POJOKSATU.id — Pada masa kekhalifahan Al-Mahdi, hiduplah seorang gubernur yang terkenal akan kekayaannya. Tak heran jika ia doyan nyawer.
Suatu hari, ia mengumpulkan para tetangganya dan menaburkan dinar di hadapan mereka.
Dengan penuh suka cita, mereka berebut mengumpulkan kepingan emas itu.
Namun, di tengah kegaduhan tersebut, seorang wanita lusuh berkulit hitam dan berwajah kurang menarik hanya berdiri diam, memperhatikan mereka tanpa sedikit pun tergoda untuk ikut mengais harta.
Melihat keanehan itu, sang Gubernur bertanya, "Mengapa engkau tidak ikut mengambil dinar seperti mereka?"
Wanita itu menjawab dengan tenang, "Karena yang mereka kejar adalah bekal dunia, sedangkan yang saya butuhkan adalah bekal akhirat."
Sang Gubernur semakin tertarik dengan jawaban tersebut dan bertanya lebih lanjut.
Wanita itu melanjutkan, "Dunia ini hanya sementara. Apa yang saya perlukan bukanlah dinar, melainkan salat, puasa, dan zikir. Sebab perjalanan di dunia sangat pendek dibandingkan kehidupan akhirat yang abadi."
Jawaban itu menohok hati sang Gubernur.
Ia tersadar bahwa selama ini dirinya hanya sibuk menumpuk harta dan melupakan urusan akhirat.
Padahal, usianya sudah lebih dari setengah abad, dan malaikat maut bisa datang kapan saja.
Sejak pertemuan itu, sang Gubernur merasa ada sesuatu yang istimewa dalam diri wanita tersebut.
Hingga pada suatu hari, ia mengadakan sebuah jamuan mewah, mengundang para pejabat, orang-orang terhormat, serta tetangganya, termasuk wanita yang telah menggugah kesadarannya.
Dalam jamuan itu, setiap tamu diberikan gelas kristal bertatahkan permata, berisi anggur segar.
Tiba-tiba, sang Gubernur memerintahkan semua orang untuk membanting gelas mereka.
Namun, tak seorang pun berani melakukannya. Hanya terdengar dentingan satu gelas yang pecah—itu berasal dari wanita lusuh yang dulu ia temui.
Terkejut, sang Gubernur bertanya, "Mengapa engkau memecahkan gelas itu?"
Wanita itu menjawab, "Ada beberapa alasan. Pertama, dengan pecahnya gelas ini, berarti kekayaan Tuan berkurang. Namun, menurut saya, lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan wibawa karena perintah Tuan tidak ditaati."
Semua orang terdiam, mengagumi kebijaksanaan jawabannya.
"Apa alasan lainnya?" tanya sang Gubernur.
Wanita itu tersenyum dan berkata, "Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman agar kita taat kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada penguasa. Karena Tuan adalah seorang pemimpin, maka saya patuh kepada perintah Tuan."
Semakin kagum, sang Gubernur bertanya, "Adakah alasan lain?"
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasulullah MENAHAN LAPAR Demi Menghormati Tamu, Membuat Allah Takjub Kepadanya
Wanita itu mengangguk, "Ketiga, dengan saya memecahkan gelas ini, orang-orang mungkin menganggap saya gila. Namun, lebih baik saya dicap gila karena menaati perintah Tuan, daripada saya dicap durhaka karena mengabaikan perintah pemimpin saya."
Mendengar itu, semua tamu terkesima.
Sang Gubernur pun semakin mantap dengan perasaannya.
Tak lama kemudian, ia melamar wanita tersebut dan menikahinya.
Awalnya, banyak yang tak habis pikir bagaimana seorang gubernur kaya bisa jatuh cinta kepada wanita yang tampak biasa saja.
Namun, setelah melihat kebijaksanaan dan keteguhan iman perempuan itu, semua akhirnya mengakui bahwa gubernur itu telah memilih wanita terbaik, seorang yang bukan hanya taat kepada suaminya, tetapi juga taat kepada pemimpinnya, Nabinya, dan Tuhannya. ***

