POJOKSATU.id — Pada suatu masa, di dalam kitab Al Multaqith diceritakan tentang sebuah keluarga keturunan Alawiyah yang hidup dalam serba kekurangan di Balkha.
Mereka terdiri dari seorang suami, istri, dan beberapa anak perempuan.
Cobaan semakin berat ketika sang suami meninggal dunia, meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kondisi yang sulit.
Musim dingin yang menggigit memaksa sang ibu mengambil keputusan besar.
Bersama anak-anaknya, ia meninggalkan kampung halaman menuju Samarkand demi menghindari celaan masyarakat sekitar.
Setibanya di kota itu, mereka mencari perlindungan di sebuah masjid, sementara sang ibu pergi mencari makanan.
Dalam pencariannya, ia bertemu dua kelompok orang. Salah satunya dipimpin oleh seorang tokoh Muslim yang dihormati di kota itu, sementara yang lain dipimpin oleh seorang pemuka Majusi.
Dengan harapan besar, sang ibu mendekati tokoh Muslim itu dan memohon bantuan.
"Tuan, berkenankah memberi kami makanan untuk malam ini?" pintanya dengan penuh harap.
Namun, jawaban yang diterima sungguh memilukan. "Tunjukkan bukti bahwa engkau benar-benar keturunan Alawiyah," kata tokoh Muslim itu.
"Tak ada seorang pun di kampung ini yang mengenalku," jawab sang ibu dengan lirih. Sayangnya, permohonannya diabaikan.
Putus asa, ia lalu mencoba mendekati pemuka Majusi. Setelah mendengar kisahnya, pemimpin Majusi itu justru menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa.
Ia segera memerintahkan keluarganya untuk menjemput wanita Alawiyah dan anak-anaknya dari masjid.
Mereka dibawa ke rumahnya, diberi tempat tinggal, dan bahkan diberi perhiasan yang indah sebagai tanda kehormatan.
Malam itu, tokoh Muslim yang menolak sang ibu mengalami mimpi yang menggetarkan hati. Ia melihat hari kiamat telah tiba, dan panji kebenaran berada di atas Rasulullah SAW.
Pandangannya tertuju pada istana megah dari zamrud hijau. Dengan penuh kekaguman, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, milik siapakah istana ini?"
"Milik seorang Muslim yang benar-benar mengesakan Allah," jawab Rasulullah SAW.
Dengan penuh keyakinan, tokoh Muslim itu berkata, "Aku juga seorang Muslim, wahai Rasulullah!"
Namun, Rasulullah SAW hanya menjawab, "Tunjukkan bukti bahwa engkau benar-benar seorang Muslim yang mengesakan Allah. Bukankah engkau yang menolak seorang hamba Allah yang membutuhkan pertolongan?"
Tersadar dari mimpinya dengan air mata berderai, sang tokoh Muslim merasa bersalah.
Dihantui perasaan berdosa, ia segera bergegas mencari wanita Alawiyah yang telah ia abaikan.
Setibanya di rumah sang Majusi, ia memohon agar diizinkan membawa pergi ibu dan anak-anaknya.
Namun, sang Majusi menjawab, "Mereka ada padaku sekarang. Jika engkau menginginkannya, berikan kepadaku seribu dinar, baru mereka akan aku serahkan."
Tokoh Muslim itu dengan lantang menukas, "Aku akan membayar harganya!"
Mendengar itu, sang Majusi justru berkata dengan penuh keyakinan,
"Tidak, akulah yang berhak menentukan nasib mereka sekarang. Dan aku telah memutuskan bahwa mereka tetap tinggal bersamaku.
Karena berkat mereka, aku telah mendapatkan cahaya hidayah. Dalam mimpiku, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, 'Istana yang kaulihat adalah milikmu dan keluargamu.
Karena sesungguhnya Allah telah menetapkanmu sebagai seorang Mukmin sejak zaman dahulu.'"
Mendengar hal itu, sang tokoh Muslim hanya bisa menangis tersedu-sedu, menyesali kebutaannya terhadap makna sejati Islam. ***

