POJOKSATU.id — Dahulu kala, di suatu kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang zalim, terdapat seorang tukang sihir yang telah berusia lanjut.
Menyadari usianya yang semakin tua, ia meminta sang raja untuk mencari seorang pemuda yang dapat ia latih sebagai penerusnya.
Raja pun mengabulkan permintaan itu dan menemukan seorang pemuda yang kemudian mulai belajar sihir darinya.
Dalam perjalanan menuju tempat tukang sihir, pemuda itu sering melewati rumah seorang rahib (ahli ibadah).
Suatu hari, ia tertarik dengan nasihat dan ajaran rahib tersebut. Hatinya tergugah, sehingga ia pun mulai sering singgah untuk mendengarkan ajarannya.
Karena sering terlambat datang ke tempat tukang sihir, ia kerap dihukum.
Saat mengadu kepada sang rahib, ia diberi nasihat, "Jika engkau takut pada tukang sihir, katakan bahwa keluargamu menahanmu. Jika engkau takut pada keluargamu, katakan bahwa tukang sihir menahanmu."
Baca Juga: Kisah Uzair, Tidur Selama 100 Tahun, Hikmah Bukti Kebesaran Allah Menghidupkan yang Mati
Suatu hari, seekor binatang besar menghalangi jalan masyarakat.
Pemuda itu melihat ini sebagai kesempatan untuk mengetahui mana yang lebih benar—ajaran rahib atau tukang sihir.
Ia pun berdoa, "Ya Allah, jika ajaran rahib lebih Engkau ridai daripada ilmu tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini."
Setelah melempar batu, binatang itu mati dan jalan pun terbuka.
Hal ini semakin menguatkan keyakinannya kepada Allah.
Ia menceritakan kejadian itu kepada sang rahib, yang kemudian memperingatkannya bahwa ia akan diuji atas keimanannya.
Seiring waktu, pemuda itu dianugerahi kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk buta dan belang.
Suatu hari, seorang penasihat raja yang buta mendengar tentang pemuda ini dan datang membawa hadiah.
Namun, pemuda itu menegaskan, "Aku tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Allah-lah yang menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada-Nya, aku akan berdoa untuk kesembuhanmu."
Penasihat raja itu beriman, dan Allah menyembuhkan matanya.
Namun, perubahan ini membuat raja curiga. Ketika penasihat itu mengakui bahwa Allah-lah yang telah menyembuhkannya, raja murka dan menyiksanya hingga ia mengungkap keberadaan pemuda itu.
Pemuda itu pun ditangkap dan dihadapkan kepada raja. Namun, ia tetap teguh dan berkata,
"Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Allah-lah yang menyembuhkan."
Raja semakin marah dan menangkap rahib yang telah mengajarkan keimanan kepada pemuda itu.
Rahib tersebut dipaksa meninggalkan imannya, tetapi ia menolak.
Raja pun memerintahkan agar rahib dibunuh dengan cara digergaji hingga tubuhnya terbelah dua. Hal yang sama dilakukan terhadap penasihat raja yang telah beriman.
Giliran pemuda itu tiba. Karena tak kunjung berhasil membunuhnya, raja memerintahkan agar ia dilempar dari puncak gunung.
Namun, pemuda itu berdoa kepada Allah, dan seketika gunung berguncang hingga semua pengawal terjatuh dan mati.
Pemuda itu pun kembali dengan selamat ke hadapan raja.
Tak putus asa, raja memerintahkan agar ia dibawa ke tengah lautan dan dilempar ke dalamnya.
Namun, sekali lagi Allah menyelamatkannya dengan menenggelamkan para pengawal. Pemuda itu pun kembali menemui raja.
Akhirnya, pemuda itu berkata kepada raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali dengan cara yang aku katakan."
Ia meminta raja mengumpulkan seluruh rakyat, menyalibnya di hadapan mereka, lalu menembaknya dengan panah sambil mengucapkan, "Bismillah, Rabbil ghulam" (Dengan nama Allah, Tuhan si pemuda). Raja melakukannya, dan seketika pemuda itu wafat.
Namun, yang terjadi setelahnya justru di luar dugaan. Melihat kejadian itu, rakyat berseru, "Kami beriman kepada Rabb si pemuda!"
Keimanan mereka menyebar luas, dan inilah yang paling ditakuti oleh sang raja.
Dalam keputusasaan, raja memerintahkan agar parit besar digali dan dinyalakan api di dalamnya.
Siapa pun yang tetap beriman kepada Allah akan dilempar ke dalamnya.
Banyak yang gugur dalam kobaran api, termasuk seorang ibu yang ragu melangkah ke dalamnya karena menggendong bayinya. Namun, Allah memberikan keajaiban: bayinya berbicara dan berkata, "Wahai ibu, bersabarlah, karena engkau berada di atas kebenaran."
Allah mengabadikan kisah ini dalam Al-Qur’an, Surat Al-Buruj (85:1-10), sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang keteguhan iman dan pengorbanan.
Surat Al Buruj merupakan surat ke-85 dalam Al Quran yang terdiri dari 22 ayat. Surat ini termasuk golongan surat Makiiyah. ***

