POJOKSATU.id — Menjelang akhir hayatnya, Abu Musa Al-Asy'ari ra. berbaring dalam keadaan berdzikir, menanti saat perjumpaannya dengan malaikat maut.
Di sisinya, putranya setia menemani, memperhatikan setiap kata yang terucap dari bibir sang ayah.
Dengan suara yang semakin lirih, Abu Musa berkata, "Apakah kau masih ingat kisah seorang lelaki dan sepotong roti?"
Anak-anaknya pun mendekat, menyimak dengan penuh perhatian, menyadari bahwa mungkin ini adalah kisah terakhir yang akan disampaikan oleh ayah mereka.
Abu Musa kemudian mulai bertutur, "Dahulu, hiduplah seorang lelaki yang saleh, yang selama 70 tahun tidak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah. Ia senantiasa mengisi hari-harinya dengan amal ibadah."
Namun, suatu hari, setan berhasil menggoda lelaki tersebut dengan keindahan seorang wanita yang luar biasa cantik.
Godaan itu begitu kuat hingga ia tergelincir dalam dosa, menghabiskan tujuh hari tujuh malam bersama wanita tersebut dalam perbuatan maksiat.
Setelah seminggu berlalu, kesadaran kembali menghampirinya.
Dengan penuh penyesalan, ia meninggalkan wanita itu dan berjalan tanpa henti, bibirnya tak lepas dari istighfar, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Saat malam tiba, ia belum juga sampai di tempat tujuan.
Dalam keadaan lelah dan lapar, ia mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah lokasi di mana terdapat 12 orang pengemis. Ia pun beristirahat di antara mereka.
Setiap malam, seorang dermawan selalu mengirimkan 12 potong roti untuk para pengemis tersebut.
Malam itu, karena lelaki tersebut dianggap sebagai bagian dari mereka, ia pun menerima sepotong roti. Akibatnya, salah satu pengemis tidak mendapat jatahnya.
Merasa iba, lelaki itu tanpa ragu menyerahkan rotinya kepada pengemis yang kelaparan, meskipun dirinya sendiri dalam kondisi sangat lelah dan lapar.
Esok paginya, tubuhnya ditemukan tak bernyawa. Ia telah meninggal dunia akibat kelaparan dan kedinginan.
Ketika amal perbuatannya ditimbang oleh para malaikat, mereka menemukan bahwa ibadahnya selama 70 tahun sebanding dengan dosa yang ia lakukan selama tujuh hari tujuh malam.
Namun, ada satu amal yang membuat perhitungannya berubah.
"Karena keikhlasan dan belas kasihnya dalam memberikan sepotong roti kepada seorang yang kelaparan, pahala sedekahnya menjadi penentu yang membuat timbangan amal baiknya lebih berat. Dengan itu, Allah mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga."
Abu Musa menutup kisahnya dengan nasihat penuh makna, "Anak-anakku, ingatlah lelaki yang membawa sepotong roti itu." ***

