POJOKSATU.id — Tidak semua sahabat Rasulullah memiliki nama yang dikenal luas seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, atau Ali bin Abi Thalib.
Namun, ada satu sahabat yang memiliki kebiasaan istimewa dan kisah hidupnya penuh hikmah.
Dia adalah Syaban, seorang pria yang begitu mencintai masjid dan shalat berjamaah.
Setiap waktu shalat fardhu, Sya’ban selalu menjadi orang pertama yang hadir di masjid.
Ia memilih duduk di sudut ruangan, bukan untuk bersandar dan beristirahat, tetapi agar tidak mengganggu jamaah lain yang ingin beribadah.
Kebiasaan ini telah ia jalani sepanjang hidupnya.
Suatu pagi, menjelang shalat subuh, Rasulullah menyadari sesuatu yang tak biasa.
Sya’ban tidak ada di tempatnya seperti biasa. Para sahabat pun saling berpandangan, tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Setelah menunggu beberapa saat, Rasulullah memutuskan untuk memulai shalat subuh berjamaah.
Rasulullah Mendatangi Rumah Sya’ban
Usai shalat, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang tahu di mana rumah Sya’ban?”
Salah seorang sahabat memberi tahu lokasi rumahnya.
Rasulullah, khawatir terjadi sesuatu, segera meminta untuk diantarkan ke sana. Perjalanan ke rumah Sya’ban cukup jauh, memakan waktu dari setelah subuh hingga menjelang dhuha.
Setibanya di rumah Sya’ban, Rasulullah mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Seorang wanita keluar, membalas salam, lalu membuka pintu.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” tanya Rasulullah.
Wanita itu mengangguk, “Ya, saya istrinya.”
Rasulullah pun bertanya, “Bisakah kami bertemu dengannya? Ia tidak hadir shalat subuh pagi ini.”
Mata wanita itu berkaca-kaca.
“Mohon maaf, ya Rasulullah. Suamiku telah meninggal dunia pagi tadi, tepat sebelum adzan subuh.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap Rasulullah dan para sahabat.
Baca Juga: KIsah Luqman dan Putranya, Bergantian Naik Keledai Menuju Pasar, Begini Hikmah yang Bisa Dipetik
Setelah beberapa saat, wanita itu memberanikan diri bertanya, “Ya Rasulullah, sebelum wafat, suamiku sempat berteriak tiga kali dengan kalimat yang berbeda. Aku ingin tahu, apa makna di baliknya?”
Rasulullah bertanya, “Apa saja yang ia katakan?”
Wanita itu menjawab,
“Ia berkata,
‘Aduh, mengapa tidak lebih jauh ?
Aduh, mengapa tidak yang baru ?
Baca Juga: Kisah Pemuda Beriman, Antara Ajaran Rahib atau Tukang Sihir
Aduh, mengapa tidak semuanya ?’”
Tiga Penyesalan di Akhir Hayatnya
Rasulullah pun menjelaskan makna di balik kata-kata tersebut.
Ketika menjelang sakaratul maut, Allah memperlihatkan kepada Sya’ban semua amal perbuatannya dan ganjaran yang diterimanya.
Teriakan pertama: “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?”
Sya’ban melihat perjalanan yang selalu ia tempuh ke masjid setiap hari untuk shalat berjamaah.
Allah menunjukkan pahala dari setiap langkah kakinya. Saat itulah, ia menyesal. Andaikan rumahnya lebih jauh, tentu pahalanya akan lebih besar lagi.
Teriakan kedua: “Aduh, mengapa tidak yang baru?”
Pada musim dingin, Sya’ban sering mengenakan dua lapis pakaian: yang baru di dalam, yang lusuh di luar agar tidak kotor.
Baca Juga: Kisah Uzair, Tidur Selama 100 Tahun, Hikmah Bukti Kebesaran Allah Menghidupkan yang Mati
Suatu hari, ia bertemu dengan seseorang yang kedinginan dan memberikan jubah luarnya. Saat ajal menjemput, ia menyesali pilihannya.
Jika saja ia memberikan pakaian yang baru, tentu ganjarannya lebih besar.
Teriakan ketiga: “Aduh, mengapa tidak semuanya?”
Suatu pagi, Sya’ban hendak sarapan dengan sepotong roti dan segelas susu.
Ketika seorang pengemis datang meminta makanan, ia membagi sarapannya menjadi dua bagian yang sama.
Namun, di akhir hidupnya, ia menyesali keputusan itu. Andaikan ia memberikan semuanya, pahala yang diperoleh akan jauh lebih besar.
Kisah Sya’ban mengajarkan bahwa dalam hidup, kita sering melakukan kebaikan, tetapi terkadang masih ada penyesalan karena tidak berbuat lebih.
Rasulullah pun berpesan kepada para sahabat agar selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap amal kebaikan. ***

