POJOKSATU.id — Dahulu, terdapat sebuah negeri Muslim yang makmur dan penuh kedamaian. Rakyatnya hidup sejahtera di bawah kepemimpinan seorang raja yang adil, bijaksana, dan jauh dari korupsi.
Ia selalu menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Setiap hari, ia menerima laporan dari para menteri bahwa rakyatnya hidup dalam keadaan aman, sehat, dan berkecukupan.
Suatu malam, Sang Raja ingin melihat langsung kondisi rakyatnya.
Ia pun menyamar dan berkeliling negeri, ditemani beberapa menteri dan pembantunya.
Saat melewati sebuah rumah kecil, ia mendengar suara rintihan seorang pemuda yang kelaparan.
Dari dalam, seorang ibu dengan suara lemah memberitahu anaknya bahwa mereka tidak memiliki lagi makanan.
Sang Raja pun terkejut dan bertanya kepada para menterinya, bagaimana mungkin ada rakyatnya yang kelaparan?
Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk membawa pemuda itu ke istana secara diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya.
Malam itu juga, pemuda tersebut dibawa dalam keadaan tertidur dan ditempatkan di kamar istana yang megah.
Keesokan harinya, ketika terbangun, pemuda itu terkejut mendapati dirinya berada di tempat yang asing.
Para pembantu istana menjelaskan bahwa ia telah diangkat menjadi raja untuk sehari.
Dengan penuh rasa heran dan kebingungan, ia menikmati kemewahan istana, tanpa memikirkan ibunya yang sedang cemas mencari keberadaannya.
Sementara itu, sang ibu menghabiskan hari dengan mencari anaknya ke segala penjuru.
Penuh air mata, ia bahkan pergi ke istana untuk meminta bantuan Raja dalam menemukan anaknya.
Namun, para penjaga melarangnya masuk.
Seorang pengawal yang merasa iba akhirnya menyampaikan kabar kepada Sang Raja bahwa ada seorang ibu tua yang lusuh dan kelaparan sedang mencari anaknya yang hilang.
Pemuda yang kini menjadi raja hanya memerintahkan agar diberikan satu karung beras kepada wanita tua itu.
Ia kembali menikmati kemewahan tanpa menyadari kesempatan besar yang telah diberikan kepadanya.
Malam harinya, sesuai kesepakatan, Sang Raja yang asli bersama para pembantunya diam-diam memindahkan pemuda itu kembali ke rumahnya.
Keesokan pagi, ia terbangun dan mendapati dirinya kembali berada di gubuknya.
Sang ibu, yang sangat bahagia menemukan anaknya, bercerita bagaimana ia mencarinya ke mana-mana, hingga akhirnya meminta bantuan ke istana dan menerima satu karung beras dari Raja.
Saat itu juga, pemuda itu tersadar bahwa dialah Raja yang telah memutuskan untuk memberikan satu karung beras tersebut.
Dengan penuh penyesalan, ia berlari kembali ke istana dan meminta kepada Sang Raja agar diangkat kembali, meskipun hanya setengah hari.
Ia ingin mengirim lebih banyak beras untuk ibunya. Namun, Sang Raja menolak dengan tegas, mengatakan bahwa waktunya sebagai raja telah habis.
Pemuda itu semakin memohon, bahkan bersedia menjadi raja hanya satu jam, atau beberapa menit saja.
Namun, Sang Raja tetap menolak. Dengan hati penuh penyesalan, pemuda itu kembali ke rumahnya, melihat satu karung beras yang tersisa.
Seandainya ia tahu, tentu ia akan memanfaatkan kekuasaannya untuk mengirim lebih banyak makanan kepada ibunya.
Namun, semua sudah terlambat. Kesempatan itu telah berlalu dan tidak akan pernah kembali.
Kisah ini menggambarkan bagaimana di hari kiamat nanti, orang-orang kafir dan pendosa akan menyesali kehidupan dunia mereka. Mereka akan memohon kepada Allah:
“Dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” (Al-A’raaf: 53)
Namun, Allah tetap menolak, karena waktu mereka telah habis.
Mereka akan menangisi betapa kikirnya mereka dulu, seandainya mereka dermawan, tentu bukan hanya satu, melainkan berton-ton beras yang mereka kirim untuk diri mereka sendiri.
Sebab, segala amal yang kita lakukan di dunia bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri.
Allah SWT berfirman dalam Surat Muhammad: 38, artinya:
"Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri."
Beras dalam kisah ini adalah pahala. Selama kita masih hidup di dunia, inilah saatnya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal di akhirat kelak.
Rasulullah SAW pernah ditanya siapa orang yang paling cerdas, dan beliau menjawab:
"Orang yang paling cerdas adalah mereka yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan sebaik-baiknya."
Jangan sampai kita menyesal di akhirat karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Allah SWT telah memperingatkan dalam Surat Al-Ashr:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran."
Saat ini, kita masih memiliki kesempatan. Kita adalah Raja yang masih berada di istana.
Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk beramal, sebelum waktu kita habis dan kita hanya bisa menyesal. ***

