POJOKSATU.id — Di tengah hamparan padang pasir yang luas dan tandus, seorang lelaki berjalan sendirian. Panas matahari menyengat, dan angin gurun berembus kering.
Tiba-tiba, dari langit, terdengar suara dari balik awan, "Siramilah kebun si Fulan!"
Lelaki itu terkejut. Ia menengadah dan melihat awan bergerak perlahan.
Tak lama kemudian, hujan turun, membasahi tanah yang kering. Air mengalir deras ke salah satu saluran, seolah telah diarahkan ke tempat tertentu.
Penasaran, lelaki itu mengikuti aliran air hingga tiba di sebuah kebun yang hijau dan subur—sesuatu yang tak biasa di tengah gurun.
Di dalam kebun itu, seorang pria tampak sibuk mengatur aliran air ke tanaman-tanamannya.
Sang musafir mendekatinya dan bertanya, "Wahai hamba Allah, siapa namamu?"
Pria itu menjawab, "Namaku Fulan. Mengapa engkau menanyakan namaku?"
Lelaki pengembara itu pun menceritakan pengalamannya, "Aku mendengar suara dari dalam awan yang menyeru, 'Siramilah kebun si Fulan!' Aku ingin tahu, amalan apa yang telah engkau lakukan hingga Allah mengirimkan hujan khusus untuk kebunmu?"
Fulan tersenyum lalu berkata, "Baiklah, jika engkau ingin tahu. Setiap kali aku memanen hasil dari kebun ini, aku membaginya dalam tiga bagian.
Sepertiga aku sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan, sepertiga lagi aku gunakan untuk kebutuhan keluargaku, dan sepertiga sisanya aku kembalikan ke kebun ini agar tetap lestari."
Mendengar hal itu, sang musafir tersentuh.
Ia kini menyadari bahwa berkah yang diterima Fulan bukanlah kebetulan, melainkan balasan atas kebaikannya yang tulus dalam berbagi. ***

