POJOKSATU.id — Naskah Bujangga Manik merupakan salah satu warisan sejarah yang mencerminkan budaya dan kehidupan masyarakat Sunda pada abad ke-15 hingga 16 M.

Naskah ini menjadi satu-satunya manuskrip Sunda Kuno yang masih tersimpan hingga kini dan berada di Bodleian Library, Oxford Inggris.

Keberadaan naskah ini di Inggris berawal dari seorang saudagar kaya asal Newport bernama Andrew James, yang membawanya ke Eropa dan menyerahkannya ke perpustakaan tersebut pada tahun 1627.

Meskipun diyakini berasal dari wilayah Ciwidey, Bandung Selatan, asal-usul pasti naskah ini masih menjadi perdebatan hingga kini.

Baca Juga: 5 Masjid Tertua di Indonesia yang Penuh Sejarah, Bukti Perkembangan Islam di Nusantara

Menyusun Sinopsis Naskah

Dalam perjalanannya, Naskah Bujangga Manik sempat mengalami pengelompokan keliru sebagai naskah Jawa.

Baru pada tahun 1968, Jacobus Noorduyn, seorang penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Sunda, menemukan kembali naskah ini ketika melakukan inventarisasi naskah Nusantara di Bodleian Library.

Noorduyn menyusun sinopsis naskah tersebut pada tahun 1982, lalu menerbitkan versi lengkapnya pada tahun 1998 dan 1999.

Tiga Pesona Sunda Kuna

Kemudian, pada tahun 2006, naskah ini kembali dipublikasikan dalam buku Three Old Sundanese Poems oleh J. Noorduyn dan A. Teeuw, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Tiga Pesona Sunda Kuna pada 2009.

Baca Juga: Mari Mengenal Lebih Jauh Wisata Sejarah di Kota Tua Jakarta

Naskah ini berisi catatan perjalanan seorang pangeran dari Kerajaan Sunda bernama Bujangga Manik yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Bali.

Kota Bogor, yang dalam naskah disebut sebagai Pakwan Pajajaran, mendapat perhatian khusus dalam catatan perjalanan tersebut.

Naskah ini menggambarkan berbagai aspek wilayah tersebut, mulai dari toponimi kuno, kehidupan sosial, adat istiadat, hingga lanskap alam dan arsitektur.

Dengan rincian yang sangat detail, naskah ini menjadi sumber penting dalam studi sejarah Jawa Barat, termasuk dalam penelitian Budimansyah (2019) yang berupaya merekonstruksi Kota Galuh Pakwan dan Pakwan Pajajaran.

Baca Juga: Inilah Fakta dan Cermin Sejarah RAJA JAWA, Ada Masa Dinasti AIRLANGGA Membagi Kerajaan, Pernah Terjadi Reformasi di Masa Ini

Perjalanan Bujangga Manik

Dalam catatan perjalanannya, Bujangga Manik menyebut bahwa ia pernah tinggal di daerah Pakancilan, tepatnya di lokasi yang disebut Umbul.

Wilayah ini diduga berada di sekitar kawasan Keraton Suradipati, mencakup Suryakencana, Batu Tulis, dan tepian Sungai Cipakancilan.

Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke selatan melewati daerah yang kini dikenal sebagai Tajur dan Gadog, sebelum mencapai Puncak dan Cisarua.

Ia juga mencatat keberadaan Bukit Ageung (Gunung Gede-Pangrango), yang ia sebut sebagai hulu wano di Pakwan atau puncak dari wilayah Pakwan.

Beberapa nama tempat yang disebutkan dalam naskah masih dapat diidentifikasi, seperti Sukabeureus (Gadog), Tajur Mandiri (Tajur), dan Puncak (Cisarua), meskipun ada beberapa yang tidak lagi dikenal dalam toponimi modern.

Baca Juga: Tiap Tahun Selalu Berubah, Cap Go Meh di Kota Bogor Dari Masa ke Masa, Dua Kali Arak-arakan Pernah Masuk Istana Bogor

Dalam perjalanan berikutnya, setelah berlayar dari Pamalang (Pemalang, Jawa Tengah) ke Kalapa (Jakarta), Bujangga Manik melanjutkan perjalanannya menuju Pakwan Pajajaran.

Ia menempuh jalur darat melewati wilayah yang kini sulit diidentifikasi, seperti Samprok dan Suka Kandang, sebelum akhirnya memasuki Pakwan melalui Ci Luwêr (Ciluar).

Dari sana, ia berjalan menuju Pakancilan, melalui jalur yang kini menjadi bagian dari Bogor Utara dan Tengah.

Gambarkan Tata Kota Pakwan Pajajaran

Naskah ini menegaskan bahwa Pakwan Pajajaran tidak hanya berperan sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan.

Kota ini memiliki sistem sosial yang teratur dan masih menjunjung tinggi adat serta nilai leluhur.

Selain itu, naskah ini juga mencerminkan keterhubungan Pakwan Pajajaran dengan dunia luar melalui keberagaman komoditas yang tersedia.

Bujangga Manik secara khusus menyoroti bagaimana elemen alam, seperti sungai, lapangan, dan gunung, menjadi bagian integral dari tata kota Pakwan Pajajaran.

Baca Juga: Kisah Kie Lin Bertahan di Awal Orde Baru, Setia Bersama Cap Go Meh, Satu-satunya di Indonesia Hanya Ada di Kota Bogor

Hal ini menggambarkan filosofi masyarakat Sunda yang erat dengan lingkungan alamnya. ***