POJOKSATU.id - Istilah Raja Jawa muncul sejak lama seolah gambaran raja dari segala raja yang ada di Nusantara. Persepsi ini muncul karena pulau Jawa memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara, sering kali disebut sebagai "Pusering Bumi" atau pusat bumi karena peradabannya yang maju dan kekuatan politiknya yang besar.
Dari zaman kuno hingga era modern, banyak kerajaan berdiri di Jawa, masing-masing dipimpin oleh raja-raja yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah kerajaan di Indonesia.
Salah satu kerajaan paling awal di Jawa adalah Kalingga, yang dipimpin oleh Maharani Shima pada abad ke-7. Setelahnya, muncul kerajaan Mataram Kuno, yang dibagi menjadi dua dinasti besar: Syailendra dan Sanjaya.
Dinasti Syailendra dikenal dengan kepemimpinan Sri Indrawarman dan Samaratungga, sementara dinasti Sanjaya memunculkan nama-nama seperti Rakai Pikatan dan Mpu Sindok, yang memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur.
Baca Juga: Demo Kawal Putusan MK Berakhir Ricuh, Polda Metro Jaya Sebut Proses Pengamanan Berjalan Lancar
Ada masa pemerintahan yang dipimpin Raja Airlangga di Kahuripan pada abad ke-11, juga menjadi titik penting dalam sejarah Jawa.
Setelah membangun kembali kerajaan dari reruntuhan Medang, Airlangga mengambil langkah dengan membagi kerajaannya menjadi dua, yaitu Janggala dan Kadiri.
Ini menjadi salah satu contoh peristiwa bagaimana dinasti Jawa beradaptasi dengan perubahan politik dan ekonomi di wilayah tersebut.
Memasuki era Kerajaan Singasari dan Majapahit, Jawa semakin menunjukkan kekuatannya. Ken Arok, yang memulai dinasti Singasari, dan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, menjadi simbol kebangkitan kekuasaan Jawa.
Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mencapai puncak kejayaannya, dengan wilayah kekuasaan yang meliputi hampir seluruh Nusantara.
Namun, sejarah Jawa tidak hanya tentang kekuasaan dan kemegahan. Pada akhir abad ke-19, Mangkunegara VI, penguasa Pura Kadipaten Mangkunegaraan di Solo, memilih untuk menjalani hidup sederhana meskipun memiliki kekuasaan dan kekayaan besar.
Ia melakukan reformasi besar-besaran yang mengubah tradisi feodal di kerajaannya, mengurangi anggaran bangsawan, dan menyederhanakan upacara kerajaan.
Mangkunegara VI menggunakan dana kerajaan untuk kepentingan rakyat, termasuk pendidikan dan hak-hak minoritas.
Namun, langkah-langkahnya tidak selalu diterima dengan baik, terutama oleh pejabat Belanda dan bangsawan yang merasa dirugikan.
Tekanan dari berbagai pihak akhirnya membuat Mangkunegara VI memilih mundur dan mengasingkan diri ke Surabaya, di mana ia meninggal pada tahun 1928.
Dari zaman kuno hingga era modern, kerajaan-kerajaan di Jawa dipimpin oleh raja-raja yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Indonesia. Berikut daftar Raja Jawa yang pernah ada.
1. Kalingga:
- Maharani Shima (674-732)
- Sudiwara
- Rakai Panangkaran
2. Mataram Kuno (Dinasti Syailendra):
- Sri Indrawarman/Bhanu (752-775)
- Wisnuwarman (775-782)
- Dharaindra (782-812)
- Samaratungga (812-833)
- Pramodhawardhani (833-856)
3. Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya):
- Sanjaya (732-7xx)
- Rakai Panangkaran
- Rakai Panunggalan
- Rakai Warak
- Rakai Garung
- Rakai Patapan (8xx-838)
- Rakai Pikatan (838-855)
- Rakai Kayuwangi (855-885)
- Dyah Tagwas (885)
- Rakai Panumwangan Dyah Dewendra (885-887)
- Rakai Gurunwangi Dyah Badra (887)
- Rakai Watuhumalang (894-898)
- Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910)
- Daksa (910-919)
- Tulodong (919-921)
- Dyah Wawa (924-928)
- Mpu Sindok (928-929)
4. Medang:
- Mpu Sindok (929-947)
- Sri Isyanatunggawijaya (947-9xx)
- Makutawangsawardhana (9xx-985)
- Dharmawangsa Teguh (985-1006)
5. Kahuripan:
- Airlangga (1019-1045)
6. Janggala:
- Mapanji Garasakan
- Alanjung Ahyes
- Samarotsaha
7. Kediri:
- Samarawijaya (1042-...)
- Linggajaya (1052)
- Jayawarsa (1104)
- Bameswara (1117-1130)
- Jayabhaya (1135-1159)
- Rakai Sirikan/Sarweswara (1159-1169)
- Sri Aryeswara (1169-1171)
- Sri Candra Gandra (1171-1182)
- Kameswara (1185)
- Kertajaya (1195-1222)
8. Singasari:
- Tunggul Ametung (1222)
- Ken Arok (1222-1227)
- Anusapati (1227-1248)
- Tohjaya (1248)
- Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248-1254)
- Kertanagara (1254-1292)
9. Majapahit:
- Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) (1293-1309)
- Jayanagara (1309-1328)
- Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)
- Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1350-1389)
- Wikramawardhana (1390-1428)
- Suhita (1429-1447)
- Dyah Kertawijaya (1447-1451)
- Rajasawardhana (1451-1453)
- Girishawardhana (1456-1466)
- Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466-1474)
- Girindrawardhana Dyah Wijayakarana (1468-1478)
- Singawardhana Dyah Wijayakusuma (menurut Pararaton menjadi Raja Majapahit selama 4 bulan sebelum wafat mendadak)
- Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhre Kertabumi (diduga kuat sebagai Brawijaya) (1474-1519)
10. Kesultanan Demak:
- Raden Patah (1478 - 1518)
- Pati Unus (1518 - 1521)
- Sultan Trenggono (1521 - 1546)
- Sunan Prawoto (1546 - 1561)
11. Kesultanan Pajang:
- Jaka Tingkir, bergelar Sultan Hadiwijoyo (1549 - 1582)
- Arya Pangiri, bergelar Sultan Ngawantipuro (1583 - 1586)
- Pangeran Benawa, bergelar Sultan Prabuwijoyo (1586 - 1587)
12. Mataram Baru (Mataram Islam):
- Ki Ageng Pamanahan
- Panembahan Senopati (Raden Sutawijaya) (1587 - 1601)
- Panembahan Hanyakrawati (Raden Mas Jolang) (1601 - 1613)
- Adipati Martapura (1613 selama satu hari)
- Sultan Agung (Raden Mas Rangsang/Prabu Hanyakrakusuma) (1613 - 1645)
- Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) (1645 - 1677)
13. Kasunanan Kartasura:
- Amangkurat II (1680 – 1702)
- Amangkurat III (1702 – 1705)
- Pakubuwono I (1705 – 1719)
- Amangkurat IV (1719 – 1726)
- Pakubuwono II (1726 – 1742)
14. Kasunanan Surakarta:
- Pakubuwono I (1704 - 1719)
- Pakubuwono II (1745 - 1749)
- Pakubuwono III (1749 - 1788)
- Pakubuwono IV (1788 - 1820)
- Pakubuwono V (1820 - 1823)
- Pakubuwono VI (1823 - 1830)
- Pakubuwono VII (1830 - 1858)
- Pakubuwono VIII (1859 - 1861)
- Pakubuwono IX (1861 - 1893)
- Pakubuwono X (1893 - 1939)
- Pakubuwono XI (1939 - 1944)
- Pakubuwono XII (1944 - 2004)
- Pakubuwono XIII (2004 - sekarang)
15. Kesultanan Yogyakarta:
- Hamengkubuwono I (1755 - 1792)
- Hamengkubuwono II (1793 - 1828)
- Hamengkubuwono III (1810 - 1814)
- Hamengkubuwono IV (1814 - 1822)
- Hamengkubuwono V (1822 - 1855)
- Hamengkubuwono VI (1855 - 1877)
- Hamengkubuwono VII (1877 - 1921)
- Hamengkubuwono VIII (1921 - 1939)
- Hamengkubuwono IX (1939 - 1988)
- Hamengkubuwono X (1988 - sekarang)
16. Praja Mangkunagaran di Surakarta:
- Mangkunagara I (Raden Mas Said) (1757 - 1795)
- Mangkunagara II (1796 - 1835)
- Mangkunagara III (1835 - 1853)
- Mangkunagara IV (1853 - 1881)
- Mangkunagara V (1881 - 1896)
- Mangkunagara VI (1896 - 1916)
- Mangkunagara VII (1916 - 1944)
- Mangkunagara VIII (1944 - 1987)
- Mangkunagara IX (1987 - sekarang)
17. Kadipaten Paku Alaman di Yogyakarta:
- Paku Alam I (1813 - 1829)
- Paku Alam II (1829 - 1858)
- Paku Alam III (1858 - 1864)
- Paku Alam IV (1864 - 1878)
- Paku Alam V (1878 - 1900)
- Paku Alam VI (1901 - 1902)
- Paku Alam VII (1903 - 1938)
- Paku Alam VIII (1938 - 1998)
- Paku Alam IX (1998 - sekarang)
Raja-raja Jawa, dengan segala kekuatan dan kebijaksanaan mereka, telah membentuk sejarah pulau ini dengan cara yang luar biasa.
Dari pembagian kekuasaan hingga reformasi sosial, jejak mereka tetap menjadi bagian integral dari kebudayaan dan identitas Indonesia.
Sejarah ini perlu terus diingat dan dipelajari, bahkan dapat menjadi cermin perjalanan bangsa dan warisan yang berharga bagi generasi mendatang. ***

