POJOKSATU.id — Kesabaran adalah salah satu sifat yang paling dianjurkan dalam Islam.

Di setiap ujian dan cobaan, Allah menjanjikan ganjaran yang besar bagi mereka yang tetap teguh dalam keimanan.

Kisah berikut menjadi bukti betapa kesabaran mampu mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Pada suatu zaman, seorang laki-laki bernama Abul Hassan menunaikan ibadah haji di Baitullah.

Ketika ia sedang melakukan tawaf, matanya tertuju pada seorang wanita yang wajahnya tampak bercahaya dan penuh ketenangan.

Ia terkejut dan berkata dalam hati, "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah itu. Pasti karena hatinya yang selalu damai, tanpa kegelisahan atau kesedihan."

Baca Juga: Kisah Zunairah, Keteguhan Hamba yang Diuji, Iman yang Tak Tergoyahkan, Mata Butanya Kembali Bisa Melihat, Dibebaskan dari Perbudakan

Mendengar ucapan itu, wanita tersebut menoleh dan berkata,

"Apa yang engkau katakan, saudaraku? Demi Allah, aku justru dipenuhi duka dan lara. Tak seorang pun mengetahui kepedihan yang membelenggu hatiku."

Abul Hassan pun bertanya, "Apa yang membuatmu begitu bersedih?"

Wanita itu menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.

"Suatu hari, suamiku tengah menyembelih kambing kurban. Aku memiliki dua anak kecil, yang satu sudah bisa bermain, sementara yang satunya masih menyusu.

Ketika aku bangun untuk menyiapkan makanan, anakku yang lebih besar berkata kepada adiknya, 'Maukah aku tunjukkan bagaimana ayah menyembelih kambing?'

Sang adik mengangguk lugu. Tanpa berpikir panjang, anakku yang besar meminta adiknya berbaring lalu menggorok lehernya dengan pisau tajam, menirukan cara ayahnya.

Baca Juga: Kisah Wanita Alawiyah, KELAPARAN Cari Makanan untuk Anaknya, Jadi CAHAYA HIDAYAH bagi Seorang Pemimpin Majusi, Allah SWT Menyiapkan Istana di Surga

Setelah melihat darah memancar, ia ketakutan lalu berlari ke bukit. Di sana, ia diterkam oleh serigala.

Suamiku yang mendengar kabar itu bergegas mencari anak kami, tetapi di tengah perjalanan, ia meninggal karena kehausan.

Tak lama setelah itu, ketika aku hendak keluar mencari suamiku, aku meletakkan bayiku di dekat periuk berisi air panas.

Bayiku merangkak dan menarik periuk itu hingga air panas tumpah ke tubuhnya. Kulitnya terbakar habis.

Kabar duka ini akhirnya sampai ke anakku yang sudah menikah dan tinggal di tempat lain. Ia begitu syok hingga jatuh pingsan dan meninggal dunia. Kini, aku sendirian, tanpa keluarga, tanpa siapa pun."

Abul Hassan begitu terkejut mendengar kisah yang memilukan itu. "Bagaimana engkau bisa tetap bertahan dalam ujian seberat ini?" tanyanya.

Wanita itu tersenyum lemah.

Baca Juga: Kisah Seekor Unta DIKEJAR Pemilik Hendak Disembelih, Mengadu kepada Rasulullah, Tuannya Tidak Shalat Isya Jika Malam Hari

"Tak ada yang mampu membedakan antara kesabaran dan keluhan kecuali orang yang memahami hakikatnya. Kesabaran adalah menerima dan memperbaiki keadaan lahiriah, yang pada akhirnya akan berbuah pahala.

Sementara mengeluh tak akan mengubah apa pun, selain membuat seseorang kehilangan pahala dan hanya menuai kesia-siaan."

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesabaran adalah kunci keteguhan dalam menghadapi setiap musibah.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Qudsi, "Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin, jika Aku mengambil kekasihnya dari ahli dunia lalu ia bersabar, kecuali surga baginya."

Sebaliknya, Islam sangat mengecam sikap mengeluh. Rasulullah SAW bersabda, "Tiga perkara termasuk tanda kekafiran kepada Allah: merobek pakaian (karena duka), mengeluh, dan mencela nasab orang lain." (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga: Kisah dari Medan Perang Yarmuk, Percakapan Khalid bin Walid dan George, Jederal Romawi yang Berbalik Membela Islam

Dalam hadits lain, beliau bersabda, "Mengeluh adalah kebiasaan jahiliyah. Barang siapa meninggal dalam keadaan masih suka mengeluh tanpa bertobat, maka Allah akan memberinya pakaian dari uap api neraka." (HR. Ibnu Majah)

Semoga kita semua menjadi hamba yang senantiasa sabar dalam menghadapi cobaan dan tidak mudah mengeluh atas takdir Allah. ***