POJOKSATU.id — Kaum Quraisy telah melakukan berbagai cara untuk menghentikan penyebaran Islam, tetapi semua usaha mereka berakhir sia-sia.
Hal ini justru semakin membakar kebencian Abu Jahal terhadap Rasulullah SAW, bahkan melebihi kebencian Abu Lahab.
Di hadapan sekelompok Quraisy, Abu Jahal berseru, “Wahai kaumku! Jangan biarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya sesuka hati. Ia telah menghina agama nenek moyang kita dan mencela tuhan yang kita sembah.”
Ucapan itu segera disambut dengan sumpah setia dari orang-orang yang hadir.
“Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu dikhianati oleh keluarga Muhammad. Lanjutkan niatmu!”
Dengan penuh kebanggaan, mereka mendukung rencana jahat Abu Jahal untuk melenyapkan Rasulullah SAW, berharap hal itu akan mengakhiri keresahan mereka terhadap ajaran Islam.
Pagi harinya, Abu Jahal berjalan menuju Ka’bah dengan penuh percaya diri.
Ia membawa sebongkah batu besar di tangannya, siap menghantam kepala Nabi Muhammad SAW saat beliau sedang salat.
Sejumlah kaum Quraisy mengikutinya, ingin menyaksikan aksi yang mereka yakini akan mengukuhkan Abu Jahal sebagai pahlawan mereka.
Setibanya di halaman Masjidil Haram, Abu Jahal melihat Nabi Muhammad SAW telah memulai salatnya.
Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mendekati Rasulullah SAW dari belakang.
Para sahabatnya menahan napas, menanti momen di mana batu itu akan dijatuhkan ke kepala Rasulullah SAW.
Namun, saat Abu Jahal hendak mengayunkan batu tersebut, tiba-tiba ia mundur dengan cepat, wajahnya pucat pasi, dan batu yang dipegangnya jatuh ke tanah.
Kakinya terasa kaku, seolah tertanam di bumi. Orang-orang Quraisy yang menyaksikan kejadian itu terkejut. Mereka saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Teman-temannya segera menarik Abu Jahal menjauh sebelum Rasulullah SAW menyadari keberadaannya.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, para sahabatnya segera mencecarnya dengan pertanyaan. “Apa yang terjadi padamu, Abu Jahal? Mengapa kau tidak menyelesaikan rencanamu?”
Abu Jahal yang biasanya penuh keberanian kini tampak terguncang. Dengan suara terbata-bata, ia berkata, “Saat aku mendekatinya, tiba-tiba muncul seekor unta besar yang siap menendangku. Aku tak berani melangkah lebih jauh.”
Pernyataan itu mengecewakan para sahabatnya.
Mereka semakin meragukan keberanian Abu Jahal.
“Kami melihatmu dengan jelas, Abu Jahal. Tidak ada unta di sana, bahkan bayangannya pun tidak tampak,” ujar mereka dengan penuh kebingungan.
Dari peristiwa itu, sebagian sahabat Abu Jahal mulai kehilangan kepercayaan padanya. Mereka menyadari bahwa usaha untuk menghentikan Nabi Muhammad SAW tidak semudah yang mereka bayangkan.
Sementara itu, Abu Jahal masih larut dalam kebingungannya, tak mampu memahami bagaimana rencananya bisa gagal begitu saja. ***

