POJOKSATU.id — Seorang pemuda sedang dalam perjalanan panjang yang melelahkan.

Setelah menempuh jarak yang jauh, ia memutuskan untuk berhenti di sebuah perkampungan untuk beristirahat dan mencari makanan.

Karena kelelahan, ia pun tertidur di bawah sebuah pohon, sementara kudanya yang kelaparan berkeliaran mencari makan.

Tanpa disadari, kuda itu masuk ke ladang seorang petani dan memakan tanaman yang tumbuh di sana.

Tak lama kemudian, sang petani kembali dan mendapati ladangnya hancur akibat ulah kuda asing itu.

Amarahnya meluap, dan tanpa berpikir panjang, ia membunuh kuda tersebut. Ketika pemuda itu terbangun, ia segera mencari kudanya.

Baca Juga: Kisah Wanita Alawiyah, KELAPARAN Cari Makanan untuk Anaknya, Jadi CAHAYA HIDAYAH bagi Seorang Pemimpin Majusi, Allah SWT Menyiapkan Istana di Surga

Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia menemukan bangkai kuda kesayangannya di ladang yang telah rusak.

Hatinya membara dengan amarah, ia pun mencari siapa yang telah membunuh kudanya.

Saat tiba di sebuah rumah terdekat, ia menuduh pemilik rumah sebagai pelaku.

Kemarahannya semakin memuncak, hingga akhirnya terjadi perkelahian sengit antara keduanya. Dalam pertarungan itu, petani tersebut tewas.

Kejadian ini segera menarik perhatian warga sekitar. Pemuda itu pun ditangkap dan dibawa menghadap khalifah untuk diadili sesuai hukum qisas: nyawa dibalas nyawa.

Khalifah memutuskan agar pemuda itu dipenjara selama satu malam sebelum menjalani hukuman pancung keesokan petang, tepat pukul lima.

Baca Juga: Kisah Seekor Unta DIKEJAR Pemilik Hendak Disembelih, Mengadu kepada Rasulullah, Tuannya Tidak Shalat Isya Jika Malam Hari

Dalam keadaan terdesak, pemuda itu memohon izin untuk pulang terlebih dahulu guna menyelesaikan suatu urusan penting dengan ibunya.

Namun, permohonannya ditolak. Ia terus bersikeras, meyakinkan bahwa dirinya pasti akan kembali tepat waktu untuk menerima hukuman.

Khalifah kemudian meminta pendapat dari keluarga korban. Anak petani yang terbunuh menolak dengan alasan bahwa pemuda itu mungkin saja melarikan diri dan tidak kembali untuk menjalani hukuman.

Tak ada seorang pun yang bersedia menjamin pemuda itu. Suasana sunyi dan tegang. Hingga akhirnya, seorang lelaki tua bangkit dan berkata,

"Aku akan menjadi penjaminnya. Biarkan dia pergi, jika ia tak kembali, aku yang akan menanggung hukumannya."

Orang tua itu bukan sembarang orang.

Ia adalah Abu Zar, seorang sahabat Rasulullah yang dikenal karena keteguhan imannya dan kebaikan hatinya.

Baca Juga: Kisah Nabi Yusuf yang Viral Jadi Lagu Balada Nabi Yusuf, Saudara Dengki dan Diuji Kesabaran, Begini Kisahnya, Memilih DIpenjara Karena Keimanan

Keputusannya mengejutkan semua orang.

Banyak yang menganggapnya nekat, bahkan bodoh, karena bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk seorang pemuda asing. Namun, Abu Zar tetap pada pendiriannya.

"Aku malu melihat tak seorang pun bersedia membantunya di saat ia sangat membutuhkan pertolongan," ujarnya.

Pemuda itu pun diizinkan pulang, sementara Abu Zar dijebloskan ke dalam penjara.

Waktu berlalu, dan tiba hari eksekusi. Orang-orang berbondong-bondong menuju istana khalifah untuk menyaksikan hukuman.

Mereka yakin bahwa Abu Zar akan dieksekusi karena pemuda itu tidak mungkin kembali. Detik-detik terakhir menjelang eksekusi semakin mencekam.

Matahari hampir tenggelam, namun pemuda itu belum juga tiba.

Baca Juga: Kisah dari Medan Perang Yarmuk, Percakapan Khalid bin Walid dan George, Jederal Romawi yang Berbalik Membela Islam

Saat jarum jam mendekati pukul lima, Abu Zar dibawa keluar dari penjara.

Semua orang mulai berbisik, menganggapnya akan menjadi korban akibat janji yang tak ditepati. Namun, di saat yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang mendekat dengan cepat.

Seorang pemuda yang berdebu dan kelelahan tampak bergegas memasuki halaman istana. Nafasnya tersengal, namun matanya penuh dengan keteguhan. Ia telah kembali.

Seluruh orang tertegun. Khalifah dan para hadirin menyaksikan dengan kagum bagaimana pemuda itu menepati janjinya, meskipun ia tahu bahwa kedatangannya berarti nyawanya akan berakhir.

Baca Juga: Kisah Sedekah Seorang Hamba, Keajaiban Hujan di Tengah Padang Pasir, Kebunnya Tumbuh Subur dan Panen Selalu Melimpah

Melihat kejujuran dan keberanian yang luar biasa, anak petani yang menjadi ahli waris korban pun akhirnya luluh hatinya.

Dengan air mata menetes, ia berkata, "Aku telah memutuskan untuk memaafkannya. Aku ikhlas atas kematian ayahku."

Tangis haru memenuhi ruangan. Hukuman qisas pun dibatalkan. Abu Zar tersenyum penuh ketenangan, sementara pemuda itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati dapat mengubah nasib seseorang dalam sekejap mata. ***