POJOKSATU.ID - Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di proklamirkan, ragam peristiwa genting pun terjadi. Salah satunya pada 13 Agustus 1945.

Saat itu, Soekarno, Mohammad Hatta dan KRT Radjiman Wedyoningrat kembali ke Indonesia dari Dalat Vietnam. Sehari sebelumnya, ketiganya pun bertemu dengan Panglima seluruh Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi.

Kala itu, Terauchi menjanjikan Kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Baca Juga: AHM Best Student 2024: Ajak Anak Muda Jawa Barat Berkarya untuk Negeri

Setelah pertemuan itu, ketiganya pun pulang ke Indonesia dengan situasi yang cukup beresiko. Pasalnya, pesawat yang mereka tumpangi berjenis pembom kuno berukuran kecil yang tidak memiliki tempat duduk di kabin pesawat.

Sementara itu, pada tanggal yang sama meski Jepang menutup-nutupi kekalahan mereka, namun Bandung menerima telegram terkait hal itu. Pesawat-pesawat penerima di Bandung tidak disegel sehingga informasi itu bisa tangkap oleh operator telepon dan telegrap PTT.

Jepang telah kalah melawan sekutu, namun saat itu Jepang berusaha menutupi kekalahanya dengan cara memperlambat penyebaran berita ke kawasan Asia.

Baca Juga: Suka Main Pecat Guru Honorer, Tujuh Guru Ini Demo Disdik Minta Kepala Sekolahnya yang Dipecat

Tentara Jepang dilucuti oleh tentara sekutu dan NICA (Netherland Indische Company Administration). Informasi penting itu akhirnya sampai juga ke telinga pemuda-pemuda di Jakarta. Hingga akhirnya mereka langsung mendesak proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda itu khawatir Indonesia kehilangan momentum dari kekalahan Jepang tersebut.

Maka mulailah para pemuda itu menyusun teks proklamasi di Asrama Prapatan Nomor 10 Jakarta. Asrama tersebut dikenal sebagai lokasi gerakan bawah tanah para pemuda.

Baca Juga: Alasan Memilih Burung Garuda Jadi Lambang Negara Indonesia, Hingga Bernama Garuda Pancasila, Baru Resmi Tahun 1950

Melalui perjuangan politik dan bersenjata akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia yang meliputi bekas jajahan Hindia-Belanda (kecuali Papua Barat/sebelum berubah nama menjadi Irian Barat), dengan catatan bahwa dalam setahun sejak penyerahan kedaulatan akan dibicarakan tentang penyerahan Papua Barat antar RI dan Belanda. ***