-an, Masjid At-Taqwa pernah menjadi pusat kegiatan dakwah dan pengajian yang cukup aktif.

Kegiatan tersebut dimotori oleh sejumlah tokoh agama, di antaranya Ustaz Haji Nawawi bin Haji Ahmad dan Ustaz Sudarman.

Setelah wafatnya Ustaz Haji Nawawi pada tahun 1999, aktivitas dakwah sempat mengalami penurunan.

Namun kini berbagai kegiatan keagamaan kembali aktif dilaksanakan di masjid ini.

Baca Juga: Perguruan Tinggi Dikerahkan untuk Percepat Energi Terbarukan, Riset Kampus Jadi Motor Transisi Energi

Di antaranya adalah kegiatan taklim harian yang membahas keutamaan amal, musyawarah setelah Salat Subuh untuk merancang program kegiatan, serta kunjungan silaturahmi ke masyarakat sekitar.

Selain itu, setiap Senin malam juga dilaksanakan musyawarah dakwah di pusat kegiatan Masjid At-Taqwa Kampung Kaum yang dihadiri perwakilan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

Pertemuan tersebut membahas perkembangan kegiatan dakwah di wilayah masing-masing.

Baca Juga: Mudik Gratis Polres Bogor 2026 Dibuka Besok, Cek Jadwal, Rute, dan Syarat Pendaftarannya

Keberadaan Masjid At-Taqwa hingga kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah panjang perkembangan Islam di Ketapang.

Warisan spiritual dan budaya yang melekat pada masjid ini menjadi pengingat penting tentang peran masyarakat, ulama, dan kerajaan dalam membangun peradaban Islam di Kalimantan Barat.***